Ahli Ingatkan Kebutuhan Vaksin Non-Covid-19 Anak Harus Tetap Dipenuhi
Merdeka.com - Dokter spesialis anak, Profesor Soedjatmiko menyarankan agar anak-anak menjalani vaksinasi Covid-19 dan non-Covid-19. Namun pelaksanaannya dianjurkan tidak dilakukan secara bersamaan.
"Jadi memang sebaiknya dipisah. Kalau misalnya ada keluhan (efek samping), kita tahu ini karena vaksin covid misalnya atau vaksin campak rubela atau DPT atau yang lainnya," ucap Soedjatmiko dalam webinar, Sabtu (4/9).
Dia mengatakan, jika kondisi anak terlebih dahulu mendapat vaksin non-Covid-19, maka jarak untuk mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 dosis pertama yaitu satu bulan.
"Sekarang vaksin DPT-nya dulu atau rubelanya atau influenza, tapi jaraknya 1 bulan (untuk mendapatkan suntikan vaksin Covid-19)," tuturnya.
Sementara itu, anak yang merupakan penyintas Covid baru dapat disuntik vaksin Covid setelah tiga bulan.
Guru Besar FKUI sekaligus anggota Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) itu juga menegaskan anak dapat menerima vaksin Covid-19 kendati memiliki komorbid, dengan syarat komorbid dalam kondisi stabil.
"Komorbid yang stabil itu boleh," tandasnya.
"Sindrom Down, thalassemia tapi dia tidak ada demam batuk pilek, ada kelainan jantung tapi tidak sesak, dia minum obat teratur, boleh (divaksin covid)," jelasnya.
Dia pun mengingatkan para orang tua agar tidak perlu khawatir berlebih dengan efek samping vaksin covid terhadap anak-anak. Jika anak-anak belum mendapatkan vaksin karena belum mencapai usia yang diizinkan mendapatkan vaksin Covid-19, tugas utama para orang tua adalah memastikan anak menjalankan protokol kesehatan, khususnya mengenakan masker dengan benar.
(mdk/yan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya