Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Biar kembar tak selalu sama

Biar kembar tak selalu sama kampung kembar. ©2016 Merdeka.com/Muhammad Zul Atsari

Merdeka.com - Sejak Sekolah Dasar sampai kini duduk di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Riki Prawoto dan Riko Prawoto tak pernah terpisahkan. Bahkan, mereka selalu sekelas sejak di bangku SD. Saat keduanya naik ke kelas 5 SD, pihak sekolah memutuskan memisahkan Riko dan Riki. Ada perasaan tidak nyaman, terasa ada yang kurang. Bagai sayur tanpa garam, kurang lengkap. Wajar saja, mereka lahir hanya berselang lima menit.

"Enggak tahu kenapa kayaknya enggak bisa aja pisah kelas. Dari hati kayak enggak bisa dipisah, ya maunya bareng terus," ujar Riko saat berbincang dengan merdeka.com di RW 03, Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, akhir pekan lalu.

Ikatan batin yang sangat kuat membuat keduanya merasa harus selalu bersama. Suatu kali, kedua orang tuanya pernah memisahkan mereka. Riki tinggal bersama orang tuanya di Cempaka Putih, sementara Riko tinggal bersama paman dan bibinya di Klender. "Enggak tahu kenapa, pisah malah jadi sakit. Riki juga sama, sakit demas dan panas. Pas disatuin lagi, tiba-tiba aja sembuh sendiri," cerita Riko.

Akhirnya mereka dibesarkan bersama-sama, orang tuanya tak tega memisahkan keduanya. Meski kompak dan memiliki keinginan kuat untuk selalu bersama-sama, kenyataannya Riki dan Riko tak pernah lepas dari perkelahian. Saat keduanya duduk di bangku SD sampai SMP, tiada hari tanpa bertengkar. Namun pertengkaran mereka tidak lama, setelah itu keduanya kembali akur. Sebagai adik, Riki terlihat lebih kalem dibanding Riko yang mengaku keras kepala. "Kalau berantem biasanya Riki yang ngalah. Dia lebih pendiem juga," ucap Riko.

kampung kembar

Dari wajah, keduanya memang sulit dicari perbedaannya. Teman dan guru mereka terkadang tidak bisa membedakan dan kerap salah sebut nama. Namun tetap ada yang membedakan mereka. Kulit Riko lebih gelap dibanding Riki. Riki juga bertubuh sedikit lebih besar dibanding Riko. Perbedaan lain, Riko lebih banyak bicara dibanding Riki yang sifatnya pendiam. Riko menceritakan pengalaman uniknya. Saat mengerjakan tugas kelompok di sekolah, Riko sakit. Riki pun menggantikan saudara kembarnya itu. "Enggak ada yang tahu, saya pura-pura jadi Riko, enggak ketahuan," aku Riki sambil tertawa.

Berbeda dari Riko dan Riki, Robi Purwanto dan Firli Purwanti tidak senasib jika salah satu di antara mereka sakit. Tapi urusan kekuatan ikatan batin antar saudara kembar, Robi dan Firli juga merasakannya. Saban kali Firli pergi dan menemui kesulitan di perjalanan, Robi secara tidak langsung merasakannya. Feeling Robi hampir selalu benar setiap kali berhubungan dengan keadaan adik perempuannya itu.

"Pernah saya tiba-tiba berpikir Firli ada apa-apa, benar aja, dia minta jemput karena motornya mogok malam-malam. Kayak kontak batrin aja. " cerita Robi.

kampung kembar

Meski selalu kompak, tapi urusan pilihan masa depan mereka berbeda satu dengan yang lain. Robi memilih menekuni bidang ekonomi dan manajemen, sementara Firli terjun sebagai pengajar atau guru. Keduanya juga berbeda prinsip. Meski sama-sama keras kepala, mereka tidak pernah bertengkar. "Ya biasanya sih hanya selisih pendapat saja," kata Firli.

Hubungan Robi dan Firli sangat dekat. Tidak heran jika banyak yang mengira mereka sepasang kekasih. Pengalaman unik ini juga terjadi saat keduanya masih duduk di bangku sekolah. Sejak SD sampai SMA, keduanya mengenyam pendidikan di sekolah yang sama. Ketika memasuki gerbang pendidikan SMA, para guru dan teman-teman mereka mengira Robi dan Firli menjalin hubungan asmara. Sebab, keduanya sering terlihat berangkat dan pulang bersama. Di sekolah pun mereka selalu berdua.

Kekasih Robi maupun Firli juga sempat cemburu melihat kedekatan mereka. "Awalnya mereka juga nanya-nanya. Tapi setelah kita kasih tahu kalau kita kakak adik, mereka baru tahu dan paham, malah jadi seru obrolannya," lanjut Robi.

kampung kembar

Di balik kisah lucu dan unik yang dialami anak kembar, ada pula kisah yang mengharukan. Seperti yang dialami Atthiya dan Aliyya (11). Guru dan teman-teman mereka tidak bisa membedakan keduanya, bahkan kerap salah memanggil nama mereka. Atthiya sampai rela membuat pembeda yang bisa membantu guru serta temannya untuk mengenali mereka. Atthiya mencoba menghilangkan dua tahi lalat di sekitar bibirnya. Dua tahi lalat ini juga ada di wajah saudara kembarnya Aliyya.

Atthiya berpikir, dengan menghapus tahi lalat di wajahnya, guru dan teman serta keluarga akan lebih mudah membedakan mereka. Alhasil, dua tahi lalat di wajah Atthiya ini sudah tidak nampak lagi. Mereka lebih mudah dibedakan. Aliyya memiliki dua tahi lalat di wajah, sedangkan Atthiya tidak. "Saya korek-korek tahi lalat. Ada dua juga. Aku korek-korek. Karena kalau enggak gitu, enggak ada bedanya. Eh dimarahin sama ibu. Katanya jangan dikorek-korek.

Atthiya dan Aliyya selalu jadi pusat perhatian. Baik di sekolah maupun di jalanan. Kebanyakan kagum dan gemas melihat wajah keduanya yang bagai pinang dibelah dua. Keduanya juga selalu kompak dan tak pernah bertengkar. Namun untuk urusan cita-cita, keduanya punya mimpi masing-masing. Atthiya bercita-cita menjadi polisi wanita (Polwan) sementara Aliyya ingin menjadi dosen. (mdk/noe)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP