Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menciptakan generasi unggul dari pondok pesantren

Menciptakan generasi unggul dari pondok pesantren Pondok pesantren darunnajah. ©2016 Merdeka.com/Desi Aditia Ningrum

Merdeka.com - Hilir mudik para santri Pondok Pesantren (Ponpes) modern Darunnajah tak terlihat di luar pada Kamis (20/10) pagi. Semua santriwan dan santriwati berada di kelas menjalani kegiatan belajar rutin.

Hanya beberapa orang pegawai lalu lalang di sekitaran pondok. Ponpes tersebut besar dan bersih. Gedung-gedung sekolah maupun asrama bertingkat bertengger kokoh. Asrama putra dan putri dipisah jauh. Begitu juga dengan lapangannya.

Suasana nyaman begitu terasa di Ponpes yang memiliki 17 cabang di seluruh Indonesia itu. Tapi kegiatan di luar kelas mulai terlihat ketika jam istirahat pertama sekitar pukul 10.00-11.00 WIB. Para santri belajar muhadhrah atau pidato dalam tiga bahasa yakni Arab, Inggris dan Indonesia. Dengan berseragam batik, mereka kompak menghafal naskah pidato. Tempat belajarnya terlihat fleksibel. Tak harus di kelas, tapi ada yang di lapangan, masjid atau halaman sekolah. Dari seluruh santri SMP dan SMA dibagi ke dalam beberapa kelompok. Pembimbingnya santri yang duduk di kelas 3 SMA.

Terlihat juga beberapa santri yang dihukum karena melanggar aturan. Misalnya saja, lupa mengerjakan tugas muhadharah, tidak meminta tanda tangan pembimbing dan lainnya. Hukumannya berdiri sambil menghafal bahan pidatonya.

pondok pesantren darunnajah

Pondok pesantren darunnajah ©2016 Merdeka.com/Desi Aditia Ningrum

Akan tetapi, tidak nampak adanya persiapan untuk memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2016.

Wakil Ketua Yayasan Darunnajah, KH Mustofa Hadi Chirzin mengatakan, tidak ada kegiatan khusus untuk memperingati Hari Santri. Semua santri akan melakukan kegiatan normal seperti biasa. Hanya saja ada beberapa perwakilan santri yang mengikuti upacara di lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

"Upacara peringatan khusus tidak ada. Kebetulan upacara Sabtu itu apel rutin biasa," kata Mustofa berbincang dengan merdeka.com, di Ponpes modern Darunnajah, Ulujami Jakarta Selatan, Kamis (20/10).

Meski demikian, dia mengaku senang dengan disahkannya tanggal 22 Oktober sabagai Hari Santri Nasional. Menurutnya, Hari Santri sebagai pengakuan dan penghargaan atas peran santri khususnya para santri di masa lalu serta santri yang masih ada saat ini. Kata dia, Hari Santri Nasional dikaitkan dengan 22 Oktober 1945 hari resolusi jihad fisabilillah. Padahal santri dan para ulama sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Mereka berperan penting dalam kemerdekaan Tanah Air.

pondok pesantren darunnajah

Pondok pesantren darunnajah ©2016 Merdeka.com/Desi Aditia Ningrum

Mustofa menuturkan, untuk menciptakan santri berkualitas di Darunnajah memiliki segudang kegiatan baik itu fisik, rohani dan intelektual. Sehari-hari para santri dijejali aktivitas padat dari mulai setelah subuh hingga malam hari. Padatnya kegiatan tersebut semata-mata untuk mencetak santri-santri berkualitas sehingga berguna untuk agama dan bangsa.

"Kegiatan dimulai setelah salat dan berakhir ketika salat," ungkapnya.

Saat ini santri di Darunnajah Ulujami berjumlah 2.500 orang. Malah jika tidak dibatasi, peminat yang masuk Darunnajah lebih dari jumlah tersebut. Hanya saja, setiap tahun pihak Darunnajah selalu membatasi kuota santri baru yang masuk.

Dia menambahkan, seluruh tempat Ponpes Darunnajah merupakan wakaf. Wakaf tersebut dari pemilik dan masyarakat umum. Selain tanah, wakaf juga berupa kebun sawit, kayu dan fasilitas-fasilitas pondok. Jika semua dihitung, wakaf tersebut mencapai sekitar Rp 1 triliun.

Lebih jauh Mustofa membeberkan, pihaknya memberikan penghargaan bagi para santri yang berprestasi. Penghargaan itu berupa beasiswa pembebasan bayaran atau pun pendidikan ke luar negeri. Sebab, Darunnajah bekerjasama dengan universitas-universitas di luar negeri.

Dia pun berharap untuk ke depannya, pada Hari Santri Nasional agar santri terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Menurut Mustofa, dengan berbagai kegiatan lebih memberikan kesadaran dan dorongan tentang peranan dan kewajiban santri di masa datang dalam rangka berbangsa dan bernegara.

pondok pesantren darunnajah

Pondok pesantren darunnajah ©2016 Merdeka.com/Desi Aditia Ningrum

Sementara itu, Uli Aprilia (17) santriwati asal Jambi mengaku senang Hari Santri ditetapkan sebagai hari nasional. Menurut dia, jika dibanding dengan pelajar umum, santri memiliki keunggulan. Sebab, santri tidak hanya mempelajari ilmu dunia tapi juga bekal untuk di akhirat.

Senada dengan Uli, Madu Thahara (17) senang dengan adanya peringtan Hari Santri. Padahal awalnya, dara kelas 3 SMA ini sempat menolak belajar di pondok pesantren. Namun, seiring berjalan waktu dirinya malah menikmati semua kegiatan ponpes.

"Awalnya enggak mau nangis-nangis. Karena di pesantren enggak bisa bebas enggak bisa pulang," cerita Madu.

Berbeda dengan santriwati, dua santriwan Darunnajah Almer Sad (18) dan JJ Bajuri (17) mengaku kecewa hari santri baru ditetapkan sebagai hari nasional. Padahal peran para santri sudah terlihat sebelum Indonesia merdeka. Kendati begitu, keduanya tetap bangga akhirnya santri diakui sebagai hari nasional. Mereka pun berharap dengan adanya Hari Santri Nasional ini para santri lebih maju dan termotivasi untuk menjadi lebih baik dan teladan bagi masyarakat. (mdk/bal)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP