Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Andi Narogong mengaku pernah diajak Novanto bahas proyek e-KTP di Hotel Grand Melia

Andi Narogong mengaku pernah diajak Novanto bahas proyek e-KTP di Hotel Grand Melia Sidang Andi Narogong. ©2017 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Terdakwa korupsi proyek e-KTP, Andi Agustinus alias Andi Narogong menyebut Setya Novanto memiliki peran dalam pengadaan proyek e-KTP. Andi mengungkapkan, salah satu peran Setya Novanto mendukung penuh anggaran proyek e-KTP yang dirancang Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri.

Menurut Andi, ketua DPR itu bahkan pernah meminta melakukan pertemuan membahas proyek e-KTP di Hotel Grand Melia, Jakarta, pada Februari 2010 lalu. Pertemuan itu turut dihadiri Andi, DIrjen Dukcapil Kemendagri saat itu Irman, lalu Direktur Pengelolaan Informasi dan Administrasi Ditjen Dukcapil Kemendagri saat itu Sugiarto dan Sekjen Kemendagri saat itu Diah Anggraeni.

"Pak Nov yang tentukan karena dia ada acara setelahnya. Saya yang bayar. Kita booking ruang meeting di sebelah restoran Jepang," ujar Andi saat memberi kesaksian di persidangan dengan agenda mendengarkan kesaksian terdakwa, di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (30/11).

"Apa yang dibicarakan?" Tanya ketua majelis hakim Jhon Halasan Butarbutar kepada Andi.

"Bu Sekjen (Diah Anggreni) dan Pak Irman bilang ada proyek e-KTP tolong didukung, lalu Pak Nov bilang kami selaku partai pendukung pemerintah pasti akan kami dukung," ujar Andi.

Diakui Andi tidak ada pembahasan lebih detil dari Setya Novanto pada pertemuan tersebut. Hanya saja beberapa waktu kemudian, Andi mengaku dipanggil Irman dan disampaikan perkembangan proyek senilai Rp 5,9 triliun tersebut.

Keduanya pun menemui Setnov, sapaan akrab Setya Novanto, di ruang kerjanya lantai 12 gedung DPR. Saat itu, Setnov merupakan ketua fraksi Golkar. Setibanya di sana, Irman yang kini berstatus terdakwa atas kasus yang sama, menanyakan perkembangan proyek e-KTP di DPR ke Setnov.

Setnov menjawab pihaknya akan menindaklanjuti pembahasan tersebut.

"Di sana Pak Irman menanyakan perkembangan anggaran e-KTP, lalu kata Pak Nov bilang ya nanti kami tindak lanjuti," ujarnya.

Setelah pertemuan itu Andi mengaku dikenalkan dengan Johannes Richard Tanjaya oleh Irman. Saat itu, kata Irman, Johannes Tan merupakan pemegang kunci SIAK.

"Katanya siapa pun yang ikut harus koordinasi ke beliau (Johannes Richard Tanjaya) kalau mau dibukakan kuncinya," tukasnya.

Mengetahui hal tersebut, Andi mengaku langsung mengundang Johannes Tanjaya, Paulus Tannos, Johannes Marliem, dan Isnu Edhi ke ruko miliknya di Fatmawati, Jakarta Selatan. Tujuannya, untuk melakukan penjajakan diskusi teknis.

"Kami baru sebatas bicarakan apa yang bisa disiapkan terkait e-KTP berdasarkan apa yang sudah dibahas sebelumnya di uji petik," ujarnya.

Dikatakan oleh Andi, orang orang yang hadir ke ruko Fatmawati kemudian diperkenalkan ke Irman. Paulus Tannos dikenalkan sebagai orang dekat Gamawan Fauzi, mantan Mendagri. Paulus, ujar Andi, mengklaim sudah menyiapkan modal Rp 1 Triliun. Sementara Johannes Marliem diakui Andi merupakan pihak penyedia AFIS (Automated Fingerprint Identification System).

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP