Menengok Bawah Tanah Jakarta
Merdeka.com - Ria (30) merasakan betul perubahan di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Berjalan kaki dari Stasiun KRL ke kantornya, karyawan bank swasta itu tak lagi terganggu pemandangan semrawutnya kabel-kabel dan tiang di sepanjang trotoar. Wilayah Cikini memang menjadi daerah percontohan kawasan bebas kabel udara.
"Dilihat juga jadi indah, rapi gitu jalannya," ujarnya ketika ditemui merdeka.com, pekan lalu.
Sebelum penataan dilakukan Pemprov DKI pada 2019 lalu, kabel menjuntai dan tiang yang menghalangi pedestrian membuat Ria selalu was-was saat melintas.
"Kalau dulu kan di sini (trotoar) ada tiang listrik dan kabel-kabel sampai kendor gitu. Saya juga pernah melihat pas ada pohon roboh, kena kabel itu kan bahaya. Untungnya pohonnya kecil dan masih bisa ketahan sama kabel itu. Jadi kayaknya lebih aman di bawah tanah deh," tuturnya.
Cerita yang sama juga disampaikan Ruli, pedagang kopi keliling yang biasa mondar-mandir di kawasan itu dengan sepeda. Kabel putus menjadi pemandangan sehari-hari.
"Dulu di sini kan terkenal dempet-dempetan kabelnya, kadang-kadang turun sampai bawah, bisa kena orang-orang," ujarnya.
Pantauan merdeka.com, di Jalan Cikini Raya, tidak ada lagi jaringan kabel udara di pinggir jalan. Kawasan itu menjadi salah satu tempat pelaksanaan penataan sarana jaringan utilitas terpadu (SJUT) yang diresmikan Gubernur Anies Baswedan. Semua jenis kabel yang tadinya berada di atas jalan, kini tersembunyi di dalam tanah.
©2022 Merdeka.com/bachtiaruddin alam
Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugroho mengatakan, total panjang kabel utilitas (kabel PLN, telepon dan fiber optic) di Jakarta saat ini sekitar 16.925,73 kilometer.
Pembangunan SJUT direncanakan sampai tahun 2023 terhitung dua tahun sejak Kepgub penunjukan lokasi SJUT kepada BUMD di tahun 2021. Dibutuhkan sepanjang 223,796 kilometer saluran jaringan utilitas terpadu (SJUT) untuk menata kabel-kabel itu.
Pengamat perkotaan Yayat Supriatna menilai, pembenahan kabel semrawut di Jakarta sulit dilakukan serentak di semua wilayah. Penataan akan lebih mudah jika dipadukan dengan konsep revitalisasi kawasan, seperti yang dilakukan di Kota Tua. Wilayah lainnya yang bisa dibenahi adalah kawasan yang dikuasai dan dikelola oleh pengembang seperti SCBD.
"Artinya diterapkan pada kawasan-kawasan yang memang direncanakan sejak awal tidak ada lagi sistem kabel yang melintang. Dan semua bangunan yang ada baik kantor, rumah sakit, atau rumah sudah punya sistem jaringan koneksi. Jadi tidak perlu lagi menggali. Itu hanya bisa dilakukan jika semuanya direncanakan sejak awal," ujarnya.
Merapikan Bakmi Hitam
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSebuah mobil pikap putih bertuliskan Dinas Bina Marga DKI Jakarta melintas di Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan pekan lalu. Di bak mobil terlihat berbagai jenis kabel yang terpotong. Kabel-kabel itu merupakan hasil pembersihan di kawasan Mampang.
Pemotongan kabel merupakan tindak lanjut dari Pergub Nomor 106 Tahun 2019 tentang Pedoman Penyelenggaraan Infrastruktur Jaringan Utilitas. Dalam pergub itu diatur, setiap instansi wajib menempatkan jaringan utilitas miliknya pada SJUT yang disediakan Pemprov DKI.
Sanksinya tegas, teguran hingga peringatan tertulis. Paling berat adalah pemotongan kabel dan pencabutan tiang atau bangunan pelengkap jaringan utilitas dan penangguhan permohonan izin baru selama satu tahun.
Kabel semrawut rupanya menjadi salah satu perhatian Anies dalam membenahi Jakarta. Pada Senin 5 September lalu, Anies memimpin seremoni pemotongan mandiri kabel udara di Mampang Prapatan, Jaksel. Anies mengibaratkan kabel fiber optic yang semrawut layaknya bakmi hitam.
"Kabel ini bergerak di atas sehingga menjadi pemandangan unik karena difoto seperti bakmi hitam yang menggantung. Saking lamanya, dianggap biasa banyaknya kabel. Ini dianggap fakta, bukan masalah. Sekarang kita lakukan perubahan," ucap Anies.
Penataan kabel, lanjut Anies, akan membuat Jakarta semakin indah, mobilitas pejalan kaki tidak terganggu, operator memiliki jaminan perawatan, dan keselamatan lebih terjamin. Anies mengatakan program tersebut dilakukan untuk mewujudkan Future Jakarta dan Jakarta Smart City.
"Nanti sudah tuntas, Jakarta akan bersih dari kabel, jadi cantik dan aman. Dijaga konsistensinya untuk penuntasan ini karena bukan sesuatu yang sederhana," kata Anies.
Dalam acara itu, Anies didampingi perwakilan tiga operator telekomunikasi yakni PT Telkom Indonesia Tbk, PT Mora Telematika Indonesia, dan PT Link Net Tbk. Penurunan kabel ini dihadiri pula oleh Direktur Utama Jakpro Widi Amanasto dan Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugroho.
Kabel yang diturunkan di kawasan Mampang Prapatan terdiri dari 58 kabel fiber udara yang berasal dari 39 operator jaringan telekomunikasi. Anies menambahkan, dalam program SJUT tahap 1, pemotongan kabel dilakukan di tujuh ruas jalan yang berada di wilayah Jaksel. Total sepanjang 25 kilometer kabel akan disingkirkan.
"Kita ingin infrastruktur yang ada di Jakarta itu bukan hanya infrastruktur yang maju modern tapi juga penempatannya membuat mobilitas penduduk tidak terganggu baik pejalan kaki maupun kendaraan bermotor dan secara estetika menjadi lebih baik, rapi tertib," ujarnya.
Dua pekan berlalu sejak seremoni pemotongan itu, pantauan merdeka.com di Pasar Mampang, belum semua kabel dipotong. Kabel fiber optic milik operator telekomunikasi masih menggelayut di antara tiang-tiang.
Salah satu petugas keamanan Pasar Mampang yang enggan disebut namanya mengungkapkan, proses pemotongan masih dilakukan oleh petugas dari Dinas Bina Marga. Sebagian kabel yang dipotong sudah diangkat, sebagian lagi masih dibiarkan. Namun dia tidak mengetahui dibawa ke mana kabel-kabel yang sudah dipotong itu.
"Kan butuh proses buat merapikan," ujarnya singkat.
Sementara seorang petugas Dinas Bina Marga DKI berseragam kuning yang memotong kabel mengatakan, kabel-kabel yang kondisinya masih bagus akan diambil oleh pihak operator untuk dipergunakan lagi.
"Yang masih bagus dipindahin. Kalau rusak baru diganti," ujarnya.
Ujianto, warga yang sedang berbelanja di Pasar Mampang menyatakan sangat mendukung penataan kabel-kabel semrawut. Dia berharap, jalan-jalan di kawasang Mampang tidak lagi dikotori pemandangan kabel-kabel.
"Kayak di Jalan Sudirman dan Cikini gitu, kan rapi. Enak dilihatnya," ujarnya.
Dia berharap, proses pemotongan kabel itu tidak membutuhkan waktu lama. Demikian juga dengan kabel-kabel yang berada di dalam gang-gang di kawasan itu.
"Sama palingan kalau abis menggali, dirapikan lagi. Kadang cuma ditutup doang. Kan malah merusak jalan kalau gitu," pesan Ujianto.
Membangun Jaringan Bawah Tanah Terintegrasi
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDi usianya yang hampir setengah abad, Jakarta masih tertinggal dari kota-kota metropolitan dunia dalam penataan jaringan utilitas bawah tanah. Jalur kabel, terowongan air, hingga pipa gas tidak dibangun dalam sistem yang terintegrasi. Semrawut dan ruwet, pemandangan lazim sehari-hari yang dimaklumi.
Sebagai kota yang sebagian tanahnya berada di bawah tinggi muka air laut, Jakarta hingga kini tidak memiliki terowongan yang mampu menampung dan mengendalikan banjir. Pada era kolonial, Belanda membangun sistem kanal sebagai pengendali. Limpahan air dialirkan langsung ke laut.
Bandingkan dengan Tokyo yang memiliki saluran air yang dijuluki 'Katedral Bawah Tanah'. Seperti dikutip dari BBC, sistem ini terletak 22 meter di bawah tanah yang terdiri dari terowongan sepanjang 6,3 km dilengkapi dengan ruang-ruang silindris sedalam 70 meter sebagai penampung air.
Demikian juga dengan jalur pipa gas. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menargetkan pembangunan 154 ribu sambungan gas rumah tangga di Wilayah DKI Jakarta pada tahun 2022 melalui produk Gaskita Pintar.
Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN Achmad Muchtasyar mengatakan dalam pekerjaan pembangunan jargas rumah tangga di Jakarta memerlukan izin penempatan jaringan utilitas sebelum pelaksanaan pekerjaan. Jargas rumah tangga masuk ke dalam kategori jaringan utilitas, yaitu sistem jaringan instalasi dalam bentuk kabel atau pipa (jaringan utilititas).
PGN juga diberikan penugasan untuk mengembangkan jargas ke rusun-rusun di DKI Jakarta. Dalam hal ini, PGN telah bekerja sama dengan Jakpro untuk mengembangkan jargas ke 17 rusun yang dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta dengan total potensi sebanyak 11.442 unit.
Selain kabel-kabel udara dan jalur pipa gas, bawah tanah Jakarta juga dipenuhi jalur pipa air bersih milik PAM Jaya. Ada 900 ribu pelanggan. Angka itu baru 66 persen dari jumlah pelanggan yang seharusnya dilayani.
Direktur Pelayanan PAM Jaya Syahrul Hasan mengatakan, pihaknya menargetkan peningkatan cakupan pelayanan menjadi 75 persen, dan pada 2030, PAM Jaya menargetkan 100 persen cakupan pelayanan.
Syahrul menjelaskan, PAM Jaya memiliki peta jaringan perpipaan yang digunakan sebagai acuan. Setiap pekerjaan pemasangan atau relokasi pipa jika berkaitan dengan aset dari institusi lain, PAM Jaya akan melakukan koordinasi untuk memastikan pekerjaan dapat berjalan lancar dengan tetap meminimalkan dampak gangguan ke pelanggan.
Syahrul mengakui, tingkat kebocoran yang cukup tinggi dan mencapai 47 persen. Dia menyebut, kebocoran pipa terbagi dalam dua kategori yakni kebocoran fisik dan komersial. Kebocoran fisik bisa disebabkan, salah satunya, karena kondisi pipa yang sudah tua lantaran sudah ada sejak zaman Belanda. Sedangkan kebocoran komersial disebabkan adanya pencurian air.
Pengamat tata kota Nirwono Joga mengingatkan, Dinas Bina Marga harus terus melakukan sosialisasi kepada seluruh penyedia jasa utilitas untuk mau memindahkan kabel atau pipa scr bertahap ke dalam tanah bersamaan dengan kegiatan revitalisasi trotoar yang sedang dilakukan.
"Ke depan, Dinas Bina Marga harus melarang kepada seluruh penyedia jasa untuk pemasangan baru utilitas kabel listrik, telepon, serat optik, maupun pipa gas, air bersih, air limbah di atas trotoar. Semua sarana jaringan utilitas harus terpadu di bawah tanah/trotoar," ujarnya.
Pembangunan Jalur MRT Fase 2
Selain saluran air, kabel, gas dan PAM, di bawah tanah Jakarta juga terdapat jalur Mass Rapid Transit (MRT).
Pada koridor 1 yang mulai beroperasi sejak 2019, terdapat jalur sepanjang 16 kilometer yang meliputi 10 kilometer jalur layang dan enam kilometer jalur bawah tanah. Enam stasiun bawah tanah terdapat di Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia.
Saat ini, proyek pembangunan MRT Jakarta berlanjut ke fase 2 yang membentang sepanjang sekitar 11,8 kilometer dari kawasan Bundaran HI hingga Ancol Barat. Fase 2 ini melanjutkan koridor utara-selatan fase 1.
Fase 2 terdiri dari dua tahap, yaitu fase 2A dan fase 2B. Fase 2A terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah (Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota) dengan total panjang jalur sekitar 5,8 kilometer. Sedangkan Fase 2B terdiri dari dua stasiun bawah tanah (Mangga Dua dan Ancol) dan satu depo di Ancol Barat dengan total panjang jalur sekitar enam kilometer. Fase 2B kini masih dalam tahap studi kelayakan.
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya