Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Investasi monorail lokal tidak mahal

Investasi monorail lokal tidak mahal Tiang beton penyangga monorel di Jakarta. (merdeka.com/dok)

Merdeka.com - Untuk memiliki angkutan massal tidak harus mahal. Misalnya, membangun monorail di Jakarta. Sudah dua tahun ini, Kusnan Nuryadi, pakar Teknik Konstruksi dan Mesin dari Universitas Indonesia, merampungkan desain prototipe monorail murah dan sukses diuji coba dalam lintasan sepanjang 50 meter. Menurut dia, nilai investasi pembangunan monorail buatannya hanya Rp 150 miliar per satu kilometer.

Nilai itu lebih murah ketimbang memakai teknologi dari Jepang, Jerman, atau Amerika Serikat. Bahkan, ongkos ini lebih murah ketimbang monorail hendak dibangun PT Adhi Karya dan pemerintah berbiaya Rp 6,5 triliun atau Rp 220 miliar saban kilometer. ”Sekarang masih menunggu investor dan uji kelayakan,” kata dia.

Bandingkan dengan biaya pembangunan monorail di Kuala Lumpur Monorail (MTrans) pada 2003. Biayanya setara Rp 345 miliar tiap kilometer. Proyek monorail di Las Vegas pada 2004 menelan dana Rp 845 miliar per kilometer. Terbaru, perusahaan konstruksi Palm Jumeirah, Uni Emirat Arab, enam tahun lalu mematok harga Rp 705 miliar per kilometer.

Sedangkan perusahaan konstruksi asal Swiss, Metrail, menetapkan Rp 192 miliar per kilometer dan perusahaan konstruksi Mumbai Monorail asal India menyebut Rp 295 miliar tiap kilometer. ”Itu di luar negeri. Kalau kita membangun monorail mendatangkan teknologi asing bisa lebih mahal lagi. Ada biaya impor, pajak, dan lain-lain,” kata Kusnan.

monorail bisa menjadi pilihan transportasi perkotaan karena memiliki kelebihan. Misalnya, berjalan dalam jalur khusus, waktu keberangkatan dan kedatangan bisa tepat waktu. Sedangkan dari segi suara tidak bising karena roda bergerak di atas jalur beton atau baja. Hal itu memungkinkan lintasannya melalui kawasan perkantoran dan pusat perbelanjaan.

Pembangunan kontruksi juga tidak membutuhkan lahan luas sehingga tidak perlu pembebasan besar-besaran. Sebab, tiang pancang trek cukup memakai lahan pemerintah di kawasan jalan protokoler. Sedangkan dari segi keindahan kota, tidak membuat semrawut seperti jalan layang sekarang ini.

Manajer PT Melu Bangun Wiweka (MBW) Indra Nugraha menjelaskan perusahaan saat ini sudah sampai pada tahap kajian untuk stasiun pemberhentian, sistem sinyal, sistem tiket, dan harga tiket untuk penumpang monorail. Stasiun pemberhentiannya menggunakan eskalator dan lift untuk memberikan kenyamanan kepada penumpang dan penyandang cacat.

Dari perhitungan Indra, jika dioperasikan di Jakarta pada 2014, harga tiket monorail sekitar Rp 10 ribu untuk setiap penumpang. “Perhitungan ini muncul dari kalkulasi biaya pembuatan monorail, biaya infrastruktur, stasiun pemberhentian, jumlah penumpang, dan lainnya,” ujar Indra. (mdk/fas)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP