1 Mahasiswa Untirta Meninggal Setelah Ikut Diklat Pencinta Alam
Merdeka.com - Seorang mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) bernama Fadli Abdi Sudrajat meninggal dunia. Fadli meninggal seusai mengikuti kegiatan pendidikan dan latihan (Diklat) Mahasiswa Pecinta Alam Untirta (Mapalaut).
Berdasarkan informasi dihimpun, kondisi tubuh Fadli penuh memar dan kaki terluka. Namun pihak keluarga tidak melakukan visum terhadap jenazah korban, sehingga penyebab kematian belum dapat diketahui.
Kakak korban, Iqra Ar Raffi Sudrajat mengungkapkan mengetahui kondisi Fadli berdasarkan keterangan dari teman dan panitia Diklat. Selama mengikuti Diklat, tidak ada komunikasi dilakukan antara Fadli dengan keluarga, hingga mendapat kabar duka tersebut.
"Adik saya juga tidak bisa melakukan komunikasi, karena mungkin handphone-nya diambil. Saya pun diberitahukan oleh panitia ketika adik saya sudah masuk ke ruang jenazah," ujar Iqra kepada awak media.
Iqra mengatakan, pihak keluarga kecewa karena tidak ada pemberitahuan ketika Fadli drop saat mengikuti Diklat.
"Yang disayangkan itu ketika kondisi adik saya sudah drop, saya tidak dikabarkan. Padahal di hari pertama itu ada pemberitahuan dari pihak panitia. Namun dari situ sudah tidak ada kabar-kabar lagi," ujar dia.
Kondisi Korban Menurun
Berdasarkan keterangan dari pihak panitia, Iqra menuturkan, kondisi adiknya sudah tidak sanggup meneruskan kegiatan Diklat, saat sedang melakukan longmarch pada awal pelaksanaan.
"Adik saya sudah menyatakan kalau tidak kuat dan minta mundur. Pihak panitia pun sudah mempersilakan. Tapi adik saya mungkin bimbang, karena pihak Mapala menyatakan bahwa mereka tidak akan mengantar. Tapi pulang sendiri. Jadi mau tidak mau adik saya ikut," kata Iqra.
Pada Sabtu lalu, kondisi Fadli semakin memburuk hingga harus ditandu. "Pada hari Minggu itu acara sudah selesai. Yang lain sudah turun. Berhubung adik saya kondisinya seperti itu, jadi agak lama turunnya. Sampai ke bawah itu hari Senin pagi, subuh," kata Iqra.
Iqra mengungkapkan, usai Diklat Fadli meminta agar diantarkan ke indekos temannya. Menurut keterangan temannya, Fadli saat tiba di indekos sudah dalam keadaan pucat dan kemungkinan dehidrasi. Bahkan, kondisinya semakin buruk hingga membuat Fadli linglung.
"Keterangan dari teman kosannya itu kondisinya sudah pucat. Sering minta minum, kemungkinan dehidrasi dan hanya rebahan. Lalu muncul kejanggalan. Adik saya itu mulai enggak sadar dan agak linglung, tidak kenal dengan temannya," ujarnya.
Melihat kondisi Fadli tersebut, teman indekos adiknya itu langsung melapor kepada senior Mapalaut yang mengantarkan Fadli. Fadli sempat dibawa ke klinik Untirta, namun ternyata tidak ada dokter yang sedang bertugas.
"Lalu minta rujukan ke RSDP. Saat diantar menggunakan ambulans, kondisinya sudah tidak sadarkan diri dan dinyatakan meninggal saat di RSDP. Kami pun bertanya kepada pihak rumah sakit penyebabnya (kematian). Cuma dari pihak rumah sakit tidak bisa memberitahukan, tidak mau menduga-duga karena memang posisinya itu adik saya sudah meninggal pada saat dibawa ke rumah sakit," kata dia.
Iqra mengatakan pihak keluarga ingin melakukan autopsi atas kondisi Fadli, namun hal tersebut diurungkan dengan berbagai pertimbangan. "Awalnya ada rencana, karena kami juga ingin tahu sebenarnya kejadian itu seperti apa. Penyebabnya seperti apa. Cuma kami juga merasa kasihan dengan almarhum, karena sudah menunggu cukup lama," ujarnya.
Penjelasan Kampus
Terpisah, Wakil Rektor III Untirta, Suherna menyatakan bahwa sejak awal, pihak rektorat Untirta telah melarang segala bentuk kegiatan kemahasiswaan secara luring atau tatap muka, termasuk Diklat Mapalaut.
"Atas nama institusi, kami berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya alm. Fadli. Semoga diterima segala amal ibadahnya dan semoga pihak keluarga dikuatkan atas kejadian ini," ujar Suherna, dalam keterangan tertulis yang diterima.
Dia menambahkan bahwa meninggalnya salah satu mahasiswa Untirta yang mengikuti Diklat UKM Mapalaut merupakan pelajaran yang sangat berharga di tengah Pandemi Covid 19 saat ini.
"Pihak Untirta bagian kemahasiswaan beserta UKM Mapalaut telah mendatangi pihak keluarga dan berusaha menyelesaikan secara kekeluargaan," ujar dia.
Menanggapi isu yang berkembang mengenai adanya unsur kekerasan yang diterima oleh para peserta Diklat Mapalaut, Suherna menegaskan bahwa tidak ditemukan adanya unsur kekerasan dalam kejadian ini.
"Kami mengimbau agar semua pihak dapat menjaga kondusivitas dan secara internal, kami akan menggunakan kewenangan yang kami miliki untuk menyelesaikan persoalan ini sehingga kejadian seperti ini tidak terulang kembali," tandasnya.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya