Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Nista sepanjang masa

Nista sepanjang masa J. Bruce Ismay, pemilik kapal Titanic. (british national museum)

Merdeka.com - Titanic dirancang menjadi kapal paling mewah pada masanya. Pria yang memiliki gagasan itu adalah J. Bruce Ismay. Namun, setelah tragedi Titanic, dia mendapat julukan 'pengecut paling hina di dunia', seperti ditulis surat kabar the Telegraph, edisi 3 Agustus 2011.

Ismay lahir di kota Lancashire, Inggris, pada 12 Desember 1862. Keluarganya sejak lama berkecimpung di dunia perkapalan. Setelah dewasa, dia mendapatkan warisan bisnis pembuatan kapal. Di tangan Ismay, perusahaan keluarga itu diubah menjadi perusahaan jasa pelayaran antar benua.

Peruntungan Ismay berubah pada periode 1907. Bisnis pelayaran lintas Samudera Atlantik sedang berjalan sengit. Perusahaan White Star Line milik Ismay terancam dengan munculnya kapal Lusitania milik perusahaan saingan Cunard yang menawarkan kecepatan. Alhasil, warga Eropa yang ingin ke Amerika Serikat dan sebaliknya lebih memilih naik Lusitania.

Ismay tidak ingin bersaing dalam kecepatan. Dia memilih menawarkan hal berbeda. Dalam bayangan Ismay, kapal ini adalah hotel bintang lima yang mengapung di air. Mulai dari fasilitas hiburan sampai kamar tidur harus berkualitas.

Dia sangat perhatian dengan Titanic. Siang malam Ismay memantau pembangunan kapal termewah dan terbesar di masa itu. Bahkan, setelah kapal itu selesai dibuat dan menjalani uji coba, dia sempat menyatakan kepada pers kapal itu tidak akan bisa tenggelam. Bisa dibilang, Titanic bagai anaknya sendiri.

Namun, nasibnya benar-benar hancur ketika Titanic memulai pelayaran resmi pada 10 April 1912. Di malam nahas saat kapal itu menyerempet bongkahan es raksasa, Ismay bertindak amat pengecut. Tidak seperti sang nahkoda, Edward Smith, yang memilih bertahan dan ikut tenggelam, dia malah meloncat dari kapal dan langsung ikut naik perahu penyelamat bersama wanita dan anak-anak.

Itu cerita versi Ismay. Para korban selamat bersumpah melihat dia naik perahu pertama kali tanpa mengajak penumpang lain. Beberapa saksi juga melihat dia tidak mau mendayung selama proses evakuasi. Kepada pers, dia mengaku terpukul karena kapal kebanggaannya hancur. "Saya bersyukur memilih tidak melihat Titanic tenggelam," ujar Ismay.

Bahkan, sesudah sampai kapal penyelamat Carpathia, dia minta tidur di kamar, tidak di geladak seperti korban lain. Sontak, media dan masyarakat Amerika menghina dia habis-habisan saat korban mendarat di pelabuhan New York. Dia disebut pengecut nista.

Nasibnya makin tragis ketika kembali ke negara asalnya, Inggris, sebulan setelah insiden. Sebuah syair dibikin sastrawan Ben Hect membandingkan tindakan sang nahkoda dengan Ismay. Salah satu baitnya berbunyi, "Mati di laut adalah nasib mulia seorang pelaut, lari bersama wanita dan anak-anak adalah tugas mulia seorang pemilik kapal".

Istrinya minta cerai karena tidak tahan dihina kalangan terpandang London. Kedudukannya sebagai ketua asosiasi pengusaha pelayaran langsung dicabut. Dia kehilangan semua status sosial sebagai pengusaha kaya. Beberapa bilang, warga London seperti mengucilkan Ismay.

Hingga akhir hayatnya pada 1936, Ismay jarang keluar rumah. Dia memilih pindah ke pedalaman Irlandia, jauh dari penduduk. Namun, dia tampaknya ingin menebus dosa karena bertindak pengecut. Di usia senja, dia sempat menyumbang jutaan dolar ke sebuah pusat pelatihan marinir Inggris. (mdk/fas)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP