Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ali Imron dan Umar Patek ngaku bisa buat bom dari air kencing

Ali Imron dan Umar Patek ngaku bisa buat bom dari air kencing Umar Patek dan Jumu Tuani. ©2016 merdeka.com/darmadi sasongko

Merdeka.com - Saat bergabung dengan mujahidin di Afganistan, Ali Imron mendapat pelatihan tentang pelbagai jenis bahan peledak. Aneka sistem persenjataan dipelajarinya, dari senjata sekecil bolpoin sampai bom kimia dipelajarinya.

Ali Imron mengaku memiliki kemampuan untuk mengemudikan berbagai kendaraan perang dan mengoperasikannya.

"Jadi kalau saya ketemu tank saya bisa membawanya, kecuali pesawat terbang saya tidak bisa, karena tidak ada pelatihannya. Aneka bom sampai bom kimia juga bisa," kata Ali Imron di Hotel Savana Malang, Jawa Timur, Senin (25/4).

Dengan nada bergurau, Imron membuat perumpamaan orang Jepang yang melihat pembuatan kue onde-onde yang rumit cara menempelkan wijennya. Tetapi dengan teknik dan proses tertentu banyak yang bisa dilakukan unruk membuat sebuah bom.

Umar menantang orang-orang yang selama ini menuduh kalau bom Bali buatan orang lain yang hanya diledakkan pelakunya. Padahal, dirinya yang membuat, memasang detonator hingga membawa ke lokasi.

Ali Imron mengaku bisa membuat bom tanpa diberi bekal apapun, dengan risiko membutuhkan proses dan waktu lama. Lewat air kencing bisa dibuat bom.

"Air kencing bisa dijadikan bom, dan itu diajarkan," katanya.

Sementara, Umar Patek mengaku pada tahun 1991 berangkat ke Paskistan dan belajar di akademi militer. Selama 3 tahun menjalani pendidikan dasar tentang senjata.

Umar kemudian di-upgrade untuk ilmu spesialis artelirari, penembakan, pelempar mortal. Cuma yang dulu sudah berbeda dengan sekarang.

"Saya kemudian juga di-upgrade lagi untuk urusan ekplosif. Dari ramuan-ramuan sederhana sampai rumit. Tidak ada bahan kimia, kami kalau mau mampu bisa buat dari air kencing dan tanah," urainya.

Pada 1995, Umar Patek berangkat ke Filipina. Ia sama sekali tidak memasukkan Indonesia sebagai negara tujuan jihad.

"Indonesia tidak termasuk negara yang harus diperangi. Jihad, yang saya pelajari, itu mempertahankan negeri muslim, contoh Palestina yang diserang orang Israel, datang ke sana. Indonesia tidak termasuk itu," katanya.

Pemerintah Indonesia tidak pernah melarang, tidak pernah menghancurkan masjid. Contoh, Abu Bakar Basyir dianggap melakukan kesalahan, cukup oknumnya yang dihukum. Berbeda dengan negara-negara Islam yang diperangi.

(mdk/did)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP