Anak Indonesia rawan gizi di usia 1.000 hari
Merdeka.com - Periode 1.000 hari pertama dalam masa tumbuh kembang anak merupakan masa yang sangat cemerlang. Ini karena dalam periode tersebut terjadi proses pertumbuhan anak yang sangat cepat dan menentukan kualitas kehidupan pada masa mendatang.
Namun demikian, perhatian akan pentingnya periode ini belum banyak terjadi. Kesadaran akan dampak gagal tumbuh pada periode ini kurang mendapat tempat pada masyarakat.
"Gagal tumbuh pada periode 1.000 hari pertama kehidupan, selain akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik, juga akan menyebabkan gangguan metabolik dan dapat memicu munculnya penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes dan penyakit jantung koroner pada usia dewasa," ujar Wakil Menteri Kesehatan, Ali Ghufron Mukti.
Hal itu disampaikan Ali saat memberikan sambutan dalam diskusi bertajuk 'Penuhi Kebutuhan Gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan' di Gedung Kemenkes, Jl Rasuna Said, Jakarta, Selasa (14/8).
Ali menambahkan, angka kurang gizi pada anak balita masih berada pada kisaran 17,9 persen. Angka tersebut melebihi ketentuan yang menjadi target dalam Millenium Development Goals (MDGs).
"Untuk mencapai target sasaran MDGs pada 2015 harus diturunkan menjadi 15,5 persen," terang Ali.
Ali menerangkan, angka tersebut masih terjadi pada beberapa provinsi di Indonesia. "Beberapa provinsi yang memiliki angka kurang gizi yang masih tinggi yaitu NTB, NTT dan Kalimantan Barat," katanya.
Untuk itu, Ali berharap, keberadaan angka kurang gizi ini dapat ditekan sesuai target yang ditetapkan MDGs. "Permasalahan gizi harus diselesaikan secara lintas sektor. Semua sumberdaya harus dimobilisasi untuk mewujudkan perbaikan gizi yang signifikan," pungkasnya. (mdk/did)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya