Semangat para penyandang disabilitas saat kuliah
Merdeka.com - Pagi sekitar pukul 10.00 WIB belasan mahasiswa dan mahasiswi disabilitas tampak asyik bercengkrama dengan sesamanya di lorong kelas. Mereka menikmati waktu istirahat setelah mengikuti mata kuliah jam pertama. Mereka duduk di lantai, sambil menikmati makanan mereka dan ada beberapa orang tua yang menemani. Ada yang mondar-mandir sambil mendengarkan musik di handphonenya, ada juga yang memilih duduk diam di dalam kelas.
Mereka adalah mahasiswa dan mahasiswi program studi D III Program Manajemen Pemasaran untuk Warga Negara Berkebutuhan Khusus(MP-WNBK) Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) di Depok, Jawa Barat. Tidak ada wajah bosan dari mereka usai menjalani satu mata kuliah. Dua puluh menit berselang mereka pun kembali mengikuti mata kuliah selanjutnya.
Dengan wajah yang ceria mereka sudah siap untuk mengikuti kembali perkuliahan. Orang tua yang menemani pun sesekali mengintip dari jendela kelas mengawasi anaknya. Di dalam kelas mereka sudah siap dengan laptop yang ada di atas meja, dan duduk dengan rapi. Kali ini merdeka.com ikut bersama mahasiswa semester lima, konsentrasi Aplikasi Komputer dan Programming.
Dalam kelas yang terdiri dari sembilan mahasiswa dan mahasiswi tersebut mengikuti mata kuliah etika dan moral yang diampu oleh dosen M Jamal Al-Bakri. Dia menggunakan power point untuk menjelaskan kepada mereka soal etika di kelas dan di luar kelas. Tidak seperti kelas mahasiswa reguler pada umumnya, kelas ini berisikan mahasiswa dan mahasiswi yang berbeda-beda kebutuhannya.
Cara mengajar Jamal pun berbeda dari dosen reguler lainnya. Dia menyebutkan satu per satu dan menjelaskan materi yang diajarkan. Beberapa mahasiswi yang memiliki keterbatasan pendengaran dan berbicara atau tuna rungu selalu bertanya soal apa itu sopan santun dan bagaimana memulai perkenalan. Jamal dengan menggunakan bahasa isyarat menjawab pertanyaan mereka, sambil menggerak-gerakan tangannya dan mulutnya.
Ada yang memperhatikan Jamal, tetapi ada juga yang asyik sendiri. Dengan sabar, Jamal malah membantu mahasiswa tersebut agar bisa fokus untuk bisa mengerti apa yang diajarkan. Selang 20 menit menjelaskan, dia pun memberikan tugas kepada sembilan orang mahasiswa dan mahasiswinya. Mereka mendapatkan tugas berbeda dari Jamal disesuaikan dengan keterbatasan yang mereka miliki.

Kelas mahasiswa disabilitas Politeknik Negeri Jakarta ©2016 Merdeka.com/Intan Umbari Prihatin
Di kelas itu, empat mahasiswa yaitu Niko, Alfino, Adi, dan Garin yang menderita autisme diberikan tugas untuk berinteraksi dengan mahasiswa reguler di PNJ dan didokumentasikan. Sementara, lima mahasiswinya yang tuna rungu diberikan tugas merangkum materi. Mereka antara lain, Fiza, Dwinta, Fitria, Syafira dan Anggita.
"Mereka diberikan tugas berbeda-beda karena sesuai dengan kemampuan mereka, kita tidak bisa memberikan tugas yang sama. Karena mereka memiliki kemampuan sendiri-sendiri," kata Jamal usai memberikan kuliah di kelas semester lima di gedung Arsip, Politeknik Negeri Jakarta, Depok, Jawa Barat, Kamis (16/9) lalu.
Salah satu mahasiswa semester lima yang mengikuti mata kuliah Jamal, Riyadi Cahya Utomo (26) mengaku selama kuliah tidak merasa berat ketika diberikan tugas oleh dosen. Adi begitu sapaan akrabnya, mengaku tugas yang diberikan oleh Jamal atau dosen yang lain pun selalu dikerjakan. Selama 2,5 tahun kuliah, Dia mengaku suka dengan mata kuliah praktik kuliner.
Karena menurutnya, di mata kuliah tersebut dia bisa menjual makanan dan minuman yang dibuat bersama timnya. Tidak hanya mata kuliah pratik kuliner, Adi juga suka dengan mata kuliah e-commerce yang mengajarkan bagaimana cara berdagang di dunia maya. "Paling suka bikin puding lalu dijual ke orang lain. Kalau e-commerce bisa belajar cara beli online dan cara dagang online," kata Adi dengan nada pelan.
Berbeda dengan mahasiswa konsentrasi aplikasi komputer dan programming, mereka yang memilih konsentrasi art and craft, di dalam kelas lebih banyak pratik dibandingkan teori. Salah satunya yaitu mata kuliah pratik seni tari yang diampu oleh Nur Hasanah.
Tidak begitu besar ruangan yang digunakan, sebab dia hanya mengajar tari tiga orang mahasiswa semester lima, yaitu Tania, Nino, dan Fadil. Tanpa diiringi musik, Nur mengajarkan tarian modern. Walaupun tidak bisa cepat mengikuti apa yang diajarkan Nur, tetapi mereka tetap bersemangat.
Dengan lincah dan tempo yang cepat mereka bisa mengikuti. Namun, ketika mengulang kembali apa yang diajarkan Nur, mereka tidak bisa mengingatnya lagi. "Walaupun mereka selalu lupa ketika tidak ada musik, tetapi setelah ada musik mereka langsung bisa bergerak dengan menciptakan ketukan dan hentakan yang baru. Dan itu adalah keistimewaan mereka," kata Nur sambil tersenyum.

Kelas mahasiswa disabilitas Politeknik Negeri Jakarta ©2016 merdeka.com/intan
Para orang tua yang sabar menunggu anak-anaknya kuliah mengaku ada perubahan setelah menguliahkan anaknya program khusus itu. Seperti yang dituturkan Ana Maria (50) orang tua dari mahasiswa semester lima, konsentrasi art and craft, Gregorius Andiriano Wardana Perangin-angin.
Ana menceritakan, Gregorius yang mengalami autisme atau sindrom asperger disekolahkan dari SD hingga SMA di sekolah umum. Selama itu, kata Ana, anaknya belum terlihat apa minat yang sukainya. Namun setelah berkuliah di PNJ, Ana menyebut, anaknya kini memiliki keterampilan baru.
Kata Ana, Greogorius yang akrab disapa Ano, gemar merangkai bunga dengan bahan dasar akrilik. Dalam satu hari, Ano bisa merangkai enam pot besar. "Kalau di rumah, dia bisa buat enam buah rangkaian bunga di pot besar sampai lupa makan juga," kata Ana sambil menunjukkan foto-foto hasil karya Gregorius.
Dari hasil rangkaian bunga yang dikerjakan anaknya, Ana bisa menjual satu pot besar dengan kisaran harga Rp 100 ribu-Rp 1,5 juta. Pembelinya pun beragam kata Ana, mulai dari dalam kota hingga luar negeri. "Bersyukur dia itu bisa kuliah di sini. Banyak sekali kemajuan dan dia bisa menghasilkan sesuatu," ungkap Ana. (mdk/bal)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya