Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Politik lebih gila dari binatang

Politik lebih gila dari binatang Iwan Fals. ©2014 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - "Katanya jamrud khatulistiwa, nyatanya berlinang air mata," begitu reffrain dari lagu berjudul Katanya dalam album terbaru Iwan Fals bertajuk Raya. Lagu itu dibawakan Iwan saat latihan di kediamannya di Leuwinanggung, Cimanggis, Kota Depok. Meski usianya sudah 53 tahun, namun suaranya tak pernah bosan didengar telinga.

Lagu-lagu ciptaan ayah dari Galang Rambu Anarki, Cikal Rambu Basae, dan Raya Rambu Rabanni ini memang tidak lekang dimakan zaman. Dalam membuat lagu, Iwan Fals mengaku mendapat inspirasi dari keseharian. Menjelang pemilihan presiden 2004, Iwan meluncurkan album Manusia Setengah Dewa. Album itu pedas mengkritik para pemimpin.

Salah satu Iwan masih sering diputar hingga saat ini adalah Dunia Politik Dunia Para Binatang. Dalam lagu ini, dia mengkritik keras kelakukan para politikus. Mungkin itu juga menjadi alasan Iwan tidak terjun di dunia politik. Dia mengaku tidak berminat politik karena harus memutuskan.

"Saya nggak tertarik dengan politik karena harus memutuskan. Karena kuncinya di presiden," katanya kepada merdeka.com dua pekan lalu. "Keadaan darurat, harus perang, harus membunuh kalau perlu warga sendiri. Saya nggak bisa."

Berjaket coklat dan bercelana selutut usai salat magrib, Iwan menjawab semua pertanyaan di rumah utamanya. Berikut penjelasan Iwan Fals kepada Arbi Sumandoyo dan juru foto Imam Buhori usai latihan.

Kenapa dalam lagu Anda berjudul Dunia Politik Dunia Binatang Anda menggambarkan politik begitu kejam?

Saya nggak cuma omong di Indonesia tapi kadang dunia di luar. Indonesia juga berikan inspirasi. Bagaimana perang di Arab nggak habis-habis antara Israel dan Palestina. Sampai Paus omong dalam doanya untuk Suriah. Itulah politik, buah dari politik.

Ujung-ujungnya kalau kita tidak pandai mengelola ya seperti itu. Apa artinya, binatang masih lebih bagus. Ini lebih sangar mungkin. Kodok aja nggak perlu membunuh. Tapi manusia satu orang, bukan pria tapi wanita cukup pegang tombol, satu kampung kena semua.

Di Vietnam Utara itu cewek-cewek semua yang lemah lembut di belakang Knop. Bayangin itu lebih gila dari kodok, harimau, atau binatang. Mungkin untuk lagu berikutnya deh, ternyata politik lebih gila dari binatang.

Apakah ini salah satu keserakahan dari politik?

Sebenarnya ilmunya sendiri nggak salah, mungkin manusianya. Kita sama seperti pisau untuk memotong bawang atau menusuk orang, cuma sebagai alat. Tapi memang dari zaman Mahabharata memang sudah perang. Bahkan sesama saudara antara Pandawa dan Kurawa. Mati semua perang saudara. Atau cerita khalifah kita, muslim itu juga isinya pembunuhan.

Buat saya oke berjuang, tapi kalau soal nyawa itu urusan Allah. Bukan mentang-mentang urusan Allah kita jadi nggak ada takutnya, nggak ada hormatnya. Kenapa nggak kita omong kehidupan. Kalau kematian nggak usah diomongin. Dana kematian itu jumlahnya miliaran, triliunan dolar.

Coba untuk kapal perang dan senjata-senjata, berapa habis? Kenapa nggak kita alihkan ke sumbangan. Ini yang kebablasan, tapi kalau kita nggak bangun militer nanti negara lain kuat kita diserang. Semua jadi ketakutan. Padahal ujung-ujungnya ditaruh di gudang, karatan.

Saya nggak tertarik dengan politik karena harus memutuskan. Karena kuncinya di presiden. Keadaan darurat, harus perang, harus membunuh kalau perlu warga sendiri. Saya nggak bisa.

Apa pandangan Anda terhadap pemimpin di Indonesia dari dulu hingga sekarang?

Saya bukan pengamat politik yang baik, saya nggak tahu. Pak Soekarno, bapak proklamasi. Kita tahu pernah dipenjara, jelas lawannya. Setelah itu ganti Pak Harto lebih parah, pokoknya orang harus banyak duit. Banyak duit dari mana dulu nih, apa tebang hutan, peptisida. Ada dampaknya juga.

Katanya tanah nggak subur lagi karena pupuk semakin banyak, tanah jadi sakit dan penghasilan kurang. Tapi pembangunan ekonomi, keamanan, buktinya 30 tahun lebih, itu kan bukti orang juga suka. Lalu ada Habibie terusin, mungkin karena terlalu bebas sehingga Timor-timur lepas walau pesawat dia bisa buat.

Lalu Gus Dur seremonial habis. Ada yang sok jaim-jaim habis semua dan terhibur juga kita. Saya pengagum dia, lumayan bisa ketawa kita. Gus Dur walau pas-pasan kita bisa ketawa lah. Ada lelucon-lelucon menghibur rohani. Karena kondisi fisik, banyak orang gelisah.

Kemudian diganti Megawati, satelit dijual. Tapi rupanya alasannya saya baca kemarin karena memang harus dijual karena kita nggak punya uang saat itu. Saya nggak paham juga karena saya nggak gteliti soal itu. Tapi itu yang menonjol di masyarakat.

Kemudian SBY dua periode. Kalau dia nggak berhasil harusnya dicoret dari periode kedua. Berarti ada satu keberhasilan dari SBY sehingga bisa dua kali terpilih meski wakil presidennya dua kali juga diganti. Hanya banyak ahli agama kecewa sama SBY, saya kaget juga itu.

Ada 19 kebohongan SBY. Ini orang ahli agama yang omong. Bayangin orang agama aja omong begitu, apalagi saya kan umat. Sampai ahli agama aja omong begitu berarti kan ada sesuatu. Sesuatu itu yang saya kurang paham karena banyak media. Media ini punya ini, media ini omongnya lain, media ini omongnya begini. Mana yang bener saya nggak tahu.

Atau masalah kerukunan umat beragama?

Ada lagi soal Ahmadiyah, Syiah lah. Gereja sudah dikeluarkan izin sama Mahkamah Agung tapi sama wali kotanya nggak dikeluarin. Terus orang sampai kebaktian di luar, di depan istana, Di Bekasi katanya juga gitu. Terus yang Syiah di Madura. Saya lihat di Youtube sampai ibu-ibu itu omong, bukan orang tua tapi bayi juga harus dimatiin. Ditanya sama wartawan kenapa harus dimatiin karena menular.

Segitu seramnya, segitu kejamnya dan itu semua ada di jempol kita semua. Tapi ya kereta masih jalan, apotek masih jalan, sekolah masih, kantor-kantor masih ada. Fasilitas umum masih bergerak. Bahkan diklaim ekonomi kita masih bertahan. Negara-negara lain sudah jungkir balik, kita masih bertahan. Saya juga tahu tapi saya nggak ikutin itu semua.

Alhamdulilah kehidupan pasar masih buka, gairah di jalan, orang kena macet di bus, bertahun-tahun, berhari-hari di jalan tetap sabar. Ini kan potensi luar biasa untuk pemimpin ke depan. Masyarakat seperti ini jangan disia-siakan, punya daya tahan luar biasa. Mudah-mudahan rakyat baik ini dapat pemimpin baik juga.

Itu salah satu harapan Anda juga?

Kalau sampai mereka marah punya ketahanan luar biasa juga untuk marah. Untuk menahan saja sudah luar biasa kok. Kalau dia kuat di satu sisi berarti sisi lain juga dan itu selalu begitu. Jadi tolong jangan sampai pemimpinnya sewenang-wenang. Nah mudah-mudahan dengan kemajuan teknologi segala macem kita makin siap punya pemimpin nggak kurang ajar.

Anda punya banyak penggemar, apakah di tahun politik ini ada yang mencoba mendekat, menggaet, atau mencari dukungan?

Saya kan coblos mulai dari umur 17 apa 18. Umur 21 waktu Oemar Bakri sudah punya hits sudah coblos. Itu pasti banyak tuh. Dulu kan hanya tiga partai, ada Golkar, PDI, dan PPP. Semua dateng. Karena bukan bidang saya, saya nggak mengerti.

Akhirnya saya dipakai Golkar untuk pulau ini, dipakai PPP di pulau ini sampai pemilu berikutnya. Mungkin ada sekitar tujuh kali pemilu, ada sekitar lima kali saya didatengin sama orang-orang itu. Akhirnya mereka bosan juga karena tahu jawabannya, dia nggak ikut-ikutan soal itu, netral.

Memang saya tahu diri, saya nggak mampu kalau soal itu. Urus diri aja nggak becus apalagi urus soal itu. Setiap ada orang dateng ada yang mengerti juga. kalau ada yang nggak mengerti saya jelasin. Kalau ada ngotot saya jelasin juga. Bayangin coba, pembeli lagu saya ada di mana-mana. Ada di merah, biru, kuning, A-Z.

Kalau saya memilih salah satu, yang lain marah dong. Bukan saya mau sok bijak atau apa. Posisi saya nggak memungkinkan untuk itu kecuali saya jualan CD hanya di Golkar atau di lainnya, orang saya jualan di pasar. Pasar kan milik semua orang. Saya menghargai itu.

Terima kasih sudah diajakin, Satu nggak menguasai ilmu politik dan kedua saya nggak bisa memihak. Kalau saya memihak berarti saya sudah mengkhianati pasar saya. Kalau memihak nanti yang lain bagaimana? Itu yang saya pikirkan.

Ketika pemilihan legislatif dan menjelang pemilihan presiden, ada yang mencoba mendekat?

Oh iya tapi bukan teman-teman politiknya. Tapi saya yang aktif. Kadang saya godain, “Saya gemes juga nih, saya pengen masuk juga." Kalau kemarin Pak Jokowi ke sini atau Pak Ahmad Heryawan ke sini dia tonton konser Pelangi waktu itu bertajuk Merah. Kemudian ada Budiman Sudjatmiko kasih buku ke saya karena senang lagu-lagu saya. (mdk/fas)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP