Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Warsih ingin pensiun jadi pemulung

Warsih ingin pensiun jadi pemulung Kehidupan para pemulung di TPST Bantargebang. ©2016 Merdeka.com/Intan Umbari Prihatin

Merdeka.com - Gubuk triplek berukuran 1 x 4 meter menjadi saksi kehidupan para pemulung di TPST Gantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Lantai tanah ditutupi spanduk bekas dan beratap terpal bekas. Sekitar pukul empat pagi, perempuan paruh baya itu sudah sibuk mencuci pakaian di kamar mandi umum yang sudah dipenuhi para pemulung lainnya.

Hiruk pikuk membersihkan diri dan pakaian pun sudah berdenyut sejak pagi buta. Mereka harus antre sekadar untuk mandi dan mencuci. Warsih mengerjakan semuanya seorang diri. Suaminya, Uding (60) sudah tak kuat untuk membantunya. Sakit gula kering yang menimpa suaminya membuat Warsih harus berjuang lebih keras untuk mencari nafkah.

Waktu terus bergerak dan menunjukkan pukul 07.00 WIB. Dari rumah Warsih hanya memakai kaus lusuh dan tas kecil serta keranjang sampah tak lupa menggunakan kaus kaki untuk jaga-jaga. Dia berangkat bersama suaminya menggunakan motor.

Jarak yang ditempuh hanya sekitar 5 menit untuk menuju TPST Bantargebang. Sesampainya di TPST, Warsih dan Uding langsung menuju bukit sampah. Menapaki satu persatu sampah sampai menuju puncak. Kata Warsih, menjadi seorang pemulung sangat sulit. Satu persatu tumpukan sampah harus dilalui hingga ke bukit sampah atau Bulog. Kaki keram pun masih sering dirasakan Warsih dan Uding ketika menuju gunungan sampah yang menjulang.

kehidupan para pemulung di tpst bantargebang

Warsih pergi memulung di TPST Bantargebang ©2016 Merdeka.com/Intan Umbari Prihatin

Di usianya, dia tahu tak mungkin bersaing dengan pemulung lain. Warsih dan Uding juga tak sanggup lagi mengorek sampah hingga larut malam. Mereka hanya bisa mencari barang-barang bekas hingga sore hari.

"Enggak bisa sampai malam, kaki saya suka sakit. Saya mah cuma cari plastik aja," kata Warsih kepada merdeka.com,Sabtu (24/12) pekan lalu.

Warsih dan Uding hanya bisa memulung hingga pukul 16.00 WIB. Tak peduli kalau hasilnya sedikit, mereka harus segera istirahat. Sesampainya di gubuk, Warsih tidak langsung istirahat. Dia mencuci pakai yang dipakai usai memulung. Setelah itu mengurusi suaminya yang sudah lama mengidap penyakit gula kering.

Warsih dan Uding tak pernah berkumpul dengan sesama pemulung. Warsih dan Uding awalnya bukan bekerja sebagai pemulung. Uding dulu sebagai penjual sayur di Pasar Karawaci sedangkan Warsih buruh pencabut kangkung dan bayam di pasar yang sama.

Warsih mengatakan pekerjaan sebagai buruh pencabut sayur bayem di Tangerang hampir sama dengan pekerjaannya sekarang. Pekerjaan sebagai tukang pencabut bayam, dengan pemulung kata Warsih sama beratnya. Tapi di Tangerang pekerjaannya harus sesuai waktu dan tidak bisa pulang kapan saja. Di sini dia memiliki waktu yang lebih bebas.

kehidupan para pemulung di tpst bantargebang

Warsih saat memulung di TPST Bantargebang ©2016 Merdeka.com/Intan Umbari Prihatin

Warsih pun hanya diupah Rp 20 ribu perhari. Uding pun demikian, paling lama dia bisa tahan lama mulung sampai pukul 19.00 WIB. Kesehatannya tak memungkinkan untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak. Memang berjualan sayur lebih menguntungkan daripada menjadi seorang pemulung.

"Jauh banget jual sayur sama ngorek (pemulung), kalau Rp 20 ribu kan utung. Kalau di sana Rp 20 ribu habis. Di sini seharian, jam 10 jadi tukang sayur udah habis. Di sini enggak bisa cerita, kurang terus," kata Uding.

Warsih sedikit bernostalgia ketika dia datang ke Bantargebang. Awalnya, kata dia diajak oleh adiknya yang sudah lama menjadi pemulung. Dengan modal 600 ribu untuk menyewa mobil membawa perabotan yang tersisa mereka pindah dari Tangerang ke Bekasi.

Di Bantargebang, Warsih dan Uding hanya membawa perabotan dua lemari, televisi dan rak usangnya, serta perabotan dapur. "Ya di gubuk ini cuma ada peninggalan dulu saya di Tangerang," kata Warsih sambil mengelus kakinya yang sedang sakit.

Tak mudah hidup di kawasan sampah. Sering kali Warsih dan Uding tak nafsu makan lantaran bau yang hilir mudik menusuk hidungnya. Selama satu bulan awal bekerja sebagai pemulung, Warsih dan Uding hanya berteman dengan obat maag untu pereda rasa perih diperut.

kehidupan para pemulung di tpst bantargebang

Kehidupan para pemulung di TPST Bantargebang ©2016 Merdeka.com/Intan Umbari Prihatin

"Selama satu bulan dulu temannya sama obat maag, enggak mau makan. Ya kayak jember gitu," kata Warsih dengan mata yang berbinar dan sedikit meneteskan air mata.

Mereka juga harus belajar memulung. Memilih mana barang yang bisa dijual. Rasa letih dan capek karena faktor usia pun dirasakan oleh mereka berdua. Barang yang diambil hanya yang ringan. Seperti kantong plastik, botol bekas. Minimal kata Warsih, dia hanya 1 karung tetapi hanya kantong plastik.

"Paling Rp 40 ribu, dijual di lapang. Saya ngumpulin 3 hari kemarin 8 kwintal. Dapet Rp 210 ribu. kalau mainan 20 kg paling 16 ribu. Kalau kresek 1 kwintal lebih," Warsih.

Warsih dan Uding sebenarnya tidak ingin menghabiskan masa tuanya di gubuk tak layak sebagai pemulung. Keduanya ingin pulang ke kampungnya di Karawang, namun modal yang dimiliki pun belum cukup. "Kalau ada modal besar maunya habisin waktu tua di Karawang, tapi kayaknya lama," kata Warsih dengan nada lirih. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP