Idola bersalin rupa
Merdeka.com - "Pattimura orang Ambon, tubuhnya kecil dan membawa golok," ucap Nana percaya diri memaparkan citra pahlawan sosoknya ada di uang seribu rupiah itu.
Apa yang diyakini Nana memang tidak salah. Tapi ada masalah dan kontroversi soal penampilan pahlawan asal Maluku ini. "Pattimura itu opsir Inggris, sudah punya pistol. Gimana sih, penampilan opsir Inggris malah digambarkan pakai pedang," kata Lilie Suratminto, pemerhati sejarah kolonial, saat ditemui merdeka.com Selasa pekan lalu di kampusnya. "Itu melambangkan kebengisan kenapa harus pakai pedang."
Fakta Kapitan Pattimura bukan asli Ambon ini pun diperkuat oleh sejarawan Abdurakhman. Kendati demikian dia percaya ada alasan mengapa Pattimura dideskripsikan seperti pribumi.
Menurut dia, ada banyak verso mengenai jati diri Pattimura. Sebagian menyebut dia adalah tentara Inggris. "Kalau dia memang keturunan diambil (penampilan) pribuminya. Kalau yang diambil sosok asing, susah seleksi kepahlawanannya," ujar dosen sejarah di Universitas Indonesia ini.
Bukan hanya sosok dan penampilan Pattimura diragukan kebenarannya. Pahlawan lainnya seperti Pangeran Diponegoro pun ikut disangsikan wajahnya. Lilie curiga lukisan sang pangeran bikinan Raden Saleh adalah lukisan wajah Raden Saleh sendiri. "Lukisan pertama Pangeran Diponogoro dibuat oleh J.W. Pienema mendekati kenyataan," tuturnya.
Wajah Raden Saleh, juga pelukis kerajaan, ini dikhawatirkan menjadi representasi sosok Pangeran Diponegoro dan sampai sekarang dipercaya masyarakat sebagai wajah asli Pangeran Diponegoro.
Tak sampai di situ, polemik wajah pahlawan menyeret juga nama Patih Majapahit Gajah Mada. Kali ini paras pahlawan nasional Muhammad Yamin dicurigai sebagai ganti rupa Gajah Mada.
"Memang Muhammad Yamin membuat sketsa wajah Gajah Mada, itu ekspresi Muhammad Yamin," kata sejarawan Indonesia Abdurakhman. "Memang pola umumnya (muka Muhammad Yamin) seperti muka Gajah Mada tapi digambarkan berbeda raut mukanya," jelas sejarawan Universitas Indonesia Abdurakhman.
Meski kebenaran rupa tiga pahlawan itu mejadi polemik, Lilie dan Abdurakhman percaya penggambaran sosok mereka untuk membangkitkan patriotisme di kalangan anak-anak. "Seperti sandiwara, siapa saja bisa berperan sebagai apa yang menimbulkan ingatan kolektif," tutur Lilie.
(mdk/fas)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya