'Virus' dari negeri seberang
Merdeka.com - Demam klakson telolet yang tenar di tanah air tidak muncul tiba-tiba. Setelah dirunut, perangkat ini dibawa dari tanah seberang. Tepatnya India dan Pakistan.
Klakson itu sebenarnya bekerja dengan tekanan angin. Negara pembuatnya bukan hanya dua itu. Bikinan Italia, Inggris, serta Amerika Serikat juga tersedia. Namun, lantaran harganya lebih terjangkau makanya produk dari Pakistan digemari. Kini ada juga bikinan China yang banderolnya lebih miring.
Di Pakistan dan India, penjual klakson model begini banyak tersebar di pinggir jalan. Terutama dekat pusat onderdil truk dan bus. Perangkat itu terdiri dari corong dengan panjang berjenjang dengan jumlah tiga hingga enam, pipa penyalur udara, resonator, dan katup solenoid di pangkalnya. Pergerakan solenoid buat meloloskan angin dari tabung kompresor diatur oleh sebuah modul. Modul ini berisi rangkaian elektronik. Sumber tenaganya dari accu bus.
Kalau buatan Eropa atau AS sama saja. Hanya jika ingin diterapkan di kendaraan roda empat, maka mereka bakal menyertakan kompresor mini bertenaga listrik dalam paketnya.
'Racun' dari Pakistan bukan hanya klakson telolet. Di sana, para sopir truk dan bus punya budaya khusus. Yakni mempercantik penampilan kendaraan dengan seni rupa. Yang ini lebih rumit dari lukisan bak truk ala Pantura. Kendaraan dihiasi gambar-gambar memikat dengan warna sangat mencolok. Temanya bisa apa saja. Mulai dari politik, sufisme, olahraga kriket, kaligrafi, hewan, alam, atau lainnya. Bahkan pemerintah mereka menyediakan ruang bagi para seniman truk dan bus melombakan karyanya.
Dalam artikel Nadeem F. Paracha dikutip dari situs www.dawn.com, seni ini dipelopori oleh pemilik truk berkeyakinan Sikh pada 1940-an. Mereka biasa memajang gambar sang guru di bak truk, tentu dengan warna membetot perhatian. Kemudian, kaum muslim di sana mencontek dengan melukiskan guru sufi mereka. Setelah Pakistan merdeka, gambar itu meluas ke beragam tema. Karena demam cantik-cantikan itu, beberapa sopir mengibaratkan bus atau truk mereka sebagai dhulan (pengantin).
Elemen dalam lukisan mereka semakin rumit mulai 1970-an. Yang tadinya cuma terbatas di bagian belakang, lambat laun mulai melebar ke bagian depan. Beragam hiasan juga mulai dipasang di bumper depan, kaca spion, dan atap kepala kendaraan.
Salah satu tokoh penting dalam subkultur ini adalah Kafeel Bhai Ghotki. Dia merupakan pelukis truk dan bus, yang juga penggemar berat kriket. Mulanya, dia ingin terjun ke liga kriket dan pindah ke ibu kota Pakistan, Karachi. Namun, kemampuannya diragukan. Kecewa berat, Kafeel pulang ke kampung halamannya, Ghotki. Di sana, dia saban hari nongkrong di kedai perhentian bus dan truk. Jika melihat ada kendaraan tanpa lukisan, dia menawarkan jasa melukis. Bayarannya sederhana: makan dan minum Kafeel ditanggung pemilik kendaraan.
Kafeel lantas bereksplorasi dengan gambar-gambar tokoh sedang tenar masa itu, penyanyi Madam Noor Jehan dan Lady Diana. Kadang dia membikin gambar hewan dan pemandangan. Setelah semakin mahir dan gambarnya dianggap apik, dia menyematkan namanya di setiap karya. Ketenarannya mulai merambah Eropa pada 1990-an. Sepuluh tahun kemudian, Kafeel mendadak memutuskan menutup usahanya. Alasannya keuntungannya semakin tipis. Dia lantas menikah dan pindah ke Karachi, tanpa ada yang tahu bagaimana nasibnya kini. Karya peninggalannya saat ini menjadi barang langka dan mendorong para seniman terus mengasah diri.
Budaya bising di tanah Hindustan
Voldemars Johansons sudah sering bolak-balik ke India. Lelaki 36 tahun asal Latvia itu terganggu dengan satu hal saat berada di jalanan di India.
Bising. Itu yang dia rasakan kalau melintas di jalanan India. Buat warga setempat, menekan klakson terus menerus selama mengemudi menjadi kebiasaan. Tak peduli sepeda motor, mobil, bus, truk, atau bajaj sekalipun. Semua seperti tak mau kalah. Bahkan ketika berhenti di lampu merah persimpangan jalan, klakson tetap menyalak.
Sebagai seniman, Johansons tergerak melihat kenyataan itu. Dia lantas membikin klakson dengan pengeras suara dengan nada lebih ramah dan funky. Yakni bunyi robot berdesibel rendah.
"Di Eropa, klakson enggak bisa dipakai sembarangan. Itu gunanya cuma buat memberitahu keadaan gawat. Tapi di sini (India), klakson dibunyikan terus-terusan. Kayaknya seperti memberitahu: 'Gue mau lewat!'," kata Johansons, seperti dilansir dari situs www.timesofindia.com.
Bukan cuma Johansons yang terusik. Sebagian rakyat India dan Pakistan juga sudah jengah dengan kelakuan menekan klakson terus-terusan. Bayangkan, kalau sepuluh bus dalam kota di sana yang dipersenjatai dengan klakson telolet dan setiap lima meter dibunyikan. Belum lagi dari kendaraan lain.
Kalau di Indonesia ada demam 'Om Telolet Om', di negara asal Shakrukh Khan lebih dikenal dengan kebiasaan 'Horn OK Please'. Entah siapa yang memulainya, tetapi tulisan itu selalu terpampang di belakang bak truk atau badan bus. Kabarnya, karena frasa itu orang-orang di sana amat sangat ringan tangan menekan klakson.
Menurut penelitian beberapa ahli medis setempat, kebiasaan menekan klakson berlebihan ternyata menunjukkan betapa labilnya jiwa orang India dan Pakistan. Hal itu juga berpengaruh ke kesehatan, utamanya telinga. Sebab jika terus-terusan berhadapan dengan situasi bising jalan raya, bisa memperburuk kondisi gendang telinga dan memicu stres serta amarah berlebihan. Mereka tidak menyalahkan klakson, tetapi hanya kebiasaan para warga.
Pemerintah di beberapa negara bagian gencar menggelar razia klakson. Mereka yang kedapatan menekan klakson di wilayah terlarang, atau memasang klakson telolet langsung dicopot. Beragam kampanye mengurangi kebiasaan klakson juga gencar dilakukan. Malah, Mahkamah Lingkungan di sana sudah melarang kebiasaan bikin sebal itu. Namun ternyata tak mudah mengubah kebiasaan. Penjualan klakson dianggap bising juga belum mengalami penurunan. Makanya, gunakan klakson pada tempatnya supaya tak bikin orang naik darah.
(mdk/ary)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya