Memulung untung di serakan sampah
Merdeka.com - Bau tengik menyeruak dari lokasi pembuangan sampah (LPS) di Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Tapi Warsidi agaknya sudah kebal dengan bau menusuk hidung itu. Dia acuh dan malah terus mengorek tumpukan sampah dengan tangannya. Pria ini mencari sisa-sisa botol plastik air kemasan buat dijual ke pengepul buat cari tambahan penghasilan di luar pekerjaannya sebagai buruh honorer di Suku Dinas Kebersihan DKI Jakarta.
Sudah sepuluh tahun lelaki ini bekerja sebagai petugas honorer kebersihan jalan. Dia digaji laiknya buruh pabrik di Jakarta, sesuai upah minimum regional sebesar Rp 1,29 juta. Buat menambah penghasilan, dia mengumpulkan sisa botol plastik bekas selama sepekan, kemudian dijual. Keuntungannya rata-rata Rp 100 ribu per pekan. ”Lumayan buat tambahan belanja, ngandalin gaji kurang,” katanya kepada merdeka.com, Senin pekan lalu.
Warsidi bukan satu-satunya pengais untung dari serakan sampah di Jakarta. Dedi Suryadi, pemulung di lokasi serupa bahkan sudah bertahan dua dasawarsa. Mulanya, pria asal Kota Karawang, Jawa Barat, ini menjadi penarik gerobak sampah. Dia meminta iuran Rp 500 dari tiap rumah. Sambil bekerja, dia mengumpulkan sisa-sisa sampah plastik untuk dijual.
Hingga kini, bapak lima anak ini sukses menjadi agen pembelian sampah plastik di wilayah Tebet. Saban pekan dia membeli sekitar tiga kwintal plastik bekas seharga Rp 1.200 per kilogram dari para pemulung atau penarik gerobak sampah. Kemudian sampah plastik dijual ke agen lebih besar lagi di Pulogadung, Jakarta Timur, seharga Rp 1.500 tiap kilogram.
Keuntungan kotor per pekan rata-rata Rp 4,5 juta. Artinya saban bulan, Dedi mengantongi sekitar Rp 16 juta lebih. Tapi uang itu kembali diputar, sebagian buat belanja plastik bekas lagi, sisanya dikirim pulang ke Karawang. Di Jakarta Dedi boleh mengaku tinggal di gubuk tengah sampah, tapi di Karawang, bisa jadi rumahnya tingkat tiga? Mendengar pertanyaan itu, Dedi tersenyum lalu menjawab, ”Anda bisa saja, rumah saya di kampung biasa saja kok.”
Pengelolaan sampah di Jakarta memang belum tuntas. Data terakhir Dinas Kebersihan Jakarta, sekitar 6.500 ton sampah per hari atau sama dengan seribu liter sampah menumpuk di 108 LPS. Sebanyak 1.100 truk mengangkut sampah itu ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Bantar Gebang, Bekasi.
Menurut Abdul Hamid dari Bagian operasional LPS Kecamatan Pancoran, beberapa orang malah diuntungkan dengan banyaknya sampah di Jakarta, misalnya pemulung hingga agen. Mereka datang dari pelbagai daerah dan mengais sampah di LPS. “Kalau mau menghitung, penghasilan mereka lebih gede ketimbang pegawai seperti saya ini. Rumahnya mewah, juragan kaya dari sampah,” ujarnya.
Heru, pengawas kebersihan di LPS Kecamatan Tebet, mengakui penarik gerobak sampah memang membantu mengurangi jumlah sampah. Tetapi pemulung kadang justru mengganggu kerja petugas kebersihan. ”Mereka mengacak-acak sampah, padahal sudah siap dibuang ke TPA, akhirnya petugas mengumpulkan ulang," ujarnya. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya