Raup untung musim kampanye
Merdeka.com - Bagi Diana Sastra, pesta demokrasi lima tahunan menjadi salah satu yang melambungkan namanya di dunia musik dangdut pantai utara Jawa Barat. Mulai dengan menjadi artis pendukung saat kampanye Golkar 1997 dengan bayaran Rp 35 ribu sekali pentas, kini telah memiliki grup dangdut dengan belasan artis pendukung siap memanaskan panggung kampanye.
“Saya sendiri matok harga saat ini Rp 6 juta untuk pribadi. Kalau untuk grup Rp 25 jutaan seperti manggung di hajatan, tapi itu nanti akan disesuaikan kondisi lapangan,” kata Diana saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat pekan lalu. Dia mencontohkan bayaran tampil di Subang berbeda dengan di Cirebon.
Dia mengaku keuntungan goyang di panggung politik bukan hanya sekadar materi. Dengan massa hingga ribuan, popularitasnya dan grupnya meroket. Namun dia menilai kampanye sekarang berbeda dengan masa lalu. Orang baru mau datang ke lokasi kampanye kalau dibayar.
Barangkali uang hasil pentas di acara pernikahan bisa lebih besar ketimbang saat kampanye. Tapi, dia menyebut, lagu Dahlan Style bikinannya kian populer lantaran menjadi lagu wajib saban kali Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan bersenam pagi.
Hanya saja tahun ini dia mengaku belum mendapat order manggung dari partai atau calon anggota legislatif. "Mungkin karena telah manggung untuk Dahlan, yang lain belum mengontak,” katanya. Berbeda dengan artis pendukung, masih banyak pesanan manggung.
Topik pilihan: Partai Golkar | Capres 2014
Artis sekaligus pencipta lagu dangdut asal Jawa Barat, Abun, mengaku lima tahun lalu, saat musim kampanye dimulai, pendapatan grup dan artis dangdut lokal meningkat. Harga artis dangdut yang belum tenar saat manggung di hajatan atau konser kecil hanya Rp 250 ribu. Ketika kampanye akan melonjak jadi Rp 1 juta. ”Begitupun grup dangdut harganya bisa naik tiga kali lipat, rata-rata di Jawa Barat saat ini Rp 10 jutaan,” ujarnya.
Naiknya harga, lanjut Abun, karena ada risiko harus ditanggung. Biasanya kalau sudah manggung buat partai A, partai lain tidak bakal menggunakan saja mereka.
Dia mengungkapkan awal tahun ini permintaan manggung masih sangat sepi karena kampanye terbuka belum digelar. Order hanya datang dari calon anggota legislatif untuk sosialisasi secara terbatas. ”Itupun hanya organ tunggal dengan satu dua artis,” katanya.
Abun menjelaskan di Jawa Barat saat ini ada lebih dari 1.500 grup musik dangdut dengan jumlah artis ribuan orang. Saat manggung dalam kampanye suatu partai, artis mau tidak mau harus menyisipkan visi dan misi atau mengajak massa mencoblos partai mengontrak artis itu. "Tapi bukan di dapur rekaman, hanya di panggung saja dengan mengubah syairnya sedikit,” kata Abun belum lama ini mempopulerkan lagu dangdut korupsi.
(mdk/fas)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya