Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Asa dari secuil sawah di Jakarta

Asa dari secuil sawah di Jakarta Sawah di Jakarta. ©2018 Merdeka.com/Anisyah

Merdeka.com - Hamparan sawah membentang di timur Jakarta. Jauh dari pusat keramaian. Sejuk dan tenang. Embusan angin membuat aroma tanah bercampur lumpur begitu terasa. Khas suasana persawahan. Bukan lagi kepulan asap knalpot. Menjadi pemandangan berbeda di tengah pesatnya pembangunan.

Lokasinya dekat perbatasan antara Jakarta dan Bekasi. Tepatnya di kawasan inspeksi Banjir Kanal Timur (BKT), Cakung Timur, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Berjarak lebih kurang 500 meter dari bibir jalan. Jauh dari pemukiman. Tetapi terlihat dari kejauhan empat gedung apartemen megah.

Lahan persawahan memang cukup luas. Berjejer tanaman padi. Hijau sejauh mata memandang. Namun, lahan ini bukan di kelola pemerintah. Melainkan milik swasta. Dikelola beberapa petani dengan sistem sewa. Cara ini membuat sejumlah petani masih bisa bertahan hidup di ibu kota.

Kami berjalan menyusuri sawah. Berkeliling. Menyapa dan menjumpai beberapa petani. Tak ada impresi sedang berada di Jakarta. Hingga suara azan zuhur pun berkumandang. Menggiring petani menuju gubuk sederhana di tengah sawah.

Mereka istirahat. Melepas lelah. Sambil menyantap bekal makan siang. Sambil bergurau dan sesekali membahas cuaca tengah tak menentu. Di mana pagi hari bisa hujan lebat. Selang beberapa jam matahari terasa sangat panas. Lalu hujan lagi. Mereka saling mengingatkan. Untuk menjaga kesehatan.

Wasja, salah seorang petani mengaku mendapat jatah 4 hektar. Dia tidak sendiri. Mengurus bersama sang istri. Menyewa lahan milih sebuah perusahaan milik swasta. Syaratnya cukup mudah. Dia hanya membayar sewa lahan bila panen.

"Kalau panen kita bayar sewa. Kalau tidak panen kita tidak bayar sewa," kata Wasja saat bertemu merdeka.com, Kamis pekan lalu.

Dengan sistem ini membuat dia masih bertahan jadi petani di Ibu Kota. Berbeda bila menjadi di kampung halamannya. Wasja harus membayar sewa tanah tiap hektar lahan sedang digarap. Tak peduli panennya berhasil atau gagal. Padahal, hasil pertaniannya tak lebih baik dari di daerah lainnya.

Dalam setahun para petani ibu kota ini hanya merasakan dua kali panen padi. Hasilnya terbilang rendah. Tiap satu hektar hanya mendapatkan 6 ton gabah. Sementara di luar daerah bisa menghasilkan gabah hingga 10 ton. Belum lagi kualitas padi. Untuk padi dihasilkan sawah Jakarta berukuran lebih kecil. Berbeda dengan beras dari daerah. Lebih panjang dan berisi.

Pria berusia 58 tahun ini tiap hari menggarap sawah. Menurut dia, dalam sehari kelompok tani bisa menggarap hingga 1,5 hektar lahan. Dikerjakan 13 petani. Mulai dari membajak sawah, menanam bibit hasil semai dan memanen. Semua dikerjakan bergotong-royong. Kebanyakan merupakan para pendatang dari luar daerah. Termasuk dirinya.

Dari 4 hektar sawah sewaan, dia menanam berbagai jenis bibit padi. Mulai dari padi jenis Ciherang, beras ketan dan beras pera. Tiga hektar telah digarap bersama-sama. Masa tanamnya berbeda. Misalnya, untuk bibit jenis beras pera dan ketan baru bisa dipanen setelah 110 hari. Sementara bibit jenis Ciherang dipanen lebih cepat. Hanya 85 sampai 90 hari.

Pemprov DKI Jakarta menyebut saat ini terdapat 300 hektare sawah tersebar di Jakarta. Sedangkan luas wilayah ibu kota ini mencapai 661 kilometer per segi. Bahkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, meminta food station bisa membeli gabah dari lahan para petani Jakarta. Kemudian membantu memasarkan. Sehingga warga bisa menikmati beras berasal dari tanah Jakarta.

sawah di jakarta

Sawah di Jakarta ©2018 Merdeka.com/Anisyah

Hama menjadi masalah krusial persawahan Jakarta. Usai istirahat, Wasja langsung menyemprotkan insektisida. Obat pengusir hama. Menggunakan mesin penyemprot digendong bak ransel. Mereka kerap diserang hama tikus, wereng dan burung. Tikus menjadi paling banyak dan sulit untuk dibasmi.

"Yang paling banyak itu tikus. Kalau kita pakai racun tikus sekali, besoknya sudah tidak bisa dipakai lagi. Jadi pada kebal racun," ceritanya.

Di samping itu, juga masalah ketersediaan air. Banyaknya sungai tercemar tak lagi mengairi sawah. Air hujan pun menjadi andalan para petani. Bahkan mereka juga kerap mengalami kekeringan. Di musim hujan barulah pertanian berjalan produktif. Namun, mereka juga was-was. Sebab banjir tak hanya di pemukiman. Tetapi, juga bisa menimpa sawah.

Masalah lain juga mulai mengkhawatirkan para petani. Seperti dirasakan petani Jakata lainnya, Marjono. Dia mengaku banyak desas-desus ke depannya lahan pertanian mereka dibangun perumahan. Ada pula menyebut untuk dijadikan tempat pemakaman umum milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun hingga kini dia belum tahu pasti kapan pembangunan itu terjadi.

"Isunya sudah dari lama, cuma sampai sekarang belum juga dipakai," ucap Marjono.

Meski begitu, kata Marjono, disadari atau tidak bahwa secara perlahan sawah sepanjang aliran kali banjir timur sedikit demi sedikit disulap jadi pemukiman. Kini dirinya hanya tinggal menunggu waktu lahan garapan selama ini juga menjadi target pembangunan.

Mengikisnya lahan pertanian di Jakarta dari tahun ke tahun merupakan konsekuensi pembangunan suatu wilayah. Untuk itu, pemerintah Pemprov DKI Jakarta sebaiknya memperhatikan tata ruang wilayah. Sebagaimana telah di atur dalam Undang-Undang Nomor 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Dalam aturan itu mengatur wilayah pertanian berkelanjutan yang tidak boleh dikonversi.

"Kewajiban itu adalah amanah undang-undang perlindungan lahan pertanian berkelanjutan. (Tapi) Saya enggak tahu apa Pemprov DKI sudah menyusun itu," kata Ahli pertanian, Khudori kepada merdeka.com.

Sementara untuk lahan pertanian di Jakarta, dia melihat petani seharusnya menanam palawija dibanding padi. Sebab, tanaman tersebut tidak membutuhkan banyak air. Sehingga diperkirakan lebih menguntungkan. Apalagi bila dijual tanpa melalui tengkulak. (mdk/ang)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP