Bujuk muslim buat rujuk
Merdeka.com - Kejadian mengejutkan itu muncul Rabu pekan lalu. Sebanyak 14 tokoh Islam dari Indonesia, Arab Saudi, Yordania, Palestina, Turki, Bosnia, Nigeria, dan Amerika Serikat, berkunjung ke bekas kamp Nazi Jerman di Auschwitz, Polandia.
Tidak sekadar melawat, orang-orang dianggap memahami ajaran Islam ini melaksanakan salat gaib buat mendoakan arwah kaum Yahudi dibantai selama Perang Dunia Kedua itu. Apa yang dapat Anda bilang? Tak ada kata-kata. Apa yang Anda saksikan di luar imajinasi manusia," kata Presiden Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA) Imam Muhammad Magid kepada kantor berita AFP, seperti dilansir surat kabar The Huffington Post, Kamis (23/5).
Padahal haram hukumnya bagi orang Islam mendoakan orang kafir. Allah berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 113: Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walau orang-orang musyrik itu kerabatnya. Sudah jelas bagi mereka, orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahanam.
Ayat ini turun sebagai jawaban dari hadis Nabi Muhammad: Menjelang kematian Abu Thalib, datanglah Rasulullah dan didapati di samping Abu Thalib ada Abu Jahal bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah. Nabi bersabda kepada Abu Thalib: “Pamanku, ucapkanlah Laa ilaha illallah, suatu kalimat yang aku akan bersaksi di hadapan Allah untuk melindungimu”.
Maka Abu Jahal dan Abi Ummayyah berkata: “Hai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka agama nenek moyang kita Abdul Muthallib?” Rasulullah terus mengajak Abu Thalib mengucapkan kalimat tauhid dan kedua orang itu pun terus mengucapkan kalimat mereka.
Sehingga akhir ucapan Abu Thalib adalah ucapan mereka, yakni dia tetap mengikuti agama Abdul Muthallib (menyembah berhala/agama kemusyrikan) dan dia enggan mengucapkan Laa ilaha illallah. Maka bersabda Rasulullah : “Demi Allah, akan kumintakan ampunan Allah atasmu selagi Allah tidak melarang. Lalu Allah menurunkan surah At-Taubah ayat 113.”
Kunjungan diatur oleh Kementerian Luar negeri Amerika ini juga melibatkan Profesor Rahim Yunus dari Indonesia. Bagian pers di Museum Auscwitz membenarkan soal itu. "Wakil dari Indonesia adalah profesor Rahim Yunus," kata seorang lelaki menolak disebut namanya saat dihubungi merdeka.com kemarin.
Bukan kali ini saja Israel membujuk tokoh-tokoh Islam dari Indonesia. Desember 2007, sejumlah tokoh Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah berkunjung ke Israel atas undangan lembaga the Simon Wiesenthal Center (SWC). Selama di sana, mereka menengok Kota Sderot selalu menjadi sasaran roket dari Jalur Gaza, mengunjungi Tembok Ratapan (Kotel dalam bahasa Ibrani), dan merayakan Hanukkah untuk memperingati pembangunan Kuil Sulaiman kedua di Yerusalem.
Saban tahun, Kedutaan Besar Israel di Singapura mengundang sejumlah tokoh pemuda organisasi Islam, pengusaha, dan bahkan politikus buat merayakan kemerdekaan negara Zionis itu. Merdeka.com membuktikan hal itu tahun lalu saat menghadiri perayaan hari lahir ke-64 negara Israel di Singapura.
Semua orang Indonesia itu tidak kikuk berada di resepsi itu. Bahkan, mereka berbincang akrab dengan tuan rumah, yakni Duta Besar Amira Arnon. Amira tampak senang menyambut tetamunya dari Indonesia itu. Bahkan, dia menyebut mereka kawan Israel. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya