Tergerus serakahnya kota
Merdeka.com - Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana
Dari serakahnya kota
Mungkin petikan lagu karya musikus Virgiawan Listanto atau akrab disapa Iwan Fals cocok untuk menggambarkan dampak dari pembangunan dan populasi penduduk Kota Jakarta. Pembangunan besar-besaran tidak diimbangi penyediaan hijau sebagai wilayah penyangga ketersedian air tanah.
Justru lahan terbuka menjadi incaran para pengembang untuk membangun gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, perumahan, dan industri. Luas Jakarta hanya 662 kilometer persegi digerus bangunan beton. Dampaknya, banjir menjadi santapan bagi warga ibu kota. Saban memasuki musim hujan, bukan barang baru beberapa wilayah langganan banjir sudah bisa ditebak.
Teranyar, hujan mengguyur Jumat pekan lalu mengakibatkan air setinggi dua meter menggenangi rumah warga di Kampung Pulo, Jakarta Timur. Namun bagi warga tinggal di daerah itu sudah menjadi hal lumrah.
Bahkan banyak warga memilih bertahan di rumah lantaran air menggenangi rumah mereka belum terbilang parah. "Ya kalau banjirnya sampai lantai dua rumah, saya baru mau mengungsi," kata Maryam, warga kampung Pulo, kepada merdeka.com pekan kemarin.
Selain berambisi menguasai lahan, sektor pembangunan gedung juga banyak mengunakan air. Hasil penelitian Amrta Institute menemukan 50 persen data pencatatan pelanggan air tanah terdaftar di Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah tidak akurat.
Temuan itu terjadi pada penggunaan air tanah oleh sektor komersial. Dari penggunaan air tanah oleh sektor komersial sebanyak 99,93 juta meter kubik per tahun, 92,07 juta meter kubik air tanah digunakan tidak terdaftar. Sedangkan sisanya 7,86 juta meter kubik terdaftar sebagai pengguna air tanah.
Bukan hanya sektor komersial, data tidak akurat juga tercatat pemenuhan air untuk kebutuhan rumah tangga. Dari jumlah kebutuhan 622 juta meter kubik setahun, 447,88 juta meter kubik pengguna air tanah di sektor rumah tangga juga tidak terdaftar. Hanya 174,12 juta meter kubik tercatat lantaran terdaftar menggunakan air dari perusahaan air minum.
"Penelitian Amrta menemukan 50 persen data pencatatan pelanggan air tanah terdaftar di BPLHD tidak akurat," kata Siti dalam berkas penelitian diterima merdeka.com.
Hal ini diperparah oleh penggunaan air tanah menggunakan sumur bor dan sumur pantek oleh sektor komersial. Tercatat penggunaan sumur bor oleh sektor komersial pada 2004 sebanyak 17.675.150 meter kubik. Sedangkan penggunaan sumur pantek sebanyak 3.240.898 meter kubik. Jumlah itu menurun pada 2011. Pemakaian sumur bor oleh sektor komersial tercatat 6.459.992 meter kubik dan pengguna sumur pantek sebanyak 1.404.795 meter kubik.
Penggunaan air tanah di Jakarta memang besar. Data pemenuhan air bersih di DKI Jakarta selama tiga tahun (2011-2013) mencatat kebutuhan air sesuai Kartu Tanda Penduduk meningkat. Pada 2011 pemenuhan air bersih 622.269.739, bertambah pada 2013 menjadi 650.989.968 meter kubik. Sedangkan untuk kebutuhan industri dari 186.680.922 meter kubik di 2011 meningkat menjadi 195.296.990 meter kubik.
Namun pemenuhan itu tidak diimbangi dengan pemenuhan atas kebutuhan air bersih melalui perusahaan air minum. Dampaknya masih banyak penggunaan air tanah tidak tercatat. Siti mengimbau ada upaya meningkatkan teknologi dan pencatatan penggunaan air tanah di Jakarta. Selain itu, pengelolaan air bersih harus dikelola oleh satu institusi dan pengelolaan data itu mesti transparan sehingga bisa diakses oleh masyarakat.
"Jika pengambilan air tanah terus dilakukan, perkiraan Jakarta bakal tenggelam tinggal menunggu waktu," kata Siti. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya