Hangatnya persaudaraan sesama Muslim di Bangkok
Merdeka.com - Suara yang familiar itu mengalun merdu di tengah hingar bingar Pasar Malam Distrik Bang Rak, Bangkok. Lamat-lamat saya mendengar suara azan Isya di antara riuhnya DVD lagu-lagu pop berbahasa Thailand.
Di Indonesia hal biasa mendengar panggilan salat lima waktu. Namun di Thailand, terasa istimewa.
Tak sulit menemukan sumber suara, letaknya tepat di belakang pusat perbelanjaan Robinson. Sangat dekat dari BTS Saphan Taksin. Ada tulisan Masjid Ban Oou di depan pagar besi berwarna hijau yang terbuka. Saya masuk ke dalam.
Di teras masjid beberapa orang pria dan wanita duduk terpisah menikmati makan malam sebelum salat.
"Assalamualaikum," sapa mereka melihat saya dan istri masuk ke dalam. Tentu tahu kami Muslim karena melihat jilbab yang dikenakan istri saya.
Di ruang utama untuk salat, sepintas tak ada beda dengan masjid di Indonesia. Luasnya kira-kira 100 meter. Malam itu hanya dua saf yang terisi.
Islam menjadi agama kedua di Thailand. Diperkirakan ada 4 juta pemeluk Islam di Thailand, atau sekitar 6 persen dari total populasi. Namun sangat jauh jika dibanding mayoritas penganut Budha yang nyaris 93 persen.
Menurut sejarah, Muslim di Thailand kebanyakan berada di provinsi Yala, Pattani, dan Narathiwat. Ketiganya berada di selatan Thailand. Orang-orangnya lebih mirip etnis Melayu daripada Siam. Namun kini Islam menyebar tak cuma di tiga provinsi itu. Di Bangkok pun jumlahnya cukup banyak.
Saya ingat di Bandara Don Mueang ketika tiba, seorang petugas di bandara menyapa kami dengan Bahasa Inggris. "Assalamualaikum, saya juga Muslim. Nama saya Abdul Malik," katanya ramah. Dia menjelaskan rute Bangkok Sky Train, atau jaringan MRT di ibukota Thailand, sampai kami paham.
Di Masjid Ban Oou, saya bertemu Husein, pria Muslim keturunan India. Dia menjelaskan sudah lama warga Budha dan Muslim di distrik Bang Rak hidup berdampingan. Toleransi antar umat beragama berjalan dengan baik di Bangkok. Komunitas Muslim sendiri terus tumbuh di Bangkok dan kota-kota lainnya di Thailand.

Husein di Masjid Ban Oou ©2016 Merdeka.com/ramadhian fadillah
"Di sisi jalan ini umat Budha, tapi di dalam semuanya komunitas Muslim. Jangan khawatir, banyak makanan halal di sini," jelas Husein, Selasa (30/8) lalu.
Husein sangat baik pada kami. Tahu kami belum dapat hotel, dia ikut mencarikan hotel, bahkan sampai mengantar kami dengan taksi. Dia juga bersikeras membayari kami ongkos taksi. Sebelumnya dia memastikan hotel pilihannya tak melebihi budget kami berdua.
"Jangan lebih dari 1.000 bath saja," kata saya. Dengan kurs kemarin, 1.000 bath itu kia-kira Rp 390.000.
Telepon sana-sini, Husein dapat sebuah hotel milik warga keturunan India. Harganya 850 bath, atau Rp 325.000. Sudah air panas, AC, TV dan yang pasti sarapan pagi yang halal. "Okelah," kata saya.
Sebelum berpisah Husein mengundang saya untuk makan nasi briyani selepas Salat Jumat di masjid Ban Oou.
"Jazakallah khairan katsiran Husein," kata saya. Artinya semoga Allah membalas kebaikanmu. "Amin, brother," balas Husein tersenyum.
Sayangnya, saya kemudian tak bisa memenuhi undangan Husein. Pada hari Jumat (2/9), saya Salat Jumat di Masjid Jawa. Sebuah masjid bersejarah lain di kawasan Sathorn Bangkok.
Masjid penuh hingga ke teras saat pelaksanaan Salat Jumat. Khutbah Jumat diberikan dengan bahasa Thailand. Pengeras suara ke luar masjid digunakan, walau tak terlalu keras.
Saya perhatikan, tak cuma wajah melayu yang salat di sini. Ada juga belasan orang kulit hitam dengan khusyuk beribadah.
Selepas Salat Jumat, jamaah duduk melingkar membentuk lingkaran kecil. Pengurus masjid membagikan nampan berisi makanan. Isinya mulai kue, buah pisang hingga nasi dan ayam. Kuenya persis klepon kalau di Indonesia. Berwarna hijau dilapis parutan kelapa. Jika digigit di tengah ada cairan gula merah.
Rupanya tradisi di setiap masjid seperti ini. Ada makan bersama selepas Salat Jumat. Tak cuma di Masjid Ban Oou saja.

Saya duduk satu lingkaran dengan empat orang pria. Mereka menggunakan gamis dan sorban. Kami berkenalan. Saya kira nama Thailand, ternyata namanya Yunus, Naseer dan dua lagi sama-sama bernama Yusuf.
Empat orang ini asli Bangkok, bukan dari Thailand Selatan seperti dugaan saya. Lagi-lagi salah.
Obrolan mengalir dengan hangat meski dengan Bahasa Inggris terbata-bata. Senang juga bertukar cerita dengan mereka. Bukankah Tuhan menciptakan manusia menjadi banyak suku bangsa agar saling mengenal?
"Siang ini jadi bukti, Islam tidak mengenal border. Dari Indonesia, dari Thailand, semua bersaudara," kata Naseer.
Saya menginap di Song Thai Hotel, jaraknya cuma selemparan batu dari Masjid Jawa. Lokasinya cukup strategis. Turun di BTS Surasak, keluar di Exit 2. Jalan 5 menit hingga bertemu 7Eleven di muka sebuah jalan kecil. Belok kiri, ikuti saja jalan itu, tak jauh.
"Di sini kawasan Muslim semua," kata Jamilah, pemilik hotel yang mengenakan jilbab panjang.
"Jangan cakap Inggris atau Thai di sini ya. Kita cakap Melayu saja," katanya sambil tertawa hangat menyambut kami.

Kami bertukar cerita. Jamilah memperlihatkan foto keluarganya. Dua anak perempuannya cantik dan berhijab. Yang sulung kontraktor, yang kedua mahasiswi kedokteran. Putra ketiganya kini sedang belajar di madrasah.
"Dia ingin jadi penghapal Alquran," kata Jamilah, diamini saya dan istri.
Saat pulang ke Indonesia dan meninggalkan komunitas itu, saya tak merasa sebagai backpacker. Rasanya seperti pulang dari rumah saudara jauh yang lama tak bertemu. (mdk/ian)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya