Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bali surga LGBT

Bali surga LGBT Aktivitas LGBT di Seminyak. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Hujan deras masih mengguyur sekitar kawasan Denpasar ketika merdeka.com tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Meski bukan musim liburan, hiruk pikuk turis lokal maupun mancanegara memang tak pernah surut singgah di tempat tersohor Pulau Dewata ini. Jangan kaget jika banyak pelancong mondar-mandir turun dari pesawat buat menikmati pariwisata di Bali.

"Bulan ini sepi turis mas, karena belum musim liburan," ujar Wayan, seorang sopir taksi seraya mengantarkan merdeka.com ke kawasan Pantai Kuta buat mencari tempat penginapan, Minggu malam pekan lalu.

Kehadiran turis memang menjadi sumber rezeki bagi Wayan juga teman seprofesinya sebagai sopir taksi. Saban musim liburan, kawasan Kuta, Legian, Sanur, Denpasar sampai Seminyak menjadi tempat favorit bagi para pelancong. Namun di balik indahnya alam di Bali, pulau Dewata itu juga menjadi surga suburnya kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender atau di kenal dengan LGBT. Kawasan Seminyak salah satunya.

Di kawasan masuk wilayah Badung Utara, Kabupaten Badung ini berjejer club dan bar khusus LGBT. "Kalau daerah Seminyak itu, memang tempat homo mas," ujar Wayan.

aktivitas lgbt di seminyak

Ingatannya pun tertuju pada tamu pernah diantar Wayan menggunakan taksi dia kemudikan. Dari kaca spion, Wayan menyaksikan dua lelaki penumpang taksinya bercumbu. Satu lelaki orang Indonesia, sedangkan satunya lagi warga negara Prancis. Tanpa malu, keduanya mengumbar kemesraan. Wayan hanya terdiam.

"Mereka tidak malu-malu ciuman. Saya iseng cari jalan lobang, mereka kaget dan berhenti berciuman," katanya risih mengingat kejadian itu.

Memang bukan hanya sekali wayan mengantar penumpang suka sesama jenis dalam mobilnya. Saking banyaknya, jumlahnya pun dia tak ingat. Tetapi bagi Wayan, inilah Bali, surga wisata juga surga bagi kaum LGBT. Orang-orang seolah bebas melakukan apapun selama tidak melanggar aturan. Termasuk juga buat urusan seks, Bali bisa dibilang cukup toleran.

Musik disko terdengar samar-samar dari luar bar di Jalan Camplung Tanduk kawasan seminyak. Bagi orang Bali, kawasan ini memang sudah dimaklumi berisi kaum LGBT. Setidaknya ada empat tempat hiburan khusus kaum LGBT di kawasan ini. Saban malam, para gay baik lokal juga warga negara asing keluar masuk ke dalam bar. Mereka berkumpul menjadi satu. Tidak hanya kaum gay, ada pula kaum lesbi dan transgender. Tak jauh dari deretan bar itu, ada Pantai Doublesix. Pantai ini juga terkenal menjadi tempat kongkow kaum LGBT.

Aktivitas mereka mulai berdenyut setiap pukul sebelas malam hingga menjelang ayam berkokok. Ada yang hanya melepas penat dengan hiburan. Ada juga yang sengaja mangkal di pinggir jalan buat menjajakan diri.

aktivitas lgbt di seminyak

D, seorang Gay berusia 25 tahun mengatakan, rata-rata yang datang ke Kawasan Seminyak ialah mencari pasangan sejenis. Mereka datang mencari fantasi sesaat dan bukan mencari pasangan hidup. Rata-rata tujuan para gay ini mencari bule uzur. Bule-bule tua ini menjadi incaran gay lokal karena banyak fulus.

"Yang (bule) tua itu duitnya banyak dan gampang di kelecein," ujar D.

Suburnya kaum LGBT di Bali bukan tanpa alasan. Menurut D, orang-orang di Bali tak pernah melakukan diskriminasi kepada mereka. Umumnya, masyarakat Bali juga tak mengenal Homofobia atau antipati terhadap kaum LGBT. "Beda dengan Jakarta dan kota lain, orang-orang di sana itu terlihat sekali Homofobia. Kalau di sini kita bebas, dan ada tempatnya," kata D.

Masyarakat Bali memang tidak pernah mempersoalkan kehadiran dan aktivitas kaum LGBT di sekitar mereka. Semangat dan menjunjung tinggi kebebasan menjadi alasan eksisnya keberadaan kaum LGBT. Intinya selama tidak merusak norma dan hukum adat.

"Gay dibiarkan yang penting tidak keluarga mereka (warga Bali) yang diusik," ujar tokoh adat Bali, I Gusti Agung Ngurah Harta saat ditemui di kediamannya. Menurut Ngurah Harta keberadaan LGBT sejauh ini memang tidak meresahkan. Mereka kebanyakan tidak 'mencari' korban di luar dari kelompoknya. Apalagi orang Bali kata Ngurah Harta menghormati hak individu. Ranah pribadi menjadi tanggung jawab masing-masing kepada sang pencipta kehidupan.

"Di Bali yang ditanamkan memerdekakan pikiran. Jadi tidak mengutak-atik orang lain, tidak memberi penilaian negatif. Di pantai, orang bule (turis asing) telanjang, ya orang Bali tetap sembahyang, tidak terganggu,"

aktivitas lgbt di seminyak

Meski hidup berdampingan, Ngurah Harta juga menjelaskan jika masyarakat Bali tidak terpengaruh dengan gaya hidup budaya barat termasuk juga homoseksual. Karena, setiap individu sejatinya tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk menjadi sama dengan mereka. Pemikiran itu juga kemudian menjadi alasan jika kehadiran kaum LGBT di Pulau Bali tidak berdampak buruk dalam kehidupan sosial.

"Ini bagaimana kita merespon dan berpikir. Kalau berbeda, itu pilihan mereka. Tidak harus sama seperti kita. Kalau itu yang sekiranya bagus buat mereka, silakan," tutur Ngurah Harta.

Akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana, I Dewa Ayu Sugiarica Joni akrab disapa Ida Ayu pernah melakukan penelitian kaum gay. Menurut dia, masyarakat Bali cenderung bisa menerima kehadiran dan aktivitas kaum LGBT. Hal itu dilandasi karena Bali juga merupakan tempat akulturasi beragam budaya dan suku bangsa.

Mayoritas kata Ida Ayu, sebagian besar kaum LGBT hidup berdampingan dengan masyarakat. Bahkan ada juga yang sudah mulai terbuka dalam hal pemikiran. "Kalau di pedesaan, karena pengetahuan terbatas, info terbatas, maka melihat sesuatu yang aneh dan berbeda di luar normal mereka, mereka pasti sulit menerima," ujar Ida Ayu. (mdk/arb)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP