Ahli kubu Jessica 'diskak' jaksa soal perilaku di Kafe Olivier
Merdeka.com - Tim penasihat hukum terdakwa Jessica Kumala Wongso kembali menghadirkan ahli psikologi dari Universitas Pancasila. Agus Mauludi dihadirkan kubu Jessica untuk bersaksi agar bisa meringankan atau bahkan mematahkan keterangan para saksi Jaksa Penuntut Umum (JPU).
Dalam kesaksiannya, Agus banyak membahas teori-teori keilmuan. Pada sidang ke-22 itu, Agus selalu menekankan keterangannya berdasarkan pada studi dan data statistik sebelum menyimpulkan. Sayangnya, saat ditanya jaksa Agus tak langsung menjawab pertanyaan Jaksa Hari Wibowo.
Hal itu dimulai saat jaksa menanyakan konsep behaviour yang sebelumnya dibahas oleh Agus dan salah satu tim penasihat hukum terdakwa Jessica Yudi. "Baik, tadi ahli menjelaskan soal behaviour. Bisa ahli jelaskan, apakah menunggu itu sebuah behaviour?" tanya jaksa.
Agus pun menjawab bahwa behaviour yang dimaksudkan memiliki banyak jenisnya. Kemudian jaksa pun kembali bertanya tentang salah satu jenis dari behaviour.
"Baik. Pertanyaan selanjutnya, apakah dalam menentukan common behaviour, harus pakai data statistik?," tanya jaksa lagi.
"Ada yang tidak perlu pakai statistik, contohnya culture atau budaya. Contohnya dalam budaya kita, anak laki pakai celana, bukan pakai rok," jawab Agus.
"Apakah common behaviour harus selalu jadi culture?," jaksa kembali bertanya.
"Biasanya culture, karena dalam culture, sudah ada struktur. Kalau ada hal di luar culture, ada yang mengontrol," jelas Agus.
Kemudian Agus pun kembali bertanya tentang studi kasus yang serupa dengan peristiwa serupa dengan kasus yang tengah disidangkan.
"Baik. Sekarang pertanyaannya, kalau biasanya kita undang kolega makan di restoran, bahwa di restoran itu sistemnya setelah selesai semua baru bayar. Lazim yang mana, antara menunggu koleganya datang dulu, atau justru beliin makanannya dulu?," tanya jaksa.
"Saya sejujurnya, kalau saya lagi lapar, dan sudah ada teman di restoran, saya minta dipesankan dulu," kata Agus.
"Saya pertajam lagi pertanyaannya, ketika menjamu kaitannya dengan makan malam, bagaimana itu?," jaksa mulai mencecar.
"Kalau Bapak mau bilang itu common behaviour, ada kok orang yang bayarin dulu, ditutup dulu lah biar nanti enggak nambah-nambah pesanan lagi," jawab Agus.
"Baik, bagaimana dengan menunggu dalam waktu lama, misalnya satu jam, apakah itu tidak jadi sebuah kejanggalan?," cecar jaksa.
"Bapak tanya saya sebagai pribadi, atau bagaimana? Intinya, kalau mau tahu, harus ada studi dulu. Tapi, kalau Bapak tanya saya sebagai pribadi. Saya boleh enggak jawab, kan?," kata Agus setelah beberapa saat terdiam.
Saat jaksa yang lain bertanya tentang Jessica yang memilih close bill saat memesan beberapa minuman di Kafe Olivier. Jaksa Sandhy Handika yang bertanya kala itu ingin tahu apakah perilaku Jessica dianggap wajar atau tidak.
Namun seperti sebelumnya, Agus terdiam dan menjawab pertanyaan Jaksa tak jelas. Agus malah menjelaskan soal culture bias, di mana kebiasaan seseorang di suatu tempat berbeda dengan tempat lain.
(mdk/eko)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya