Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bunga layu isyarat tak perawan

Bunga layu isyarat tak perawan Tradisi Ngarot. ©2015 Merdeka.com/pram

Merdeka.com - "Kalau yang ikut itu (maaf) enggak perawan, bunga yang ditaruh di kepalanya bakal layu," begitu Kepala Desa Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Raidi menjelaskan jika upacara ngarot ini memang diikuti oleh lelaki dan perempuan yang benar-benar masih suci.

Kategori suci dijelaskan Raidi seperti seorang perempuan belum pernah di jamah laki-laki. "Dicium saja sudah masuk tidak suci," ujarnya menandaskan.

Upacara ngarot bagi warga Desa Lelea merupakan tradisi sakral. Menurut Fendi, warga asli Desa Lelea mengatakan jika tradisi ngarot merupakan upacara turun temurun di kampungnya. Upacara ini dilakukan sejak dulu, sekitar tahun 1686.

Ngarot pertama kali digelar oleh kepala desa pertama Lelea sebagai bentuk rasa syukur kepada Ki Buyut Kapol. "Ini dilakukan sudah lama, kalau berdasarkan buku sekitar tahun 1600," kata Fendi, Sabtu pekan kemarin.

Ki Buyut Kapol merupakan sesepuh Desa Lelea. Menurut cerita turun temurun di desa itu, Ki Buyut Kapol dulunya memiliki tanah dan sawah Desa Lelea. Pasangan suami istri itu tidak memiliki keturunan. Ki Buyut Kapol kemudian menyerahkan sebidang sawah kepada masyarakat Desa Lelea untuk digarap.

Namun hibah tanah itu bukan tanpa syarat. Ki Buyut Kapol memberi syarat yang yang harus di penuhi penggarap sawah itu, yakni mereka harus perjaka dan perawan.

"Ada syarat, yang menggarap itu harus lelaki dan perempuan. Keduanya harus perjaka dan gadis," kata Fendi. Hal tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal tradisi Upacara Ngarot bagi warga Desa Lelea.

Petilasan Ki Buyut Kapol sendiri terletak di Kantor Desa Lelea. Di Balai Desa itu ada sebuah kamar tak jauh dari pendopo. Isi petilasan itu merupakan papan kayu jati. Kayu tersebut dulunya merupakan bekas pendopo. Pada zaman penjajahan Belanda, kayu tersebut sempat di bakar. Namun entah kenapa, kayu tersebut tidak mempan dilalap api.

Selain kayu jati dibungkus kain berwarna putih, di petilasan Ki Buyut Kapol juga terdapat keris dan beberapa barang lain. Di depan petilasan ada tempat terbuat dari keramba berisi arah dengan bau menyan menyengat. Ada tiga foto warga desa Lelea ditaruh di atas petilasan. Foto-foto itu merupakan milik warga Desa Lelea yang berangkat menjadi Tenaga Kerja Indonesia.

"Kalau di sini disebutnya tapakan. Isinya kayu jati bekal balai dan pernah dibakar Belanda tapi tidak kenapa-kenapa," tutur Fendi yang juga bekerja di kantor Kepala Desa Lelea ini.

Selain peserta upacara ngarot harus perawan dan perjaka, ada kepercayaan dari warga kampung itu jika janda dan duda selalu menghindari tradisi sakral tersebut. Konon, jika peserta yang sudah tidak perawan atau kehilangan keperjakaan tetap memaksakan diri untuk mengikuti upacara ngarot, maka akan terkena tuah.

Tuah tersebut diyakini warga Desa Lelea berupa sialnya kehidupan mereka dalam mendapatkan jodoh. Karena itu upacara ngarot bakal dihindari bagi mereka yang tidak lagi suci. "Ada kepercayaan seperti itu," kata Raidi.

Namun demikian, sejatinya upacara ngarot memiliki pesan moral tinggi bagi para jejaka dan gadis di Desa Lelea. Pesan itu secara tersirat mengajarkan para jejaka dan gadis di Desa Lelea untuk menjaga kehormatan.

Yang gadis menjaga keperawanannya hingga sampai menikah begitu juga dengan jejakanya selalu menjaga keperjakaannya. "Sebetulnya acara ngarot ini ada kebaikannya. Pesannya supaya menjaga kehormatan," ujar Raidi.

(mdk/mtf)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP