Niat ke Australia menyasar Cisarua
Merdeka.com - Puluhan pemuda berwajah arab berusia belasan tahun itu asyik belajar bahasa Inggris di sebuah rumah tak jauh dari Kebun Binatang Taman Safari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jaraknya hanya sepelempar batu dari Warung Kaleng dikenal banyak pelancong asal Timur Tengah biasa liburan. warung itu terletak di perbatasan antara kabupaten Bogor dengan Kabupaten Cianjur , Jawa Barat.
Zahra, baru saja tiba dari arah Jalan Raya puncak buat ikut pelajaran Bahasa Inggris di sebuah kontrakan di Desa Batu Layang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Dia juga kebetulan tinggal di salah satu kontrakan hanya beberapa meter dari tempatnya belajar bahasa. Sudah tiga tahun ini Zahra berada di Indonesia. Hingga kini niatnya mencari Suaka ke Australia masih belum jelas. "Saya sudah 3 tahun di Indonesia," kata Zahra dengan bahasa Inggris terbata-bata. Wajah Zahra cantik. Dia berasal dari Iran. Namun sejak tiga tahun lalu, dia memutuskan untuk mencari suaka ke negeri kanguru.
"Di Iran kami tidak diberikan Visa. Tetapi itu bisa diberikan ketika kita berada di bandara," Kata Zahra. "Saya gerogi di wawancara kamu," katanya sambil tersenyum.
Selain Zahra, puluhan remaja asal timur tengah kebetulan memang sedang belajar Bahasa Inggris. Ada dua rumah dipakai untuk mereka yang mau menambah keahlian bahasa sebagai modal mencari suaka. Salah seorang pemuda asal Afganistan mencoba menyapa dengan bahasa sunda. "Kang kumaha damang," logat bicaranya lucu ketika dia mencoba menyapa merdeka.com di depan ruang les itu. "Do you speak Indonesian?...Yes," sayang pemuda itu tak sempat diwawancarai karena kebetulan ayahnya sudah menjemput di depan rumah tempat dia belajar bahasa Inggris.
Haji Royani, pemilik kontrakan tempat para pencari suaka asal Timur Tengah itu menyewa tempat untuk singgah mengaku tak tahu tujuan mereka datang ke kawasan dekat Puncak, Kabupaten Bogor itu. Menurut dia, biasanya para pencari suaka ini hanya tinggal paling lama sebulan di kontrakannya. Setelah itu mereka berpindah rumah kontrakan. "Mereka tidak lama di sini," ujar Haji Royani menuturkan. Dia pun mengaku tak pernah mengobrol dengan pencari suaka itu. "Kamu bisa tanya mereka yang tinggal di sini. Silakan bisa kamu mengobrol dengan mereka" katanya sambil menunjuk rumah kontrakan berisi para keluarga pencari suaka.
Bagi Haji Royani, keberadaan para pencari suaka asal Timur Tengah itu tak menjadi masalah asal mereka memiliki surat-surat lengkap ketika menyewa kontrakan miliknya. Di kontrakan berada di dekat rumahnya itu, kata Haji Royani kebanyakan diisi oleh pencari suaka asal Afganistan. Selain itu ada juga para pencari suaka dari Iran.
Royani pun menunjuk salah satu kontrakan miliknya berjejer empat pintu. Kontrakan itu bentuknya memanjang. Di tempat yang dia tunjuk, ada sekitar tiga orang wanita muda berwajah arab. Wanita itu kebetulan tinggal bersama anak-anaknya. "Sebagian sudah ada yang bisa berbahasa Indonesia," ujarnya.
Sebetulnya keberadaan para pencari suaka asal Timur Tengah ini bukan hanya berada di Desa Batu Layang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Di Desa Tugu Utara, tepat berada tidak jauh dari Batu Layang, banyak juga para pencari suaka ini menyewa tempat tinggal. Termasuk juga di Desa Tugu Selatan dan Kampung Sampay.
Sri salah seorang warga tinggal di Desa Tugu Selatan mengatakan jika para pencari suaka biasa disebut imigran oleh warga ini memang banyak tinggal tak jauh dari Warung Kaleng. Mereka kata Sri, banyak yang menyewa kontrakan dan juga menyewa vila di tiga desa tersebut. Keberadaan para pencari suaka ini menurut Sri juga tak banyak memberi kontribusi bagi warga. Dia pun tak mengetahui sejak kapan mereka berada di sini. Namun Sri mengetahui jika para pencari suaka ini memang memiliki perbedaan dengan pelancong asal Arab Saudi biasa liburan di kawasan puncak.
"Mereka itu kebanyakan tidak punya uang," ujar Sri saat ditemui di kedai kopi kawasan Warung Kaleng.
Asep Ma’mun Nawawi, Kepala Desa Tugu Utara saat ditemui di kantornya menuturkan, keberadaan para pencari suaka atau biasa disebut imigran oleh warga ini memang banyak memberikan dampak baik positif dan negatif. Menurut Asep, keberadaan baik pelancong maupun pencari suaka secara tidak langsung juga memberikan lapangan pekerjaan baru bagi warga. Namun di lain sisi, kehadiran mereka memberikan dampak negatif. Misal, pernah ada image buruk mengenai warganya di sebut sebagai tukang kawin kontrak.
Padahal kata Asep, ketika dia melakukan pemeriksaan, kebanyakan para pelaku kawin kontrak itu bukanlah warganya, melainkan pelacur yang memang sengaja dinikahi oleh orang Arab Saudi datang sebagai pelancong. "Memang ada semacam sindikat, jadi ada oknum mulai dari calo hingga wanita yang akan dikawini," ujar Asep. Dia menambahkan, para pelancong juga pelaku kawin kontrak itu memang sengaja menikahi si pelacur untuk mencegah zina.
"Ada memang orang Saudi yang seperti itu. Tetapi kalau yang muda dia biasa juga pakai PSK," katanya. (mdk/arb)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya