Saat dokter sarankan bayi minum susu formula
Merdeka.com - Wajahnya masih terlihat pucat, tubuhnya juga masih lemas setelah hampir 12 jam berada di dalam ruang bersalin salah satu rumah sakit di Depok, Jawa Barat. Intan Permatasari, 28 tahun, baru saja melahirkan putra pertama berjenis kelamin laki-laki yang diberi nama Bima Azka dengan berat 3.8 kilogram pada Selasa (26/2) malam dua bulan lalu. Di lantai dua ruang Melati, Intan membaringkan tubuhnya untuk menjalani perawatan usai melahirkan.
Pukul 05.00 WIB dini hari, suster berpakaian merah jambu mendorong boks bayi dan membawa anaknya ke dalam ruang rawat untuk disusui oleh Intan. Bayinya tertidur pulas. Namun saat diangkat, anaknya menangis berteriak. Bergegas, Intan membuka kancing kemejanya untuk segera disusui. Lidah anak lelaki itu mengecap dan menjilat mencari air susu ibunya. Bibir anaknya mencari puting yang mampu mengeluarkan ASI untuk sebagai asupan makanan pertama untuk ketahanan tubuh. Namun saat kolostrum dijilat dan dihisap, ASI itu tidak juga keluar deras. Padahal, kolostrum atau jolong merupakan air susu ibu pertama yang mengandung banyak immunoglobulin (IgA) yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit.
Padahal, ibu anyar ini ingin agar anaknya merasakan asupan makanan pertama dari tubuhnya. "Kalau awal memang sedikit bu, tapi terus aja disusui nanti akan keluar secara alami," kata Intan menirukan pembicaraan suster saat itu ketika berbincang denganmerdeka.com, Sabtu (4/4).
Seharian Intan berusaha agar anaknya bisa menerima asupan makanan melalui ASI dirinya. Namun upaya itu belum juga membuahkan hasil. ASI nya tidak juga mengalir deras. Khawatir dan kasihan anaknya tidak minum dan mendapatkan asupan makanan di awal kelahirannya, Intan berinisiatif memberi asupan tambahan berupa susu formula.
Dengan kondisi anak pertamanya mengalami merah-merah pada kulit wajah, ada suara yang dikeluarkan hidungnya. Suster rumah sakit, hanya menyebutkan anaknya mengalami alergi susu sapi. Tanpa menjelaskan detail penyebabnya walaupun perawat menegaskan dampaknya tidak terlalu serius.
Suster dengan tenang menyarankan agar dirinya untuk memberikan susu formula jenis hypoalergic khusus untuk bayi penderita alergi protein susu sapi seperti yang diderita anak pertamanya. Bergegas suaminya membeli susu tersebut sebesar Rp 116 ribu dengan isi 400 gram. “Inginnya saya kasih ASI eksklusif, tapi air susu ternyata tidak banyak yang keluar," katanya.
Dia mengaku tidak ada pilihan lain, selain memberikan anak pertamanya dengan susu tersebut. Ini lantaran air susunya dipandang tidak cukup. Selain itu, beberapa dokter yang ditemuinya mengungkapkan, anaknya mengalami intoleran terhadap susu sapi.
Alergi susu sapi menurut hasil konsultasi dokter, kata Intan, tidak bisa dianggap sepele meski gangguan itu tidak langsung memiliki efek pada bayi. Namun buntut selanjutnya dari alergi, anak bisa mengalami keterlambatan dalam proses pertumbuhan.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Menyusui Indonesia (AIMI) Nia Umar menilai penyebab utama alergi pada bayi bisa diakibatkan banyak faktor.Anak yang mengalami alergi susu sapi bisa disebabkan faktor keturunan dari orang tuanya namun ada juga anak yang menderita alergi karena udara perkotaan dan konsumsi makanan yang kurang seimbang saat ibu hamil.
“Intinya penanganan alergi susu sapi pada anak harus cermat, dicari penyebabnya dan harus diberi ASI karena banyak manfaatnya,” katanya.
Dia menegaskan orang tua bayi bisa terus memberikan asupan susunya. Hal ini lantaran perempuan pasti akan menghasilkan susu. “Payudara yang memproduksi ASI seperti pabrik. Jika terus dihisap oleh bayi, maka respons pada tubuh si ibu juga akan bereaksi dan terus memproduksi dengan banyak. Jadi kata Nia sedikit alasan jika wanita tidak mengeluarkan ASI,” ungkapnya.
(mdk/arr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya