Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kencing minyak tengah laut

Kencing minyak tengah laut Alokasi pasokan BBM. ©2012 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Tenangnya ombak laut, gelapnya malam, menyamarkan segala kegiatan para pekerja laut. Sebuah kapal berbahan fiber dengan kecepatan 40 kilometer per jam melaju ke arah tujuan tak jauh. Dari pesisir Cilacap menuju antrean tiga kapal besar di dekat Pulau Nusa Kambangan. Dari situ kapal kecil siap menampung kencingan solar kapal-kapal besar.

Kapal-kapal besar berjenis tanker, tongkang, atau kargo mampu mengisi bahan bakar ratusan ton dan dapat berhari-hari menurunkan jangkar di sekitar pulau Alcatraz Indonesia itu. kongkalikong antara kapten kapal dan pengencing selalu terjadi dini hari untuk menghindari keramaian.

"Kapten kapalnya langsung transaksi sama tekong (kapten kapal fiber), semuanya pakai tunai," kata awak kapal fiber bernama RIY, saat ditemui merdeka.com Jumat pekan lalu di Pelabuhan Wijayapura, Cilacap, Jawa Tengah.

Transaksi gelap itu berlaku amat cepat. Kapal fiber merapat pada lambung kapal. Selang berdiameter sepuluh sentimeter lalu disambungkan ke keran pembuang solar kemudian dihubungkan ke kapal fiber. Minyak hitam itu ditampung pada seluruh dek kapal fiber. Awak kapal cukup duduk terendam solar hingga sebatas dada.

"Sekali terima kencingan bisa satu sampai dua ton, itu untuk sekali jalan saja. Kalau maksimal lima sampai enam bolak balik," ujar RIY. Dia menghitung sekali kencing bisa sampai 12 ton, menghabiskan waktu beroperasi hingga lima jam.

Tekong harus mempunyai keahlian khusus dalam membawa kapal fiber. Bahan bakar solar tampungan bisa membuat kapal menjadi berat dan membikin kapalnya hanya berjarak sejengkal dari gapaian air laut. Nahkoda mesti memperhatian datangnya arah ombak dan riak jalur kapal.

Bukan tak mungkin perahu bisa terbalik jika tidak bisa menghindari angin besar. Nyawa jadi taruhan bagi para awak kapal fiber. "Saya pernah terbalik kapalnya waktu kejadian itu. Sudah rugi banyak, pulang dimarahi bos," tuturnya.

Sesampainya di pelabuhan, solar ditampung pada tong tong berkapasitas satu ton. Kemudian tong-tong berisi solar ini diangkut menggunakan mobil bak terbuka ditutup terpal biru menuju gudang jaraknya tak jauh.

Gudangnya pun tertutup rapat dengan pagar setinggi lima meter, terletak di Kampung Donan, Cilacap. Pemiliknya PO, nama samaran, salah satu bos jaringan kencingan solar terbesar di wilayah itu.

"Dia punya semuanya, gudang, kapal, truk tangki, belasan anak buah. Semua warga pesisir tahu dia bos minyak," kata PO. Dia menjadi pelaku kencingan dari zaman minyak tanah hingga solar bersubsidi.

Awak kapal tongkang pembawa batu bara, Jon (nama samaran), mengaku permainan kencing tengah laut menjadi mata pencarian seluruh kapal di Indonesia. Praktek haram ini menjadi sampingan bagi kapten kapal dan kepala kamar mesin mendapatkan fulus tambahan.

"Kita jatah dari kantor solar sesuai jarak tempuh, per harinya (RPM) berapa ton," ujar Jon. "Saat mau isi bahan bakar, kalau ada sisanya bisa kita mainkan."

Dia mencontohkan kapal tongkangnya mendapat jatah seratus ton solar sehari. Jika tiba ditujuan masih ada sisa 20 ton, kapten kapal dapat menjual kepada para jaringan kencing tengah laut di daerah tujuan.

"Yang dapat banyak jatah kapten kapal sama KKM (kepala kamar mesin). ABK (anak buah kapal dapat tapi nggak banyak, cukuplah buat beli kopi sama rokok," tutur Jon.

(mdk/fas)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP