Bekerja dalam sunyi
Merdeka.com - Setiap sore, lalu lintas Jalan Cinere Raya sangat ramai. Saat melintas Jalan Cinere Raya nomor 26-29, mata pengendara tertuju pada papan nama bertuliskan 'Fringetalk Deaf Cafe and Car Wash, Terima Cuci Steam Mobil & Motor. Cepat dan mengkilap, sambil menikmati sajian di kafe kami. Special healthy food aneka minuman bakal roti dll'. Papan nama itu juga memasang gambar jari-jari sebagai isyarat huruf.
Sekilas, tempat pencucian mobil dan kafe ini tidak berbeda dengan yang lain. Tempatnya rapi dan bersih. Di dalamnya ada bangunan dua lantai bercat oranye yang dikombinasikan dengan biru. Ada beberapa pengunjung, pramusaji kafe dan pekerja pencuci mobil dan motor. Mayoritas pekerja di situ laki-laki, hanya dua orang pekerja perempuan. Satu bekerja sebagai kasir pencucian mobil, satu lagi sebagai pramusaji kafe. Senyum ramah terpancar dari raut wajah mereka. Mereka hanya tersenyum, tidak berkata-kata saat merdeka.com menyambangi kafe tersebut akhir pekan lalu.
Tak berselang lama, sebuah mobil dan dua motor masuk ke area pencucian. Mulai terlihat keunikan cuci mobil dan kafe ini. Para pegawai mulai beraksi. Mereka menyambut tamu dan mengarahkan parkir dengan isyarat jari-jari mereka. Dengan telaten dan cekatan mereka langsung berbagi tugas mencuci kendaraan pelanggan. Ada yang bertugas menyemprot air ke seluruh bagian mobil dan motor, ada pula yang mulai menggosok ban dengan sikat dan sabun.

Pemilik mobil dan motor bersantai dan menunggu di kafe. Mereka dilayani seorang pramusaji, juga dengan isyarat jari. Pramusaji menawarkan menu makanan dan minuman yang tertera dalam daftar. Pemilik cafe and car wash, Dissa Syakina Ahdanisa juga harus menggunakan bahasa isyarat jika berkomunikasi dengan anak buahnya. Begitulah mereka bekerja dalam sunyi, bekerja tanpa kata. Seluruh pekerja sana adalah penyandang disabilitas tuna rungu.
"Mulai ramai jam berapa?" tanya Dissa yang sudah fasih memainkan jari-jarinya sebagai bahasa isyarat.
"Jam 2 siang sampai jam 9 malam," kata Septi dengan memainkan jari-jarinya.
"Tadi siapa yang masak?" tanya Dissa.
"Rizky," jawab Septi dengan senyum ramah.
Septi merupakan pegawai paling senior. Sejak awal kafe dan cuci mobil ini dibuka, Septi adalah karyawan pertama. Dia tinggal tak jauh dari tempatnya bekerja. Sehari-hari Septi menggunakan sepeda motor ke tempat kerja. Tapi terkadang dia berangkat diantar suaminya. Septi pekerja keras. Dia baru pulang bekerja sekitar pukul 23.00 WIB, setelah membersihkan kafe. Septi tak pernah mengeluh, bahkan bersyukur bisa diterima bekerja layaknya orang-orang pada umumnya.
"Betah kerja di sini?" tanya Dissa.
"Betah. Yang datang banyak tuna rungu dan normal. Campur," katanya.

Beragam menu makanan dan minuman ditawarkan di Deaf Cafe. Penentuan menu makanan dan minuman berdasarkan hasil diskusi Dissa dengan pegawainya. Harganya tak menguras isi kantong, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 35.000. Lantaran semua pegawai tuna rungu dan tuna wicara, di atas meja juga disediakan lembar panduan bahasa isyarat. Misalnya saja ketika ingin memesan kopi, pelanggan menunjukkan tangan seperti memegang gelas dengan tangan kiri kemudian tangan kanan seperti mengaduk-aduk. Lalu, ketika ingin mengucapkan enak cukup dengan mengacungkan jempol. Jika ingin mengucapkan terima kasih, pelanggan dapat meletakkan empat jari di atas dagu. Selain itu masih banyak isyarat-isyarat lainnya yang bisa pelanggan tirukan.
Dissa berkeliling dan dengan ramah menyapa pelanggan yang datang. Salah satunya Lukman dan Faisal. Mereka sudah tiga kali mencuci motor di tempat itu. Kehangatan terasa dalam perbicangan mereka. Meski tanpa kata, tanpa suara. Gerak bibir dan jari membuat mereka tetap bisa saling berkomunikasi dengan baik.
"Cuci mobil atau motor?" tanya Dissa.
"Cuci motor," ucap Lukman sambil menggerakan tangan seperti orang menaiki motor.
"Tahu tempat cuci mobil ini dari mana? katanya.
"Dari teman-teman, dari instagram," ujar Lukman sambil memeragakan telepon genggam.
Dissa sumringah melihat pelanggan setianya rela datang dari jauh. Lukman tinggal di Ciledug, Tangerang Selatan, tapi selalu menyempatkan diri datang karena banyak teman di kafe dan cuci mobil itu.
"Sering-sering ya main ke sini. Di sini banyak teman-teman. Aku juga belajar bahasa isyarat. Terima Kasih Lukman," ujar Dissa dengan meletakkan empat jari di atas dagu. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya