224 Wisatawan Tertahan di Karimunjawa, Menpar Arief Semprot Lion Air
Merdeka.com - Menteri Pariwisata Arief Yahya menyayangkan sikap maskapai penerbangan, lantaran dinilai tidak memperhatikan layanan penerbangan terhadap 224 wisatawan yang tertahan di Pulau Karimunjawa, Jepara akibat cuaca buruk.
"Tahu ada wisatawan tidak bisa pulang dua hari akibat cuaca laut buruk, justru tidak ada ekstra additional flight. Harusnya sigap dalam melihat permasalahan itu, tanpa melihat situasi krusial," kata Arief Yahya usai dialog bersama pegiat wisata di Kompleks Maerokoco, Semarang, Jumat (4/1).
Dia menyebut, sudah mendengar kabar wisatawan yang tertahan akibat tidak bisa menyeberang laut beberapa hari lalu. Dia menyayangkan sikap salah satu penerbangan dari Semarang-Karimunjawa yang tak sigap dalam melihat permasalahan tersebut.
"Soal Karimunjawa, Pak Urip (Kepala Disporapar Jateng) sudah melapor ke saya. Sebenarnya tidak harus seperti itu. Saya sebut saja, terutama Lion Air pada saat musim liburan tidak usah diminta, ya mohonlah ditambahkan additional flight," ujarnya.
Menurutnya, layanan penerbangan harus bisa jadi alternatif bagi masyarakat bila cuaca buruk melanda sebuah perairan laut. Seperti kejadian wisatawan di Karimunjawa, maskapai penerbangan dalam hal ini Lion Air wajib memberikan layanan optimal.
"Layanan itu kan sudah ada dan, kenapa kok tidak dilakukan saat wisatawan tidak bisa menyeberang akibat ombaknya tinggi. Ini sangat disayangkan sekali," jelasnya.
Terkait untuk meningkatkan wisata selama 2019, Jawa Tengah harus mampu menyumbang kontribusi 10 persen dari target pertumbuhan wisatawan secara nasional mencapai 20 juta jiwa.
"Dengan target sebesar itu, 2 juta wisatawan bisa masuk ke Jawa Tengah. Tak cuma itu, ia juga memperkirakan sumbangan devisa yang dapat diraih dari target pertumbuhan wisatawan pada 2019 mencapai Rp 20 miliar. Sedangkan 2018 berikan capaian devisa bisa Rp 17 miliar, harus meningkat dari tahun sebelumnya," kata Arief Yahya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari Lion Air terkait peristiwa tersebut.
Sebelumnya diberitakan, gelombang tinggi yang terjadi di perairan Karimunjawa membuat ratusan wisatawan tertahan di pulau yang berada di Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Meski tersedia transportasi udara, mereka ternyata memilih menunggu pengoperasian kembali kapal penyeberangan laut.
"Kami belum mengetahui pasti alasannya, namun mayoritas wisatawan memilih menunggu kapal penyeberangan beroperasi kembali," kata Sekretaris Camat Karimunjawa, Jateng, Nor Soleh di Jepara, Kamis (3/1), dilansir Antara.
Untuk naik pesawat, kata dia, setiap wisatawan harus menyiapkan dana sekitar Rp 400 ribu, sedangkan tiket kapal penumpang berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 175 ribu.
Selain faktor harga tiket, kata dia, wisatawan juga mempertimbangkan keberadaan kendaraan mereka yang masih berada di Pelabuhan Jepara. Ketika naik pesawat ke Semarang, mereka harus kembali naik angkutan darat menuju Jepara.
Sejauh ini, lanjut dia, tidak ada permasalahan dengan kondisi wisatawan yang masih bertahan di Karimunjawa. "Kalaupun ada yang meminta potongan tarif penginapan, tentunya menjadi keputusan pemilik penginapan," ujarnya.
Hingga hari ini, kata dia, gelombang laut di Karimunjawa masih tinggi, bahkan cuacanya lebih buruk dibandingkan sebelumnya. Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Karimunjawa Polres Jepara Iptu Suranto mengungkapkan jumlah wisatawan yang masih bertahan di pulau itu mencapai 366 orang.
Jumlah wisatawan tersebut, kata dia, berdasarkan pendataan pada 31 Desember 2018 hingga 1 Januari 2019. Polisi mencatat sudah 122 wisatawan yang pulang naik pesawat Wings Air hingga 2 Januari 2019.
"Pesawat Wings Air beroperasi setiap hari dengan kapasitas penumpang 60 orang," ujarnya sembari menjelaskan 20 penumpang di antaranya pulang dengan pesawat kemarin.
Tidak beroperasinya kapal penyeberangan disebabkan gelombang laut setempat yang masih tinggi mencapai 2,5 meter, sehingga tidak aman untuk aktivitas pelayaran di sekitar Karimunjawa.
Berdasarkan keterangan Syahbandar Jepara, gelombang tinggi terjadi sejak Senin, 31 Desember 2018. Larangan beroperasinya kapal penumpang diterbitkan demi keselamatan.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya