Gandeng Hary Tanoe contoh toleransi
Merdeka.com - Pertarungan politik mendatang akan diisi oleh orang-orang lama, minus Susilo Bambang Yudhoyono.
Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto menegaskan generasi tidak bisa dipotong karena kepemimpinan butuh pengalaman. "Yang terbaik adalah senior membimbing junior dan memberikan ruang seluas-luasnya sambil melakukan satu perbaikan dapat diraih,” katanya kepada merdeka.com akhir bulan lalu.
Berikut penuturan Wiranto saat ditemui Arbi Sumandoyo, Alwan Ridha Ramdani, Faisal Assegaf, serta juru foto Muhammad Luthfi Rahman di kantor Dewan Pimpinan Pusat Hanura.
Anda ini dari kalangan tua, seperti Jusuf Kalla dan Megawati, punya tanggung jawab menyiapkan pemimpin setelah 2014. Bagaimana persiapannya?
Wah banyak sekali, Partai Hanura itu 60 persen anak-anak muda. Organisasi sayap, organisasi partai sendiri. Organisasi sayap pemudanya ada Gerakan Muda Hanura, Srikandi Hanura, ang muda-muda itu banyak sekali. Saya sangat sadar. Saya juga orang yang hidup terus mengikuti perkembangan ilmu dan pengetahuan, terus belajar dan terus belajar.
Saya sadar orang muda karena peluang untuk belajar lebih banyak. Semakin ke sana semakin kreatif, semakin dinamis. Itu harus kita persiapkan, kita beri koridor, kita beri ruang untuk mereka bisa berkembang. Tapi kemudian ada istilah potong satu generasi, ada akselerasi, itu tidak mungkin.
Karena kearifan itu tidak identik dengan kepandaian. Kearifan dengan kecerdasan beda. Kearifan hanya didapat dengan melihat pengalaman orang lain dan mempraktekkan dengan pengalaman-pengalaman sendiri.
Seperti yang saya miliki sebagai seorang militer, itu 1998 sudah top. Saya sudah Panglima ABRI. Tapi sebagai seorang negarawan, yang saya miliki sekarang jauh sekali. Kesadaran-kesadaran, tanggung jawab sosial, kemanusiaan, sekarang lebih tebal, lebih kuat. Menurut saya, yang terbaik adalah senior ini membimbing junior dan memberikan ruang seluas-luasnya sambil melakukan satu perbaikan dapat diraih.
Menurut Anda, Jokowi memang pantas mencalonkan diri sebagai presiden?
Saya tidak akan mengomentari tokoh lain.
Belum pantas?
Kalau kita bicara di kampus bukan bicara kepada wartawan, saya akan bicara blak-blakan. Di sana bebas interpretasi, di sini nggak bisa. Tapi Anda yang menjabarkan pemimpin itu dikatakan ahli, itu ada stratifikasi. Keahlian seseorang itu ada batasan dan ada satu kualitas tertentu untuk jabatan tertentu. Dan itu tidak bisa akselerasi pemahaman, kompetensi karena semuanya butuh proses.
Isu SARA di Indonesia masih dominan, misalnya Jawa dan non-Jawa, muslim dan non-muslim. Apakah ini tetap dilihat saat menunjuk Hary Tanoe sebagai pendamping?
Saya setuju ada fenomena mengapa saat globalisasi itu di satu sisi menawarkan persatuan, tetapi di sisi lain masih ada pengkotak-kotakkan. Di Indonesia khususnya terjebak pada otonomi daerah menjurus pada etnik, kemudian tidak hanya antar agama, dalam agama sama pun saling berseteru, saling bermusuhan.
Ini sesuatu yang buruk sekali. Bagaimana wujud Bhinneka Tunggal Ika kala wajahnya dihiasi ketidakcocokan, sengketa seperti itu. Cara paling baik adalah memberikan keteladanan dengan satu pelajaran.
Maka saya mengambil Pak Hary Tanoe sebagai wakil presiden sekaligus bisa memberikan satu contoh. Tidak hanya membawarkan contoh. Tapi sudah langsung memberikan contoh antara mayoritas minoritas tidak ada permasalahan. Tidak ada diktator mayoritas dan tirani minoritas. Kita harus satu.
Pak Hary Tanoe sebagai etnik minoritas saya ajak sama-sama memberikan contoh ini loh Indonesia. Dia dari agama Kristen, saya Islam, bisa bersatu. Sebab saya sangat faham. Islam itu diturunkan ke bumi tugasnya bukan menghancurkan agama lain, Islam turun ke bumi untuk berdampingan dengan agama lain.
Ini sebenarnya bagian dari perjuangan saya. Ini bagian sikap toleran saya, memberikan contoh keberagaman di Indonesia.
Dari hitungan politik, apakah menguntungkan berpasangan dengan Hary Tanoe?
Itu lihat nanti saja, jangan sekarang. Kalau Anda menang, Anda nyalami saya. Kalau saya kalah, Anda boleh mencibir saya. Kalau saya ajak hitung-hitungan, berati saya sudah mendahului sesuatu akan terjadi. Saya punya hitungan sendiri. Sudah tiga kali ikut pertandingan bukan kegagalan saya dapat, tapi pelajaran. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya