Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Angkat kisah 1965, film pelajar asal Rembang raih penghargaan

Angkat kisah 1965, film pelajar asal Rembang raih penghargaan Demo PKI di Tugu Tani. ©2016 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Dua film karya pelajar Purbalingga, Jawa Tengah mendapat penghargaan dalam Festival Film Purbalingga (FFP) 2016 di GOR Mahesa Jenar, Purbalingga, Sabtu (28/5) malam.

Dua film pelajar yang meraih penghargaan tersebut, yakni 'Izinkan Saya Menikahinya' yang merupakan film fiksi karya Raeza Raenaldy Sutrimo dan film dokumenter berjudul 'Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal!' karya Ilham Nafai. Dua karya tersebut, sama-sama mengangkat kisah berlatar peristiwa 1965.

Menurut juri film fiksi, film karya pelajar SMA Rembang tersebut menjadi referensi yang menarik di tengah isu rekonsiliasi nasional peristiwa 1965 yang kini menghangat.

"Film karya pelajar Purbalingga ini menambah teori baru seputar sejarah 65, terutama melihat referensi yang selama ini ada," ujar dosen Fakultas Ilmu Budaya Unsoed, Muhammad Taufiqurrohman.

Sementara itu, Raeza mengatakan, untuk membuat film tersebut membutuhkan perjuangan yang tidak mengenakan. "Senang tapi sedih juga, karena walau diakui sebagai ekstrakurikuler resmi di sekolah, tetapi tidak mendapat perhatian," ujarnya.

Senada dengan Raeza, Ilham bahkan mengaku sempat didatangi pihak Kodim Purbalingga karena membuat film dokumenter yang mengangkat kisah bekas anggota cakrabirawa.

"Dari awal sudah tidak didukung sekolah, karena (mereka) takut dengan konten film yang kami produksi. Pun akhirnya, hak kami untuk mendapat dana produksi tidak turun. Bahkan, setelah film jadi, kami sempat didatangi pihak Kodim Purbalingga," katanya.

Di bawah bendera Gerilya Pak Dirman Film, Ilham berhasil menyajikan film dokumenter tentang tiga orang bekas tentara cakrabirawa yang pada peristiwa 1965 ditugaskan atasannya untuk mendatangi salah satu rumah jenderal yang akan dibawa ke Lubang Buaya.

Sementara itu, film karya Raeza berkisah tentang asmara seorang tentara yang akan menikahi seorang bidan. Namun, karena kakek sang bidan seorang mantan tahanan politik (eks-tapol), akhirnya atasan sang tentara tak mengizinkan mereka menikah.

Sementara itu, Direktur FFP Bowo Leksono mengatakan, sempat ada sedikit persoalan dalam perjalanan FFP 2016 selama sebulan, yakni pembubaran pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta oleh organisasi massa.

"Ini merupakan awal, kami mengawal film-film pemenang FFP 2016 dan film-film lain ke pemutaran dan festival-festival di luar Purbalingga," ucapnya.

Sebelumnya dikabarkan, Jumat (27/5), pemutaran Film Pulau Buru Tanah Air Beta yang diputar dalam salah satu program di FFP 2016 sempat dibubarkan massa yang mengatasnamakan dirinya dalam Aliansi Pemuda Cinta Pancasila Purbalingga. Mereka datang melakukan pembubaran saat film tersebut diputar selama 10 menit.

Akibat aksi tersebut, sempat terjadi ketegangan. Namun hal tersebut bisa diantisipasi petugas kepolisian yang sudah berjaga. Meski begitu, massa yang menolak pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta mengaku belum pernah menonton film karya Rahung Nasution tersebut.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP