Calo pencari suaka di Cisarua
Merdeka.com - "Tidak mungkin kalau tidak ada yang bawa. Mereka tahu daerah sini dari mana," ujar Sri salah seorang warga Desa Tugu Selatan saat berbincang dengan merdeka.com di daerah Warung Kaleng, Jalan Raya Puncak Kilometer 84, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jumat siang pekan kemarin. Dia menambahkan keberadaan para pencari suaka justru tak memberikan banyak manfaat buat warga.
"Mereka itu kere-kere (tidak punya uang), beda dengan turis Saudi," katanya dengan logat Sunda campur Jawa, serius.
Sri memang bukan warga asli Desa Tugu Selatan. Dia merupakan orang Tegal. Namun dia sudah lebih dari sepuluh tahun tinggal di desa masuk daerah sebutan Warung Kaleng tersohor serbuan orang-orang timur tengah. Di Warung Kaleng, memang berseliweran wajah-wajah orang Timur Tengah. Di daerah ini juga, nuansa arab begitu terasa.
Di sepanjang Warung Kaleng, toko-toko menggunakan aksara-aksara arab akrab terlihat. Bahkan saking banyaknya orang arab di daerah ini, hampir semua bumbu masak dapur pun berbau arab. Jika pernah ke Arab Saudi, toko-toko di Warung Kaleng juga memiliki tampilan nyaris sama. Sayuran seperti tomat, bawang bombay dan mentimun, dipajang di luar toko. Sedangkan di bagian dalam, mulai dari keju sampai kornet kambing pun tersedia.
"Saya juga tidak tahu kapan persisnya orang-orang arab suka ke sini. Sejak saya datang memang banyak," kata Sri.
Perkataan Sri mengenai para pencari suaka tak banyak memberikan dampak memang ada benarnya. Sebab, sebagai pedagang kambing, Sri mengaku jika para pembelinya justru pelancong-pelancong asal Arab Saudi. Hampir dua hari sekali, pelancong-pelancong negeri petro dollar itu datang buat membeli kambing. "Ya pembelinya kebanyakan turis Arab. Kalau para imigran memang tidak punya duit, kan dia juga tinggal di sini dibiayai," ujar Sri sambil menyebut salah satu lembaga internasional yang memang konsentrasi mengurusi para pencari suaka ini di Indonesia.
Untuk tinggal pun, Sri mengatakan, kebanyakan para pencari suaka asal Timur Tengah mengontrak rumah-rumah milik warga secara bergerombol. Mereka biasa hidup berpindah-pindah karena keterbatasan biaya. Paling lama para pencari suaka itu menetap di rumah kontrakan disewa hanya satu bulan. Kemudian mereka berpindah-pindah untuk mencari kontrakan lebih murah.
Haji Royani, pemilik rumah kontrakan di Desa Batu Layang juga mengatakan hal yang sama seperti di ucapkan oleh Sri. Menurut dia, paling lama para pencari suaka atau biasa disebut imigran itu tinggal sekitar dua bulan. Mereka kemudian menghilang dan tidak diketahui keberadaannya. "Kadang ada yang hanya dua minggu terus keluar," ujar Haji Royani saat ditemui di kediamannya.
Di kontrakan Haji Royani memang banyak terdapat para imigran asal Timur Tengah. Mereka kebanyakan berasal dari negara-negara konflik. Kedatangannya pun ke Cisarua, kata Royani diketahui hanya tinggal sementara. Mereka tinggal bersama dengan orang-orang satu negaranya secara berkelompok, sebelum akhirnya mendapatkan suaka ke negara tujuan. Berdasarkan data terpampang di rumah kontrakan juga dijadikan sebagai tempat belajar bahasa Inggris, para pencari suaka itu kebanyakan dari Afganistan.
Ada juga dari negara Iran. Selain di Desa Batu Bayan, di Kampung Sampey, hanya bersebrangan dengan Batu Bayan, para pencari suaka ini juga menyewa rumah. Mereka ada yang dari Sudan. "Saya tidak mengetahui banyak. Di sini saya hanya menyewakan tempat. Kalau surat mereka lengkap silakan sewa di sini, kalau tidak silakan cari ke tempat lain," katanya.
Mohammad Abdul Aziz, pencari suaka asal Somalia yang ditemui di Jalan Jaksa, Menteng, Jakarta Pusat, mengatakan jika keberadaan para rekan-rekannya asal Timur Tengah ke kawasan Bogor memang ada yang membawa. Aziz pun menolak menjelaskan siapa penghubung para pencari suaka ini hingga bisa singgah di kawasan Puncak. Dia mau memberi tahu asal, reporter merdeka.com mau diajak menikah.
"Pokoknya di daerah sana mereka tinggal, sambil menunggu kepastian dari UNHCR," kata Aziz yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini.
Saking lamanya tidak mendapatkan suaka untuk ke Amerika, Aziz pun sampai menggelandang di depan kantor UNHCR. Saban hari dia pun sering terlihat mondar mandir di Jalan Jaksa hingga Kantor United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). "Saya di sini. Sebulan Rp 900 ribu," Ujar Aziz.
Kepala Desa Tugu Utara, Asep Ma'mun Nawawi mengatakan, jika keberadaan para pencari suaka asal Timur Tengah ini lambat laun membawa dampak negatif bagi warganya. Apalagi saat ini, para pencari suaka itu juga membuka usaha di wilayahnya. Maklum wilayah Desa Tugu Utara memang masuk ke dalam kawasan Warung Kaleng. Namun Asep mengaku tak bisa menindak para pencari suaka itu, karena bukan masuk ke dalam ranahnya.
Paling bejat, kata Asep, para pencari suaka ini juga pernah tertangkap tangan melakukan pelecehan seksual dan pencurian. "Kalau sekarang seperti terjadi pembiaran para imigran ini. Ini kan kewenangan Imigrasi ya," ujar Asep. Dia pun berharap ada tindakan tegas dari instansi berwenang untuk menertibkan para pencari suaka ini agar tidak terjadi gesekan dengan warga. "Saya khawatir ada resistensi dengan masyarakat," katanya.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat, Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Heru Santoso mengatakan, aktivitas dilakukan para pencari suaka itu dengan membuka usaha tentu melanggar undang-undang Imigrasi. Menurut dia, para pencari suaka itu tak boleh melakukan aktivitas pekerjaan untuk mendapatkan bayaran, apalagi sampai membuka usaha.
"Itu melanggar tindak pidana umum, mereka enggak boleh kerja dan enggak punya usaha," ujar Heru saat ditemui diruang kerjanya, pekan lalu. (mdk/arb)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya