Sosok Bapak Batik Indonesia Versi Pengusaha UMKM
Merdeka.com - Pandemi Covid-19 membuat industri batik merosot tajam. Penjualan batik jatuh hingga 75 persen dan tak sedikit pengusaha kerajinan ini gulung tikar.
Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) mencatat, ada 113.742 perajin batik hilang selama pandemi. Mereka beralih profesi menjadi nelayan hingga buruh tani karena lesunya penjualan batik.
Pengusaha batik dan butik Rolupat, Henny Christiningsih menyebut, batik kini perlahan mulai bangkit. Dia merasakan, penjualan batik mulai membaik pasca pandemi.
Henny menilai, kebangkitan batik tak terlepas dari peran Presiden Jokowi. "Batik sebelum pak Jokowi kan sempat drop, orang pada tidak mau. Tapi meningkat setelah Jokowi mendorong lagi," ujarnya saat ditemui di Jakarta, ditulis Jumat (30/6).
Henny, yang membawahi beberapa pengrajin di Jawa ini, mengungkapkan bahwa salah satu daerah sentra batik yang paling berkembang ialah Solo. Di mana, juga menjadi tempat tinggal Presiden Jokowi.
"Pembinaan di Solo untuk batik kan luar biasa," ucapnya.
©2022 REUTERS/Pool
Dukungan Jokowi pada batik kerap terlihat. Terbaru, Presiden Jokowi menjadikan batik sebagai cinderamata pada pemimpin dunia dan delegasi internasional di KTT G20.
"Batik Indonesia adalah warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi yang diakui UNESCO," tulis Jokowi.
Henny menambahkan, penjualan batik yang membaik tak terlepas dari peran digitalisasi. Kemudahan penjualan melalui media sosial ataupun marketplace membantu penjualannya selama pandemi Covid-19.
"Tahun 2019 mulai jual di Shopee sampai Tokopedia. Penjualannya sudah lumayan. Hampir 60 persen penjualan di online," jelas Henny.
Selain itu, Henny mengungkap Bank Rakyat Indonesia (BRI) turut berperan dalam peningkatan penjualan batik. Di samping memberi kredit untuk UMKM batik binaannya dan modal pameran, BRI kerap membeli batik untuk cinderamata.
"Kadang produk kita dibeli sama BRI. Termasuk produk saya dibeli dibawa keluar negeri," ungkapnya.
Transformasi Digital Tingkatkan Ketahanan Bisnis
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDirektur Digital dan Teknologi Informasi BRI, Arga M. Nugraha mengatakan, transformasi digital yang mengikuti perkembangan situasi pasar mempertahankan daya kompetitif sebuah bisnis.
Arga menilai, kesuksesan transformasi digital, terdapat pada 3 aspek viral. Hal ini, menurutnya, telah tertuang dalam strategi program BRIVolution 2.0 sebagai panduan.
"BRIVolution kami gunakan sebagai guideline menjawab tantangan digital dan IT," ujarnya di Jakarta, Rabu (26/6).
Pertama adalah BRI terus berupaya meningkatkan resiliensi. Arga mencontohkan saat dunia diterpa pandemi Covid-19 mengakibatkan disrupsi yang sangat luas secara tiba-tiba. Alhasil, digitalisasi dipacu sedemikian cepat di berbagai bidang tak terkecuali perbankan.
Kedua, BRI ingin fokus kepada open banking. Konsep ini adalah salah satu terobosan baru di bidang perbankan. Tujuannya mampu mendorong transaksi dan layanan keuangan menjadi lebih mudah, cepat, terintegrasi, dan praktis.
Pihak bank, lanjut Arga, membuka jalan untuk membangun kerja sama dengan pihak ketiga. Khususnya untuk berbagai jenis aplikasi digital.
Ketiga adalah penguatan artificial intelligence dan juga machine learning. Dengan demikian BRI mampu mengelola data nasabah yang begitu besar untuk memberikan manfaat dan value.
"Tidak untuk dijual, tapi kami coba value-nya kami extract dan infuse kembali hasilnya kepada produk-produk kami," imbuhnya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya