5 Imigran Afganistan terseret air laut pasang, dua hilang
Merdeka.com - Lima imigran asal Afganistan di Makassar jadi korban air laut pasang saat berada di Pantai Layar Putih, Kelurahan Tanjung Merdeka, Kecamatan Tamalate, Senin dini hari, (14/11). Tiga selamat, dua di antaranya hilang.
Dua imigran yang hilang itu bernama Mohsen Mohammadi (20) dan Mujtaba Husain (20). Adapun yang selamat Zakir Husain (21), Abdullah Jafari (20) dan Hasan Muhammad (24). Kelimanya adalah penghuni penampungan imigran di Wisma Mustika, Jl Andi Mappaoddang, Makassar.
Fahem (23), juga salah seorang imigran penghuni wisma, mahir berkomunikasi Bahasa Indonesia, sengaja datang ke lokasi kejadian untuk membantu sebagai translater, nampak lemas. Dia mengaku shock dengan kejadian yang dialami teman-temannya. Dia hanya bicara singkat.
"Saya dan teman-teman di Makassar baru sekitar satu tahun, sebelumnya tidak pernah ke pantai ini," kata Fahem.
Saat ini sekira 20 personel tim SAR gabungan masih melakukan pencarian sejak pagi tadi. Mereka dari Basarnas Makassar, didukung SAR Unhas, SAR UNM, SAR Unibos, SAR Antariksa dan Rescue Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Makassar, juga BPBD Makassar. Aparat kepolisian juga sudah di lokasi kejadian.
Kapolsek Tamalate Kompol Amrin AT menjelaskan, lima imigran ini tiba di pantai pukul 01.00 wita dini hari saat para penjaga pantai sudah tidur. Pengakuan korban yang selamat mengatakan, mereka duduk-duduk menikmati minuman keras. Setelah itu pukul 04.00 wita, mereka mulai turun ke laut mandi-mandi.
"Mereka berlima turun berenang. Awalnya air laut hanya sebatas dada tapi tiba-tiba air pasang. Di antaranya ada yang teriak untuk menepi hingga tiga di antaranya berhasil naik ke pantai sementara dua lainnya yang sedikit jauh berenang dari bibir pantai sudah menghilang, tidak terlihat lagi setelah tiga lainnya itu berhasil menepi," kata Kapolsek Tamalate, Kompol Amrin AT.
Setelah itu mereka langsung ke pondok penjaga pantai, membangunkannya dan menyampaikan rekannya tenggelam dengan bahasa isyarat. Hal itu kemudian dilaporkan ke polisi pukul 06.10 wita. Kemudian berkoordinasi dengan Basarnas.
Kata Kompol Amrin, di pantai ini memang tergolong berbahaya karena arusnya kuat. Lantaran pertemuan air muara Sungai Jeneberang dengan laut. Jadi ada pusaran.
"Kita sudah sampaikan ke ketua RW untuk memasang tanda bahaya seperti kain merah bergambar tengkorak jadi orang bisa pahami sebagai peringatan," kata Kompol Amrin AT.
Adapun Komandan Tim pencarian dari Basarnas Makassar, Darul Astiyadi mengatakan, mereka mulai lakukan pencarian sejak pukul 09.00 wita tadi. Enam penyelam sudah diturunkan bergantian.
"Kita menyusuri radius 200 meter dulu dari lokasi kejadian. Dan hingga kini hasilnya masih nihil," kata Darul Astiyadi.
(mdk/tyo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya