Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Batan: Pemahaman nuklir untuk senjata masih populer

Batan: Pemahaman nuklir untuk senjata masih populer Kepala Batan Djarot S. Wisnubroto. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) menilai penerimaan masyarakat terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir semakin baik. Itu terlihat dari hasil jajak pendapat tahun lalu, sebanyak 75,3 persen dari 4 ribu responden tersebar di Indonesia menerima PLTN. Ini meningkat ketimbang hasil survei tahun sebelumnya, sebesar 72 persen.

Namun, tingkat penerimaan masyarakat tak diikuti dengan membaiknya pemahaman masyarakat terkait nuklir. Kebanyakan masyarakat masih memersepsikan nuklir sebagai senjata.

Kepala Batan Djarot S. Wisnubroto menjelaskan hal tersebut ketika diwawancarai merdeka.com, di kantornya, Jakarta, Rabu (25/10). Berikut petikannya:

Bagaimana perkembangan PLTN?

Kalau di dunia, saat ini, sudah ada sebanyak 450 PLTN tersebar di 31 negara. Negara pemilik terbesar adalah amerika serikat, sekitar 100 PLTN. kemudian negara dengan persentase penggunaaan listrik terbanyak adalah Prancis, 70 persen listriknya dari PLTN. Negara yang membangun PLTN paling banyak saat ini adalah Tiongkok, sekitar 20 PLTN. Share listrik di dunia dari PLTN itu sekitar 11 persen. Diantara 10 negara dengan populasi terbesar, tinggal Indonesia yang belum memiliki komitmen membangunPLTN. Nigeria dan Bangladesh sudah menyatakan komitmennya.

Ada restistensi?

Kalau restistensi di seluruh dunia masih ada, termasuk di Amerika dan Prancis. Namun, rata-rata negara banyak punya PLTN, hasil jajak pendapatnya sekitar 60 hingga 70 persen. Kalau jajak pendapat yang kami lakukan di indonesia tahun lalu, hasilnya 75,3 persen setuju PLTN. Itu dari 4 ribu responden di seluruh Indonesia.

Itu artinya masyarakat sudah teredukasi?

Ada dokumen yang sangat dalam analisisnya, cukup menarik. Masyarakat itu menginginkan ada listrik meskipun tahu caranya berisiko. Ada pertanyaan yang diberikan ke masyarakat, nuklir itu untuk apa?

Jawaban pertama yang paling populer adalah untuk senjata. Nomor dua baru untuk listrik. Kemudian, pertanian, kesehatan.

Jadi, mereka itu setuju PLTN tidak lantaran berbasis sosialisasi yang diberikan Batan, tetapi karena kebutuhan. Meskipun persepsi mereka nuklir hanya buat senjata masih salah juga.”

Bagaimana dengan pemerintah?

Saya ambil contoh Bangka. Dari sisi teknis, administrasi Bangka sudah siap untuk PLTN. Tinggal pemerintah pusat dan daerah menentukan go nuklir atau tidak? Sebentar lagi kan Pilkada serentak, termasuk di Bangka Belitung. Kami sudah dapet sinyal dari pemerintah derah jangan ngomong nulir dulu sampai februari. Sebab akan menjadi isu yang kalau petahana ngomong pro-nuklir, oposisinya akan mengatakaan anti nuklir. seperti Hillary clinton ngomong A, Trump B. Kamu sudah di warning jangan ngomong nuklir yang bisa menimbulkan situasi dimana petahana atau gubenur yang saat ini sulit. Bisa jadi gubenur yang menang nanti setelah februari antinuklir.

Isu nuklir itu sangat bersinggungan karena memainkan psikologi masyarakat. Nuklir itu menakutkan masyarakat menimbulkan keragu-raguan di politisi. PLTN itu perlu komitmen kuat dari presiden, ketika presiden go otomatis di bawahnya mengatakan yes.

PLTN punya banyak kemaslahatan?

Saya bilang ya, kalau Tanya antinuklir tentu saja tidak. China dan India pertumbuhan ekonominya tinggi, listriknya dari mana? Kelebihan PLTN itu emisi karbonnya rendah, ramah lingkungan. (mdk/yud)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP