Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Para pencari suaka di Jalan Jaksa

Para pencari suaka di Jalan Jaksa Pencari Suaka di depan kantor UNHCR. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Waktu baru menunjukkan pukul tujuh malam saat merdeka.com menyambangi Jalan Jaksa, Menteng, Jakarta Pusat, Senin pekan lalu. Namun suasana awal pekan itu sudah mulai riuh. Cafe dan club malam di jalan itu sudah mulai ramai. Musik disko terdengar hingga ke luar jalan. Sementara di bagian luar, pelancong asal Eropa asyik duduk di bangku cafe. Ada tiga pelancong berwajah Eropa, satu lelaki dan dua wanita. Dia atas mejanya ada sebotol bir.

Jalan Jaksa begitu sebutan dikenal hingga kini. Di jalan ini juga memang tersohor menjadi pusat hiburan para pelancong dari berbagai negara. Saban malam mereka berkumpul di jalan itu. Ada yang sekedar duduk dan minum, banyak juga yang kemudian keluar dalam keadaan mabuk. Namun tak jauh dari Jalan Jaksa, banyak juga warga negara asal Timur Tengah mendatangi kawasan ini. Mereka bukan lah pelancong, melainkan pencari suaka.

Banyaknya para pencari suaka ini bukanlah tanpa alasan. Sebab di Jalan Kebon Sirih II, berdiri kantor United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Malam Senin pekan lalu, lima orang pencari suaka asal Timur Tengah kebetulan tidur di depan kantor UNHCR. Warga tinggal di sekitar Jalan Jaksa maupun pedagang sudah mahfum jika mereka adalah para pencari suaka. Pencari suaka adalah seseorang yang menyebut dirinya sebagai pengungsi, namun permintaan mereka akan perlindungan belum selesai dipertimbangkan.

"Memang sudah lama sering berada di sini. Bahkan belum lama 20 orang diangkut Dinas Sosial," ujar Enci, pemilik warung tak jauh dari kantor UNHCR saat berbincang dengan merdeka.com, Senin pekan lalu.

Lima orang pencari suaka itu asyik tidur layaknya Tuna Wisma. Tampak dari raut wajah sudah berhari-hari berada di sana. Wajahnya kusam dan pakaian dikenakan pun kotor. Saban hari mereka membawa tas berisi perlengkapan yang digendong ke mana pun pergi. Mereka adalah para pencari suaka terdampar di Indonesia khususnya di Jakarta. Tidak hanya terdiri dari orang dewasa, mereka juga terdiri dari para remaja. Setiap pagi ketika hari kerja, para pencari suaka itu mengantre di pintu belakang kantor perwakilan komisioner tinggi PBB untuk pengungsian, UNHCR.

Data dari UNHCR Menyebutkan jika kurun waktu bulan Maret 2016, tercatat sebanyak 6.467 orang pengungsi dan 7.381 orang pencari suaka mendatangi Indonesia. Paling banyak mereka berasal dari negara-negara Timur Tengah sedang dirundung konflik. Adalah Afganistan sebanyak 50 persen, Myanmar sebanyak 10 persen dan Somalia sebanyak 5 persen. Tiga negara itu aling banyak warganya mencari suaka dan datang ke Indonesia. "Kalau komposisi terbesar Afganistan, Myanmar, Somalia," ujar Public Information Officer UNHCR, Mitra Salima Suryo saat berbincang melalui sambungan seluler, pekan lalu.

Mitra menjelaskan, sebetulnya UNHCR saat ini sama sekali tidak pernah memberikan bantuan baik berupa uang atau pun hal lain. Namun jika UNHCR akan memberikan bantuan jika mereka membutuhkan. Sejauh ini hanya kata Mitra, para pencari suaka itu terdiri dari lanjut usia, anak-anak maupun remaja. Mereka datang tidak sendirian melainkan membawa anggota keluarganya.

"Kami mengutamakan mereka dan kita hanya memberikan 400-500 orang, yang lebih banyak memberikan logistik," ujar Mitra.

Mohammad Abdul Aziz, 29 tahun, salah seorang pencari suaka asal Somalia menuturkan, dia sudah berada di Indonesia selama tiga tahun. Saban hari dia mondar-mandir ke kantor UNHCR untuk mendapatkan kepastian. Dia pun hingga kini masih menunggu pihak UNHCR memberikan kartu indentitas. "Saya sudah tiga tahun di sini. Masih menunggu kelengkapan berkas dari UNHCR," ujarnya dengan bahasa Indonesia saat ditemui di depan kantor UNHCR, Senin malam pekan lalu.

Aziz memang salah satu dari pencari suaka yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Untuk sampai ke Jakarta, Aziz mengaku melintasi beberapa negara seperti Yaman, Arab Saudi, Malaysia, hingga akhirnya sampai di Indonesia melalui Batam.

Menurut pengakuan Aziz, dia bisa hidup bertahan selama tiga tahun di Jakarta karena setiap bulan mendapat kiriman dari keluarganya berada Yaman. Tetapi sebelumnya kata Aziz, enam bulan pertama menginjakkan kakinya di Jakarta, UNHCR masih memberikannya uang sebesar Rp 1 juta setiap bulan untuk biaya hidup. "Aku sekarang tinggal indekos di sekitar sini. Setiap hari ya aku begini saja. Ya seperti ini saja kerjaan aku," ujar lelaki yang sudah memiliki istri dan tiga orang anak di Yaman ini.

Azis menuturkan, selama berada di Indonesia dan mondar-mandir di Jalan Jaksa dia mendapat simpati dari warga tinggal di daerah itu. Bahkan, Azis pun disuruh tinggal di loteng milik salah satu warga yang tinggal di Jalan Jaksa. Menurut Enci, diterimanya Azis tinggal di loteng milik warga karena warga bersimpati kepada dia. Saban hari Aziz sering membantu untuk menyapu dan mengepel rumah. "Lama kelamaan ibu yang di situ tempat Aziz tinggal jadi baik ngasih tempat tinggal (di atas loteng)," ujar Enci. Namun menurut Enci, lama kelamaan Aziz berulah. Kadang Aziz suka mencuri di warung milik warga. Bahkan Aziz juga meminta bayaran kepada pemilik rumah sebagai ongkos menyapu dan mengepel.

"Semakin lama dia malah ngelunjak suruh nyapu dikasih upah Rp 10 ribu enggak mau, malah minta Rp 50 ribu. Dia juga suka ngambil minuman enggak bayar," ujarnya.

Enci juga mengeluhkan keberadaan para pencari suaka sering datang ke kantor UNHCR. Menurut dia, lama kelamaan, para pencari suaka ini kerap membuat masalah. Tak jarang kata Enci, para pencari suaka ini sering membuat onar dengan warga sekitar. Mulai dari sering mencuri barang dagangannya di warung, meminta uang untuk beli rokok. "Nci saya boleh minta uang Rp 10 ribu nanti saya ganti deh," ujar Enci sambil menirukan gaya salah satu pencari suaka biasa meminta uang kepadanya. (mdk/arb)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP