Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bandung (bukan) lautan air

Bandung (bukan) lautan air Banjir di Jalan Pelajar Pejuang Bandung. ©2016 merdeka.com/andrian salam wiyono

Merdeka.com - Anekdot 'Bandung Lautan Air' ternyata menjadi kenyataan. Ibu Kota Jawa Barat itu dilanda banjir hebat belakangan ini. Padahal kota kembang tenar dengan sebutan Bandung Lautan Api.

Sebutan Bandung Lautan Api terjadi karena sebuah peristiwa terjadi pada 23 Maret 1946. Sekitar 200 ribu penduduknya saat itu mengungsi dan pasrah saat kediaman mereka dibumihanguskan oleh tentara Republik Indonesia. Lelaku itu buat mencegah tentara sekutu menjadikan Bandung sebagai markas militer. Mereka lantas bersembunyi di kawasan selatan Bandung

Meski demikian, peristiwa heroik itu kini ramai dibuat cibiran. Sebabnya karena Bandung belakangan ini disorot atas bencana banjir besar. Padahal, sebagai daerah berada di kondisi alam dengan dengan kemiringan 15 derajat, kota seluas 16.700 hektare ini tak seharusnya dilanda masalah itu. Curahan air hujan mestinya bisa lekas mengalir ke-47 sungai bermuara di hilir Sungai Citarum.

Kenyataannya terbalik. Senin, 24 Oktober 2016, Kota Bandung dikepung genangan air. Kawasan Pasteur juga terimbas. Pintu masuk gerbang ke kota ini lumpuh beberapa jam. Ketinggian air di tempat ini mencapai 160 sentimeter.

Banjir juga terjadi di Pagarsih. Air bahkan menggenang setinggi dada orang dewasa. Beberapa kendaraan juga ikut tersapu. Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, memerintahkan anak buahnya supaya mengalirkan banjir ke sungai.

Bencana serupa kembali terjadi lagi pada Rabu, 9 November lalu. Banjir bandang mengakibatkan dua mobil terparkir di sana ditelan derasnya air luapan Sungai Citepus.

Dalam catatan merdeka.com, titik menjadi langganan banjir di Kota Bandung berada di kawasan Pagarsih, Gedebage, dan Pasteur. Adapun titik-titik genangan jika hujan ekstrem meluas ke kawasan Wastukancana, Jalan Lodaya, Jalan Pasirkoja, Jalan Ahmad Yani, Sukagalih, Sudirman, Waringin (Pasar Andir), Jalan Pelajar Pejuang, Jalan Burangrang, Stasiun Timur, Kebon Jati, Caringin, dan Otista.

Ketua Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Supardiono Sobirin mengatakan, kawasan Cekungan Bandung (meliputi kawasan Bandung Raya) seluas 3 ribu hektare dilanda banjir pada tahun 2016. Jumlah itu meningkat dua kali lipat dari 2015 yang hanya 1.500 hektare. Meski demikian, dalam enam tahun terakhir, banjir 2016 bukan yang terparah. Karena pada 2010 lalu banjir merendam 5 ribu hektare lahan di kota kembang.

"Adapun 2013 dan 2014 sebanyak 2.500 hektare," kata Sobirin saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (17/11) lalu.

Banjir terjadi di Bandung disebabkan kurang memadainya saluran air. Ditambah sedimentasi dan perilaku masyarakat kerap sembarangan membuang sampah. Itu dikatakan Kepala Dinas Binamarga dan Pengairan (DBMP) Kota Bandung, Iskandar Zulkarnaen. Menurut Zul, air meluap dari sungai lantaran tidak bisa menampung.

"Sebenarnya sedimentasi. Biasanya kami keruk. Tapi karena hujannya keburu besar, ya jadi keburu banjir," kata Zulkarnaen.

Ridwan Kamil mengatakan, merunut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat banjir besar terjadi, curah hujan mencapai tiga kali lipat. Jika biasanya hanya 20 milimeter, tapi saat itu mencapai 77 milimeter.

"Jadi air tumpah ke bumi Jabar di musim ini ada momen sampai tiga kali lipat melebihi normal, atau yang disebut cuaca ekstrem. Maka kalau mau fair kita lihat. Banjir di mana-mana. Karawang, Saguling (Kabupaten Bandung Barat), Garut. Karena Bandung ibu kota Jabar jadi diliput lebih, saya paham," kata pria akrab disapa Emil itu. (mdk/ary)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP