Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bank Syariah Indonesia Ungkap 4 Masalah Utama UMKM

Bank Syariah Indonesia Ungkap 4 Masalah Utama UMKM Pengrajin Rotan di Jakarta. ©2021 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Sektor UMKM sangat berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Jumlahnya yang mencapai 64,3 juta ini menyerap 97 persen tenaga kerja. Namun hal ini tidak berarti UMKM terbebas dari berbagai tantangan dalam persaingan usaha. Sebaliknya sektor UMKM dinilai paling rentan terhadap gejolak ekonomi.

Kepala Grup Bisnis Mikro Bank Syariah Indonesia, Muhammad Isnaeni menyebut, ada 4 masalah utama yang dihadapi UMKM. Antara lain akses permodalan usaha, inovasi dan teknologi, layanan keuangan dan transaksional serta akses pasar.

"Masalahnya ini ada di akses permodalan, bagaimana mereka menggunakan teknologi, bagaimana akses layanan keuangan sementara mereka masih tradisional," kata Isnaeni dalam Webinar Dapatkan Pendanaan USaha Bersama Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Jumat (15/10).

Isnaeni menjelaskan ada tiga permasalahan yang sering dihadapi UMKM yakni kurang inovasi, tidak memiliki izin usaha, serta modal dan akses pembiayaan. Kurangnya inovasi pelaku UMKM ini membuat para pelaku usaha jarang memiliki rencana usaha. Sehingga model bisnisnya menjadi tidak jelas.

"UMKM ini jarang memiliki rencana usaha yang menyebabkan model bisnisnya tidak jelas," kata dia.

Pelaku UMKM yang tidak memiliki izin usaha biasanya tidak memiliki struktur organisasi formal atau yang masih sederhana. Dalam hal ini tidak jarang adaptasi teknologinya masih relatif lambat. Untuk itu BSI mengambil peran dengan memberikan pendampingan.

"Kita ajarkan ini dengan pendampingan sampai mereka bisa membuka toko online di e-commerce, dari yang gak bisa sampai bisa," kata dia.

Dalam hal modal dan akses pembiayaan, Isnaeni mengatakan sudah menjadi keharusan bagi BSI untuk bisa memberikan modal. Namun masalahnya, kualitas SDM dan mentalitas pelaku UMKM seringnya mudah menyerah.

Hal-hal yang Dibutuhkan UMKM

yang dibutuhkan umkmRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Untuk mengatasi masalah tersebut, UMKM membutuhkan transformasi usaha dengan cepat agar bisa berjualan secara online dan menghadapi tantangan di era digital. Sebab saat ini penjualan secara offline tidak selaris sebelum pandemi.

"Makanya kita ajarkan nasabah buat go digital," katanya.

Secara khusus, saat ini sudah mendampingi 450 ribu nasabah UMKM untuk beralih ke pasar online. Isnaeni mengatakan mereka diberikan pendampingan dari tidak mengerti teknologi sama sekali sampai membuka toko online mahir.

"Dari gaptek (gagap teknologi) sampai bisa bisa jualan, kita dampingi terus. Tadinya jualan lokal, sekarang jualannya nasional. Tadinya pendapatan sedikit, sekarang bisa naik drastis," kata dia.

Setelah itu UMKM membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan dalam memulai mengoperasikan dan pengembangan usaha. Isnaeni mengatakan pendampingan yang dilakukan BSI sudah mampu membuat UMKM naik kelas. Bahkan beberapa produknya telah masuk rantai bisnis korporasi.

"Dari kita ada yang kecil sampai besar. Ada yang beberapa naik kelas, dari usaha kerajinan sampai bisa suplai ke korporasi. Ada nasabah kami produksi tahun dan tempe dari kecil sampai besar dan serap tenaga kerja," katanya.

Terpenting, pelaku UMKM sangat membutuhkan pengetahuan cara mengelola keuangan yang benar. Ini sangat dibutuhkan untuk agar pelaku usaha tidak kehabisan modal karena mencampur hasil usaha dengan keuangan pribadi. Sehingga tidak jarang mereka kehabisan modal.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP