Ada penembakan usai Pilkada, Gubernur akui Aceh daerah rawan konflik
Merdeka.com - Gubernur Daerah Istimewa Aceh Zaini Abdullah melaporkan situasi terkini di daerahnya pasca Pilkada 15 Februari lalu ke Menko Polhukam Wiranto. Zaini mengatakan Aceh memang merupakan daerah yang rawan terjadi konflik dalam Pilkada.
"Kita melaporkan kondisi terkini di Aceh, di Aceh ini kan diprediksi akan terjadi sesuatu dan masalah berlangsungnya Pilkada," kata Zaini usai bertemu Wiranto di Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (23/2).
Pilkada Aceh memang menjadi sorotan usai peristiwa penembakan yang terjadi di Aceh Timur. Detasemen Khusus (Densus) 88 antiteror Polri bersama dengan petugas Polda Aceh menangkap dua pelaku penembakan di Aceh Timur. GS (31) alias A dan MJ (30) ditangkap di tempat dan waktu yang berbeda.
Sebelumnya, GS warga Aceh Timur ditangkap Minggu, pukul 14.00 WIB di Kota Langsa dan MJ ditangkap pukul 16.00 WIB di Aceh Tamiyang.
Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar di Kompleks Mabes Polri mengatakan, dalam pemeriksaan diketahui bila GS merupakan salah satu tim sukses sebuah partai yang ada di Aceh. GS melakukan penembakan karena kecewa dengan hasil pemilu.
"Karena hasil pemilu kalah dan kemudian korban diketahui merupakan timses dari salah satu pasangan calon yang ikut kontes Pilkada di sana. (Korban) merupakan timses calon Bupati Aceh Timur," ujar dia.
Boy menambahkan, kedua tersangka mengakui masih ada satu pihak lain yang ikut terlibat dalam penembakan tersebut. Bahkan, A alias C merupakan dalang atau otak yang memerintahkan kedua pelaku untuk menembak Jusman dan Wisnu. "A alias C ini masih buron. Kami sedang memburunya," ucap Boy.
Mantan Kapolda Banten ini menerangkan tersangka menembak korban dengan senjata laras panjang tipe M-16. Sampai saat ini, senjata yang digunakan untuk menembak masih berada di tangan A alias C. (mdk/eko)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya