Kisah cinta di atas gerobak tua
Merdeka.com - Tidak punya rumah dan memiliki tempat tinggal tetap, tak membuat manusia gerobak bingung untuk mencari tempat untuk berteduh. Buat melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi, cuci, dan kakus (MCK), mereka menggunakan fasilitas umum di mana saja.
"Mandi kadang-kadang kami di terminal, kadang di stasiun, kadang di pasar. Jemur baju ya di mana aja. Di atas pohon juga bisa," ujar Dewi saat berbincang dengan merdeka.com di Halte bus Palmerah, Jakarta Barat beberapa waktu lalu.
Untuk Makan, kata Dewi, dia selalu membeli di warung-warung dia lintasi ketika membawa gerobak mengelilingi jalan Jakarta. Pendapatannya pun diperoleh dari mencari barang-barang bekas untuk kemudian ditukar uang kepada tengkulak. "Kalau mandi atau cuci baju kan bayar beda-beda 2000 ribu. Ya uang hasil mulung pakai gerobak bisa dibuat itu aja. Kan kalau tidur di mana saja, jadi enggak bayar," kata Dewi.
Dia juga menceritakan semasa muda sudah terbiasa hidup dengan membawa gerobak. Ketika bertemu dan kemudian menikah secara siri dengan suaminya, Senen, 40 tahun, juga berawal dari gerobak. "Saya sudah lama hidup kaya begini, sebelum ketemu mamas juga sudah bawa gerobak," kata Dewi yang kini sudah memiliki anak lelaki berusia lima bulan.
Dulu, Dewi terpaksa hidup lontang lantung karena ditinggal temannya yang mengajak dia datang ke Jakarta. Dari sanalah, kisah hidupnya bermula menjadi manusia gerobak. Berbekal gerobak lungsuran dari seorang kawan, Dewi mengarungi jalan-jalan Jakarta buat bertahan hidup.
"Saya dikasih gerobak lupa dari mana, tetapi itu awal saya keliling Jakarta pakai gerobak," tutur Dewi menjaga buah hatinya berusia lima bulan sedang tertidur pulas di dalam gerobak beralaskan kardus dan spanduk bekas.
Namun nahas bagi Dewi, gerobak dijadikan ladang penghasilan sekaligus untuk melindunginya dari dinginnya malam Jakarta, justru raib tanpa bekas. Kini setelah memiliki suami dan anak, Dewi mengembara bersama Senen mengelilingi jalan-jalan ibu kota. "Saya sekarang ikut aja suami ke mana-mana, enggak takut. Walaupun dulu hamil besar ya yang penting ikut mamas. Tidur di gerobak juga sudah biasa," kata Dewi.
Jika memang diberikan rejeki, Dewi pun mengaku berencana untuk pulang ke kampung halamannya di Cilacap, Jawa Tengah. Bagaimanapun, hidup di desa lebih nyaman ketimbang hidup di kota. "Kalau mau pulang harus punya Rp 2 juta. Tetapi boro-boro uang segitu buat makan aja masih susah dari," ujarnya. (mdk/arb)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya