Saya tidak pernah mengejar peran
Merdeka.com - Banyak yang menilai konvensi calon presiden Partai Demokrat seolah tidak serius. Namun Anies Baswedan, mantan peserta konvensi, mengaku tidak merasa tertipu. Dia justru menyarankan semua partai membuat konvensi untuk menentukan calon presiden mereka bakal bertarung dalam pemilihan umum.
Anies menilai dengan adanya konvensi di semua partai, paling tidak peserta sudah mempersiapkan segalanya, mulai dari calon hingga tim kampanye. "Jadi ada namanya babak penyisihan sebelum masuk babak final. Karena timnya bersiap debat, gagasannya diuji, rekam jejaknya dilihat," kata Anies saat berbincang dengan merdeka.com kemarin di kantor Turun Tangan, Jalan Ciasem I nomor 9, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Dia masuk ke politik karena ingin menunjukkan akademisi jangan takut berpolitik. "Justru saya ingin mengajak kita belajar, kita tunjukkan, tapi kita lakukan dengan cara terhormat," ujarnya.
Berikut penuturan Anies Baswedan kepada Arbi Sumandoyo dan Faisal Assegaf soal kiprahnya di panggung politik.
Apakah Anda kecewa dengan konvensi Demokrat seolah seperti permainan?
Pertama, itu bukan permainan. Kedua, saya tidak kecewa dan ketiga, harusnya itu diselenggarakan oleh semua partai. Bahkan sampai di akhir pun angkanya transparan. Pak Dahlan dapat berapa persen, Anies dapat berapa persen, Pramono Edhi dapat berapa persen, Gita Wirjawan dapat berapa persen, dipasangkan hasilnya. Anda lihat kan? Coba mana yang berani melakukan seperti itu?
Buat saya konvensi itu baik. Konvesi itu bukan hanya menyiapkan calon tapi juga menyiapkan timnya. Jadi ada namanya babak penyisihan sebelum masuk babak final. Karena timnya bersiap, debat, gagasannya diuji, rekam jejaknya dilihat.
Sayangnya Demokrat tidak memiliki dukungan cukup, tidak membuat koalisi lalu tidak mencalonkan. Tapi sebagai sebuah proses konvensi saya jalani betul. Nggak ada tuh kelebihan perlakuan pada satu calon ketimbang calon lainnya.
Jadi Anda tidak merasa tertipu?
Sayang memang, di ujung tidak bisa membangun koalisi. Konvensi itu menentukan siapa menjadi calon bukan? Tapi koalisi, itu soal lain tuh. Memang Demokrat tidak bisa membangun koalisi. Itu salahnya Demokrat. Tidak ada hubungannya tuh dengan peserta konvensi. Saya bukan orang partai, saya orang independen, dan tidak ada kaitan apapun dengan Demokrat. Secara organisasi, secara latar belakang tidak ada.
Ketika diundang, saya ingin menunjukkan sebenarnya, apalagi yang di dunia akademik, jangan takut dengan proses politik. Justru saya ingin mengajak kita belajar, kita tunjukkan, tapi kita lakukan dengan cara terhormat.
Jadi Anda tidak takut karena politik banyak jebakan dan trik?
Anies balik bertanya.
Kalau di media bersih?
Kita nggak semua bersih.
Jadi Anda tidak takut kecipratan?
Insya Allah nggak. Saya membalikkan kepada Anda, dunia Anda geluti juga bermasalah. Artinya begini, ini masalahnya bukan media, bukan politik. Masalahnya adalah cara kita menjalani.
Kalau Anda jalani pekerjaan jurnalistik dengan terhormat, Anda menjadi jurnalis terhormat pula. Dihormati, dihargai, disegani. Tapi kalau Anda jalani profesi dengan tidak terhormat, lingkungan Anda juga tahu siapa jurnalis bisa dibeli. Jadi pertanyaan Anda itu pertanyaan untuk semua sektor. Artinya di mana saja bisa terjadi.
Pada Pemilu 2019 giliran orang muda seperti Anda bakal bertarung. Apakah terjunnya Anda ke politik sejak sekarang bagian dari promosi buat lima tahun mendatang?
Saya selama ini selalu melihat wilayah publik itu wilayah yang kita jangan jauh. Wilayah publik itu pengambil keputusan. Jadi saya sendiri masih ingin terus bekerja baik di dalam pemerintahan atau di luar pemerintahan dan tidak terikat dengan tanggal-tanggal, seperti 14, 19. Nggak penting itu.
Yang penting itu justru di fase manapun. Kenapa sekarang saya pilih Jokowi bukan Prabowo. Karena Prabowo incar 14, sementara JK dan Jokowi berkarya aja terus. Kalau saya mengincar itu, yang dikerjakan justru beda Mas. Ya mulai beriklan, jadi aktivitas-aktivitas menuju 2014, menuju 2019.
Nah justru saat pemilu saya ikut membantu, setelah itu saya akan bekerja sesuai amanat saya punya. Dari kampus saya ke kampus, dari Indonesia Mengajar saya ke Indonesia Mengajar.
Tapi apakah Anda sadar dekatnya Anda dengan para tokoh politik selalu disorot media, itu menjadi iklan gratis buat Anda?
Ikut itu atau tidak, saya rasa sudah cukup dikenal Mas. Kalau tidak, saya nggak diajak ikut konvensi, nggak diajak ikut membantu (Jokowi). Maksud saya, justru yang menjadi masalah kekuatan seseorang itu pada celah, karena mungkin mengejar peran. Saya tidak pernah mengejar peran. Saya percaya kekuatan pada aktor.
Ketika orang itu solid, peran apapun dia akan maju. Tapi jika orangnya tidak solid, dia kejar peran supaya dapat peran. Ada kan, orang sudah tidak jadi menteri tidak diperhitungkan lagi. Ada orang tidak jadi menteri masih diperhitungkan terus, seperti Emil Salim.
Siapa orang tidak memperhitungkan Emil salim? Karena kekuatannya pada Emil Salim itu. Jadi perannya bisa gonta-ganti. Saya tidak mengejar peran. Tapi saya memastikan di mana saya berjalan yang lemah di situ saya bermakna. Sisi itu berbeda Mas, sangat berbeda. Bagi orang mengejar peran, frame pertanyaan Anda tepat.
Kalau tawaran itu ada di 2019, untuk membuat sistem baik harus dengan aktor baik. Anda bakal terima desakan untuk menjadi calon presiden?
Anda wawancara kembali saya nanti di 2019 pada saat Anda duga itu terjadi atau tidak. Saya konsentrasi untuk memenangkan Pak Jokowi-JK tanggal 9 juli. Itu fokus saya.
Apakah Anda melihat Jokowi memimpin Jakarta sudah menjalankan amanat?
Saya rasa dia menjalankan amanatnya dengan baik, kerja keras, dia urusi. Di tengah perjalannanya, angka dukungan masyarakat untuk mendukung dia jadi presiden tinggi, itu angka rill di luar kemudian mendorong dia menjadi calon presiden. Tapi ketika dia menjalankan tugas di Jakarta dikerjain betul.
Apakah hasil sudah terasa? Sebagian sudah ada yang terasa, sebagian lagi masih belum. Memang Kalau kita mau melakukan perubahan kita tahu persis, ada hal yang efeknya bisa dilakukan cepat dan ada yang efeknya agak panjang.
Tapi Jokowi tidak memenuhi janjinya memimpin Jakarta selama lima tahun?
Kalau Pak Jokowi pindah menjadi gubernur Jawa Barat maka dia meninggalkan Jakarta. Kalau dia jadi presiden Indonesia maka dia masih memimpin orang Jakarta.
Apa karena Jokowi merasa untuk merapikan ibu kota tidak cukup dengan menjadi gubernur saja, mesti kekuasaan lebih tinggi jadi presiden?
Nggak tahu ya. Itu harus ditanyakan ke Pak Jokowi soal pertimbangan beliau. Tapi saya menjawab pertanyaan tadi, saya rasa tidak meninggalkan. Kalau dia pindah ke Jawa Barat, nah dia tinggalin (amanat). Kalau dia jadi presiden maka dia tetap membawahi orang Jakarta.
Kalau Jokowi terpilih lagi pada 2019 dan Anda diajak untuk jadi calon wakil presiden, apakah Anda bakal terima tawaran itu?
Saya mau omong tanggal 9 Juli. Itu dulu. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya