Mereka mengaku pernah korupsi
Merdeka.com - Jangan jadikan tulisan ini sebagai inspirasi. Mereka hanya mau berbagi kisah tentang rasuah, dan bukan buat diikuti.
Sadar atau tidak, mungkin di antara Anda pernah melakukan korupsi seperti para terpidana merugikan uang negara. Meski kisaran yang dipakai sangat sedikit, bukan berarti tak berdampak kepada orang lain.
Aria, seorang bocah kelas 4 SD mengaku sering menggunakan uang sisa belanja diberikan ibunya secara diam-diam. Namun dia enggan disamakan dengan koruptor.
"Kalau dibilang kaya pejabat yang suka korupsi, ya enggak. Aku kan ngambil uangnya cuma seribu, itu juga jarang. Kalau pejabat kan banyak korupsinya sampe em-em-an (miliaran)," kata Aria sambil bergurau ketika ditemui merdeka.com pekan lalu di Jakarta.
Aria juga tidak merasa malu karena sering menggunakan uang sisa belanja tanpa sepengetahuan orang tuanya. Dia berdalih perilaku yang sering dilakukan tidak merugikan banyak orang dan negara. Banyak teman-temannya juga melakukan yang sama.
Tak hanya kalangan usia dini saja yang melakukan korupsi kecil-kecil di kesehariannya. Seorang guru honorer di Cibubur, Jakarta Timur, Nurul Fauziah (23), mengakui dalam kehidupan sehari-harinya disadari maupun tidak disadari pernah korupsi.
Bukan menerima uang sogokan dari orang tua dari anak-anak muridnya. Tetapi, dia sering mengacuhkan waktu dan sering merugikan banyak orang. Bahkan, kata Nurul dia selalu dikritik banyak teman-temannya karena datang telat.
"Bukan nyogok sih. Kalau soal uang Insya Allah saya enggak. Tapi saya suka korupsi waktu, dateng telat alias ngaret. Itu kan korupsi juga, bisa ngerugiin orang lain," kata Nurul.
Begitu juga Ricky Sudrajat (22), mahasiswa di salah satu kampus di Jakarta. Dia menceritakan pernah mengambil uang bukan haknya. Ketika duduk di bangku sekolah menengah, seharusnya dia tidak mendapatkan keringanan biaya atau gratis. Sebab keluarganya tergolong mampu membayar iuran sekolah.
"Seharusnya kayak gitu. Saya enggak dapet dana BOS atau seperti biaya gratis. Seharusnya ada anak murid yang lebih membutuhkan dari saya," kata Ricky.
Hanya, kata Ricky, tindakan korupsi kecil disengaja atau tidak dapat menimbulkan dampak yang besar di kemudian hari. Koruptif itu sudah menjadi akut di semua elemen masyarakat, tidak hanya pada birokrat dan pejabat. Masyarakat biasa pun dengan tidak sadar melakukan korupsi.
"Tindakan korupsi di Indonesia menurut saya sudah fatal bahkan sudah jadi tradisi hampir di setiap birokrasinya, dari mulai korupsi waktu, pungli," kata Ricky.
Dia pun menceritakan kasus kecil saat membuat KTP elektronik (e-KTP), dengan birokrasi yang berbelit. Para oknum-oknum yang memanfaatkannya. Melakukan pungli kepada warga yang ingin membuat e-KTP. Walaupun hal tersebut, kata dia tidak merugikan negara tetapi tindakan tersebut sama dengan korupsi karena merugikan rakyat.
Menjelang hari antikorupsi dunia pada 9 Desember, baik Ricky maupun Fauziah berpendapat peringatan itu tidak hanya sekedar perayaan. Namun nilai-nilai antikorupsi harus tertanam di setiap warga masyarakat. Karena menurut mereka korupsi tidak selalu melibatkan pejabat dan uang yang sangat besar. Yang perlu dihindari adalah perilaku-perilaku koruptif dalam kehidupan sehari-hari.
(mdk/ary)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya