Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

'Anak negara' di balik gemerlap Ibu Kota

'Anak negara' di balik gemerlap Ibu Kota Panti asuhan Tunas Bangsa. ©2016 Merdeka.com/Desi Aditia Ningrum

Merdeka.com - Fenomena anak telantar dan anak jalanan di DKI Jakarta tak ubahnya seperti rumput yang terus tumbuh. Semakin hari anak-anak malang ini makin bertambah. Hingga 2016, Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta mencatat, ada 8.621 anak telantar yang butuh perhatian.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 785 anak berstatus sebagai anak negara. Anak negara yakni anak-anak yang tidak diketahui orang tuanya atau anak yang sengaja dibuang dan ditelantarkan. Status anak negara baru akan diberikan setelah Dinsos tak berhasil menemukan orang tua mereka. Biasanya, Dinsos menginformasikan anak-anak itu melalui media, baik cetak, elektronik dan media sosial. Tujuannya agar ada anggota keluarga yang mengambil dan mengaku. Setelah tiga kali diberitakan tidak ada tanggapan barulah status anak negara tersebut disematkan.

Kabid Rehabilitasi Sosial Pemprov DKI Chaidir menyebut, pada tahun 2015 ada sekitar 193 anak telantar dan anak negara yang ditemukan. Sedangkan pada tahun 2016 ini ada 127 anak. Dia mengatakan, per bulan pihaknya mendapatkan sekitar 15 balita yang ditelantarkan. Baik itu di rumah sakit atau dibuang di jalanan. Bayi maupun anak-anak tersebut ditempatkan di panti sosial milik Pemprov DKI. Sebab merujuk Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara.

"Ada juga anak telantar ditempatkan di non panti sosial anak," ujar Chaidir saat dihubungi merdeka.com, Senin (14/11).

Panti milik Dinsos Pemprov DKI berada di beberapa wilayah Jakarta. Khusus balita di Cipayung, Jakarta Timur bernama Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Tunas Bangsa, khusus anak usia 6 hingga 12 tahun yaitu Panti Sosil Asuhan Anak (PSAA) Putra Utama di Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur.

panti asuhan tunas bangsa

Panti asuhan Tunas Bangsa ©2016 Merdeka.com/Desi Aditia Ningrum

Di panti balita Tunas Bangsa, tahun 2015 ada sekitar 85 bayi yang diasuh, dengan rincian 39 anak titipan dan 46 anak negara. Untuk tahun 2016 ini, periode Januari hingga November mengalami peningkatan. Yaitu 87 anak titipan dan 60 anak negara.

"Jumlahnya ada 147 anak," kata Kepala PSAA Balita Tunas Bangsa, Vivi Kafilatul Jannah kepada merdeka.com Senin (14/11), di PSAA Balita Tunas Bangsa, Cipayung, Jakarta Timur.

Anak titipan merupakan anak yang masih memiliki orang tua, namun mereka tidak sanggup untuk menghidupinya. Selain itu ada kasus anak atau bayi dititipkan karena karena ibunya mengalami gangguan jiwa atau PSK yang tengah direhabilitasi.

Sementara di PSAA Putra Utama ada sekitar 234 anak, dengan rincian 40 berstatus sebagai anak negara. Anak negara di panti tersebut merupakan kiriman dari PSAA Tunas Bangsa. Sebab, setelah usia sekolah dasar (SD) ditampung di Putra Utama. Kemudian ketika memasuki SMA dan SMA anak-anak tersebut kembali dipindah ke panti anak milik Dinsos di Ceger, Jakarta Timur dan Tebet, Jakarta Selatan.

(mdk/bal)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP