Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Aher sarankan warga manfaatkan lahan kosong untuk menanam cabai

Aher sarankan warga manfaatkan lahan kosong untuk menanam cabai Aher tanam bibit cabai di Lembang. ©2017 Merdeka.com/andrian salam wiyono

Merdeka.com - Harga cabai rawit belum juga turun. Beberapa ‎pasar di Kota Bandung masih menjual bumbu masakan tersebut di atas Rp 100 ribu. Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengaku, gejolak kenaikan tersebut terjadi di hampir seluruh daerah di Indonesia.‎

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengaku tidak bisa mengintervensi langsung harga cabai yang melebihi harga daging.

"Kalau beras ada gejolak, Bulog langsung suplai. Kalau cabai enggak bisa karena enggak ada di Bulog," kata pria yang akrab disapa Aher ini usai menggelar kegiatan penanaman bibit cabai di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (10/1).

Sehingga gerakan sosial harus digalakkan, salah satunya ‎agar warga bisa memanfaatkan lahan rumahnya untuk menanam cabai guna kebutuhan rumah tangga. Hal tersebut dinilainya dapat menekan harga cabai yang kerap mengalami lonjakan.

"Kita intinya akan atasi dengan gerakan sosial dan masyarakat. Sekarang gelorakan semangat dan hadirkan warung hidup dan apotek hidup," imbuhnya. Warung hidup dinilai akan memenuhi kebutuhan hidup masing-masing karena bisa menghasilkan produksi di tingkat rumah tangga.

Selain itu Aher juga mendorong petani untuk memperbanyak area tanam serta memilih bibit cabai dan bertanam dengan cara yang berkualitas. Sehingga ketika cuaca buruk bisa bertahan.

"Cara kita selain memperluas lahan juga menghindari hama patex, cara penghindarannya harus alami. Selain dengan hadirnya panas, yaitu kita menggunakan pupuk organik jadi tahan terhadap patex," ujarnya.

Pemprov pun berencana akan memberikan bibit cabai kepada masyarakat Jawa Barat. Diharapkan dengan demikian dapat menjadi solusi jangka panjang agar tidak terjadi lonjakan tinggi atas harga cabai.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Holtikultura Hendy Jatnika mengatakan, melonjaknya harga cabai rawit di hampir seluruh wilayah di Indonesia dikarenakan pasokannya yang berkurang akibat cuaca. Meski demikian, pasokan cabai rawit untuk Jawa Barat masih terbilang cukup untuk beberapa bulan ke depan.

"Kalau dari segi pasokan kita tidak terlalu bermasalah. Malah pasokan kita ke Jakarta dan daerah lain juga kan," terangnya di tempat sama.

Hendy menyebutkan areal tanam untuk produksi hingga Maret mendatang masih mencukupi kebutuhan. Sejak Oktober 2016 lalu, petani di Jawa Barat telah menanam hingga 1.800-an hektare.

Pada Oktober, areal lahan cabai rawit di Jawa Barat mencapai 1.126 hektare. Sementara November dan Desember masing-masing 620 hektare dan 115 hektare.

Jumlah ini dikatakannya dapat menghasilkan kebutuhan masyarakat hingga Maret. Hendy memprediksi panen Januari mencapai 12.515 ton, Februari 803 ton serta Maret 12.393 ton.

"Melihat pola konsumsi cabai masyarakat Jawa Barat perkapita pertahun 101,26 kilogram. Dikali jumlah penduduk Jawa Barat yang mencapai 46 juta maka jumlah itu akan masih menutupi," tuturnya.

Melihat produksi pada tahun 2016, ia menyebut memang ada penurunan. Selama 2016 tercatat produksi cabai rawit mencapai 108.895 ton dari 7648 hektare areal lahan. Sementara pada 2015 mencapai 112.634 ton dari 10.131 hektare lahan di seluruh Jawa Barat. (mdk/cob)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP