Geliat solar gelap
Merdeka.com - Empat kapal nelayan berjejer di pinggiran Pelabuhan Tanjung Intan atau Pelabuhan Batre, Cilacap, Jawa Tengah. Mereka bersiap mengarungi laut.
Sebuah mobil bak terbuka membawa tong-tong berisi solar hasil kencingan tengah laut sedang disalurkan dengan selang terhubung ke kapal nelayan. Sebab jatah solar bersubsidi terbatas, kebanyakan nelayan memilih membeli bahan bakar kepada jaringan penjual solar gelap.
"Kita pakai solar sekali jalan bisa 15-20 liter per hari. Jatah kita sehari tak sampai segitu, paling cuma sepuluh liter," kata nelayan Cilacap, Heri, saat ditemui merdeka.com pekan lalu di Pelabuhan Tanjung Intan.
Nelayan memang terpaksa membeli kepada pengecer karena pemilik kapal ikan atau toke tak mau pusing soal kesulitan bahan bakar solar. Para toke ingin kapal-kapal pencari ikan milik mereka cepat beroperasi.
Di wilayah itu hanya terdapat satu penyalur solar, Stasiun Pengisisan Bahan Bakar Bunker (SPBB) Minarahardja. "Tapi selalu kosong, nggak ada terus. Sudah hampir tiga bulan terakhir jarang ada," ujar Heri.
Pemilik kapal tidak mau terlalu lama mengantre di SPBU khusus nelayan. Karena itu para pengencer solar kencingan menjadi pilihan utama. Solar kencingan memang sudah mengisi kebutuhan para pekerja laut dan industri. Bahkan sebuah jaringan solar gelap mengincar pasokan bagi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Pekerjanya, Way, mengaku sudah memasok bahan bakar solar dari Merak, Jawa Barat, hingga Pacitan, Jawa Timur. Modusnya bekerja sama dengan sopir truk tangki bermuatan 16 ribu liter. Mereka memakai surat jalan resmi. "Saya biasa isi sampai Merak, Pacitan, Semarang, di sini (Cilacap), buat isi khusus industri atau PLTU," tutur lelaki 25 tahun ini.
Untuk membeli bahan bakar solar secara resmi biasanya membutuhkan waktu hingga dua hari. Lalu buat menghindari keterlamabatan pasokan solar ke langganan, mereka memilih mengoplos bahan bakar resmi dengan bahan bakar gelap. "Setengah-setengah, delapan ribu liter beli resmi, delapan ribu liter lagi beli sama bos kencingan (PO) juga," kata Way. "Kalau kita pesan sekarang dapatnya besok. Kelamaan."
Jaringan solar kencingan memang tumbuh subur di kawasan Cilacap, Jawa Tengah. Dari nelayan sampai kawasan industri menjadi sasaran empuk buat menyalurkan bahan bakar ilegal itu. Tidak tanggung-tanggung, puluhan ribu liter dalam sebulan tersalurkan untuk kepentingan pribadi. "Selama ini belum pernah dapat masalah di jalan, aman saja. Soalnya kita punya surat-surat jalannya," ujar Way.
Dengan mengambil harga selisih seribu sampai dua ribu per liter, bisnis solar kencingan bisa menghasilkan ratusan juta rupiah saban transaksi. Untuk menyuplai ke industri, harga solar bersubsidi dan harga industri berbeda. Selisihnya bisa mencapai tiga ribu rupiah. Namun untuk harga nelayan hanya selisih sampai seribu dari harga resmi.
(mdk/fas)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya