Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Angkringan tak selalu di Yogya

Angkringan tak selalu di Yogya Angkringan. ©2013 Merdeka.com/Destriyana

Merdeka.com - Ratno sedang sibuk melayani pembeli malam itu. Dengan cekatan dia menyiapkan piring-piring dan meletakkan bungkusan berisi nasi berukuran sekepalan tangan. Cukuplah buat mengusir rasa lapar bagi pemburu kuliner di malam hari.

Di gerobak Ratno tersedia puluhan bungkus nasi siap dijajakan. Model gerobaknya tak seperti pedagang makanan lain yang memiliki sekat. Milik Ratno terlihat lowong dengan empat tiang di keempat sudut. Di samping bungkusan nasi itu berjejer beragam lauk pauk menggoda selera. Sate usus, ati ampela, telur puyuh, telur gudeg, krecek, dan berbagai panganan lain.

Ratno menggelar lapaknya di depan sebuah toko, di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Di sisi kiri gerobaknya, dia menggelar empat meja panjang berjajar paralel, beralaskan tikar. Meski kendaraan lalu-lalang, para pembeli nampak asyik bercengkrama dengan rekan mereka, sekaligus menyantap makanan yang dijual Ratno.

"Nasi saja Rp 2.500 mas. Lauknya rata-rata Rp 1.000 sampai 3.000-an," kata Ratno kepada merdeka.com saat disambangi Kamis malam lalu.

Ratno sudah delapan tahun melakoni profesi berjualan nasi kucing atau angkringan itu. Pria asal Semarang itu mengaku terinspirasi melihat tayangan televisi soal kesuksesan beberapa pedagang angkringan.

"Saya dulu narik bajaj mas. Tapi penghasilan kok tidak mencukupi buat saya dan keluarga. Jadi saya mendingan jualan angkringan saja. Alhamdulillah laku. Banyak yang suka," ujar Ratno sembari mengisap rokok kretek.

Sambil ditemani segelas teh manis hangat, merdeka.com mencoba mengulik bagaimana Ratno bisa banting setir dari sopir bajaj menjadi pedagang angkringan. Ratno mengakui awal terjun ke bisnis kuliner kaki lima setelah bertandang ke sebuah lapak angkringan di daerah Warung Buncit, Jakarta Selatan.

"Awalnya saya juga enggak tahu lauk angkringan itu apa saja. Jadi terpaksa saya jajan angkringan dulu, terus saya catat apa saja lauk yang dijual. Dari situ saya bilang sama istri bisa enggak bikin lauk seperti itu. Dia jawab bisa. Ya sudah saya kumpulin modal buat bikin gerobak. Istri yang masak, saya juga ikut bantu," lanjut Ratno sembari melayani pesanan pembeli.

Ratno mengakui berjualan angkringan bisa mendapatkan pendapatan lebih baik, ketimbang jadi sopir bajaj. Menurut pria berusia 38 tahun itu, dagangan angkringan yang saban hari digelar pukul tujuh malam dan tutup dini hari itu selalu ludes terjual.

Selain makanan, Ratno dan istri dibantu dua kawannya dari kampung juga menjual minuman. Memang tidak aneh-aneh, minimal minuman ciri khas angkringan seperti wedang jahe dan susu jahe juga tersedia.

Ratno pun paham awal mula angkringan itu asalnya dari Yogyakarta. Meski begitu, meski dia berasal dari Semarang, toh yang penting berjualan angkringan tetap menjadi berkah.

"Memang asalnya angkringan kan dari Yogya ya mas. Tapi kan orang luar Yogya boleh jualan angkringan juga. Tapi ini rasanya sudah saya sesuaikan kok. Kalau ini sih mungkin angkringan Jakarta namanya. Hahahaha," tandas Ratno sembari tertawa lepas.

Jika dipikir, memang benar juga sih alasan Ratno. Toh para pembelinya tak pernah mempermasalahkan apakah si penjual angkringan asalnya dari Yogyakarta atau bukan. Yang penting jajanan Ratno bisa memenuhi hasrat lapar pemburu kuliner di malam hari. Tidak cuma itu, Angkringan Ratno pun membuka ruang interaksi sosial baru buat masyarakat kota yang rindu akan masakan kampung halaman. Mereka bisa ngobrol asyik, ditemani segelas wedang jahe racikan Ratno. Sungguh nikmat. (mdk/lia)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP