Mengeruk Pundi-Pundi Memanfaatkan Pandemi
Merdeka.com - Pandemi berbuah bencana untuk pasangan suami istri ini. Bukan karena kehilangan orang dicintai. Mereka harus berurusan dengan polisi dan mendekam di bui.
AEP dan TS bersekongkol mencari keuntungan di tengah kesulitan. Kartu vaksinasi Covid mereka palsukan. Demi pundi-pundi kekayaan.
Kisah suami istri di Bogor ini bukan satu-satunya. Banyak kasus serupa diungkap. Ragam modus dilakukan. Memperdaya mereka yang membutuhkan.
Catatan kepolisian. Kasus memanfaatkan situasi pandemi bukan cuma pemalsuan. Sejumlah orang juga melakukan penimbunan. Mulai tabung oksigen hingga obat-obatan.
Data Mabes Polri pada akhir Juli lalu, sebanyak 33 kasus penimbunan obat terapi Covid-19 dan tabung oksigen, ditemukan. Para pelaku juga menjual obat di atas harga eceran tertinggi (HET) dan tanpa izin edar.
Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Rusdi Hartono, memastikan. Kepolisian terus memantau dan menindak praktik ilegal memanfaatkan pandemi.
"Kita dapat melihat ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi sulit seperti ini. Mencari keuntungan dengan cara-cara yang ilegal, melakukan penimbunan, melakukan transaksi penjualan obat tentunya di luar daripada ketentuan," kata Rusdi beberapa waktu.
Bagi sebagian orang, pendemi mungkin bukan kesulitan. Justru, sebuah kesempatan. Memanfaatkan keadaan. Agar hidup menjadi lebih mapan.
Kriminolog Universitas Budi Luhur, Chazizah Gusnita, mengatakan maraknya bisnis ilegal terkait penanganan pandemi karena kondisi ini dianggap sebagai kesempatan emas dan peluang besar mendapatkan keuntungan.
Dia menjelaskan, tingginya kebutuhan masyarakat khususnya di bidang kesehatan menjadi lapak segar bagi mereka yang terbiasa menggerakkan bisnis kejahatan.
"Artinya memanfaatkan segala sesuatu untuk diperjualbelikan dengan cara yang ilegal tadi. Misal, masker sejak awal pandemi sudah muncul problematika tentang masker. Kenapa? Kebutuhan akan masker tinggi. Ada penimbunan, ada yang meningkatkan harga berkali kali lipat. Hal-hal yang ilegal sebenarnya nggak patut untuk dilakukan justru dibisniskan," katanya kepada merdeka.com, Selasa (3/8).
Kelompok ini juga melihat ada kesempatan. Dia mencontohkan, saat pelaku kejahatan beralih target tidak lagi melakukan kejahatan konvensional seperti curanmor.
"Jadi seperti masker, oksigen, PCR ternyata jauh lebih menguntungkan secara bisnis kejahatan dengan menggunakan peluang-peluang yang seperti ini daripada yang curanmor kejahatan konvensional misalnya, risiko jauh lebih tinggi," jelasnya.
Alasan lain praktik ilegal ini mendadak tumbuh subur karena pelacaknya cenderung sulit.
"Tingkat ketahuannya jauh lebih rendah. Masyarakat sadar nggak sadar. Sadarnya setelah sekian lama kaya PCR di Medan kemarin. Kayak masker kemarin, setelah sudah untung banyak baru terungkap," katanya.
Selain itu faktor ekonomi juga mempengaruhi. Chazizah mengatakan, di saat ekonomi yang serba sulit seperti ini banyak masyarakat ingin meraup untung banyak dalam waktu singkat.
"Karena himpitan ekonomi yang cukup berat pada saat ini situasinya seperti ini, mau tidak mau harus mengikuti pola hidup baru akhirnya ya sudah ada kesempatan ini munculah tadi suatu tindak pidana yang mengaitkan dengan situasi kondisi covid ini," ujar Chazizah.
Chazizah juga menyatakan banyak pelaku kejahatan yang sudah tidak memikirkan sisi kesulitan orang lain. Yang ada di otaknya, hanya bagaimana bisa bertahan hidup dan mendapat untung.
"Apalagi kondisi seperti ini sudah mau orang mati sekalipun dia mungkin tidak peduli, yang penting dia tetap bertahan hidup. Menjalankan hidup, dapat untung, dia bisa menikmati keuntungannya hal sedemikian rupa seperti yang terjadi dalam bisnis kejahatan," tutup Chazizah.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya