Dari yang paling sampah sampai yang memecah belah
Merdeka.com - Sengitnya persaingan antara kandidat presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Hillary Clinton begitu terasa menjelang pemilihan umum besok, 8 November. Keduanya berusaha saling menunjukkan siapa yang paling pantas menduduki kursi di Gedung Putih melalui orasi dalam kampanye.
Selain itu, persaingan juga terasa di acara debat yang telah digelar sebanyak tiga kali oleh kandidat dari Partai Republik dan Partai Demokrat. Ajang tersebut merupakan tempat paling tepat bagi kedua kandidat untuk menyampaikan rencana kebijakan yang akan dilaksanakan selama menjabat.
Debat yang dilakukan kedua calon presiden mengulik pelbagai isu yang sedang menjadi perhatian masyarakat lokal maupun dunia. Namun terkadang, situasi tegang menjadi tak terelakkan saat kedua kandidat berbeda pendapat.
Kedua capres tidak lepas dari mengumbar kata-kata keras, kotor, bahkan sampah, dan memecah belah. Trump pernah menyebut Hillary sebagai wanita keji dan meminta Rusia untuk meretas surelnya. Pria 70 tahun itu juga pernah mengatakan akan menjebloskan Hillary ke penjara jika dia terpilih jadi presiden.
Sementara Hillary sempat mempertanyakan kewarasan Trump sebagai calon presiden. Dia juga tak henti-hentinya mengingatkan para pemilih tentang perilaku Trump terhadap kaum perempuan. Dan wanita 68 tahun itu mengatakan Trump terlalu ceroboh untuk diberi mandat tentang kode peluncuran senjata nuklir.
Berbagai lembaga survei melakukan penilaian di setiap debat. Pada debat pertama, survei menilai calon presiden Partai Demokrat Hillary Clinton berhasil mengungguli rivalnya asal Partai Republik Donald Trump. Menurut jajak pendapat CNN/ORC, 62 persen dari jumlah suara terdaftar 521 orang memilih keunggulan bagi Hillary. Sisanya 27 persen memilih Trump.
"Terlepas dari survei tersebut, dua kandidat capres AS ini telah memperlihatkan tajinya satu sama lain," kata Paul Quirk, pengamat politik dari Universitas British Columbia seperti dilansir dari laman globalnews.ca, Selasa (27/9).
Menurut Quirk, Hillary Clinton dalam debat pertamanya berhasil membuat beberapa poin lebih tertata rapi dan diutarakan dengan efektif. Berkebalikan dengan sang rival, Donald Trump dinilai kerap mengulang kata-kata dan bertele-tele.
Dalam debat yang sama, keduanya juga saling menuduh tidak pantas menjabat sebagai presiden. Clinton menyebut rivalnya, Donald Trump tidak menghargai wanita. Pernyataan ini dilontarkan Clinton usai Trump mengatakan dia tidak pantas menjadi presiden sebab tidak memiliki stamina.
"Dia tidak memiliki stamina," ujar Trump kepada Clinton dalam debat capres AS pertama di Universitas Hofstra, New York, Amerika Serikat, seperti dikutip dari The New York Times, Selasa (27/9).
Hal tersebut dibantah Clinton dengan keras. Pasalnya, sebelum mengikuti pemilihan presiden Trump merupakan seorang pengusaha kaya sementara Clinton merupakan istri mantan presiden AS, Bill Clinton, dan mantan Menlu AS.
Menginjak debat kedua, yang dilakukan di Washington University, St. Louis kedua capres AS ini sudah dingin satu sama lain. Pada debat ini juga skandal video Trump ikut dimunculkan dalam adu argumen.
"Jika ini hanya mengenai sebuah video, mungkin dia akan mengatakan malam ini tidak dapat dimengerti. Namun semua orang dapat menyimpulkan sendiri pada titik ini, mengenai pria yang ada di video itu maupun di atas panggung ini yang tidak menaruh respek pada perempuan. Namun dia tidak pernah meminta maaf untuk apapun kepada siapapun," tegasnya, seperti dikutip dari Sydney Morning Herald, Senin (10/10).
Atas munculnya berbagai skandal yang ditujukan kepada Trump, calon dari Partai Republik ini langsung ditentang oleh banyak wanita AS. Trump pun kehilangan banyak pendukung wanita lantaran dianggap tidak menghargai kaum wanita.
Beberapa wanita yang mengaku pernah dilecehkan oleh Trump mulai menampilkan dirinya di hadapan publik. Hal ini membuat posisi Trump semakin terpojok.
Dalam debat terakhir calon presiden yang dihelat di Universitas Nevada, Las Vegas kedua pihak membahas soal kepemilikan senjata, masalah aborsi, imigran, termasuk soal siapa yang menjadi 'boneka' Putin.
Dalam debat ini calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump juga menolak untuk memberikan jawaban pasti, apakah dia mau menerima hasil akhir dari pemilihan presiden AS, pada 8 November mendatang.
"Kita lihat saja nanti," kata Trump, dilansir dari laman Independent, Kamis (20/10).
Trump bahkan tetap tidak mau menjawab meskipun telah didesak oleh moderator.
"Saya akan membuat Anda tegang," tambahnya.
Sementara itu, rival Trump dari Partai Demokrat, Hillary Clinton mengaku terkejut dengan penolakan yang dilontarkan oleh pengembang properti di AS itu. Menurutnya, penolakan dalam menerima kekalahan itu sangat mengerikan.
"Bukan begitu cara demokrasi kita bekerja," kata Clinton.
Dengan angka jajak pendapat yang kian menurun drastis kurang dari tiga minggu menjelang pemilu mendatang, Trump memiliki kesempatan tipis untuk memberikan kesan baik pada masyarakat terlepas dari semua skandal yang melibatkannya.
Sementara untuk Clinton, tiga debat terakhir telah cukup baginya untuk melatih kesabaran dan memberikan kesan positif meskipun kerap mendapatkan serangan yang semakin intens dari lawannya di tengah kampanye, seperti skandal surat elektronik. (mdk/pan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya