Aib istana nista raja
Merdeka.com - Bau busuk itu mulai tercium Maret lalu setelah Puteri Alanud al-Fayiz, janda Raja Abdullah bin Abdul Aziz as-Saud, mengirim seorang wartawan perempuan. Dia ditugaskan mengunjungi istana tempat empat putrinya disekap di Kota Jeddah, Arab Saudi.
Alanud ingin jurnalis itu menyaksikan langsung nasib buruk menimpa Sahar, Maha, Jawahir, dan Hala. Rupanya sulit menembus benteng setinggi dua meter. Para pengawal menahan wartawan itu selama 50 menit.
"Mereka tidak menjawab pertanyaan-pertanyaannya (wartawan itu)," kata Alanud saat diwawancarai program televisi Eye on Democracy bulan lalu. "Para pengawal itu kemudian mengambil paspor, kartu pers, dan semuanya, lantas menyuruh dia pergi."
Segera setelah itu, kata Alanud, pasokan makanan dan minuman bagi Sahar dan Jawahir dihentikan.
Alanud mengungkapkan empat anak perempuannya itu telah disekap sejak 2001. Saban tahun hak-hak mereka dikurangi secara bertahap. "Mereka tidak bersalah. Ini urusan dengki," ujarnya tanpa bersedia menjelaskan lebih lanjut.
Sahar dan Jawahir diwawancarai dalam acara televisi serupa menjelaskan pasokan mereka saat itu tinggal sedikit makanan kaleng dan pasta kering sudah kadaluarsa. Untuk air minum, mereka harus menyuling air laut.
Sahar berjilbab dan Jawahir terlihat kurus. Mereka sudah tidak mendapat layanan kesehatan selama empat tahun. "Sudah tiga tahun terakhir tidak ada orang lain di sini, Hanya saya dan Jawahir," tutur Sahar, 42 tahun. "Para pekerja dan pelayan sudah tidak ada."
Keduanya kini tinggal bersama dua anjing dan satu kucing. Karena pasokan makanan telah disetop, mereka harus mengirit agar bisa berbagi makanan dengan tiga hewan peliharaan mereka itu.
Kondisi Sahar bersama Jawahir masih mendingan. Situasi dialami Maha dan Hala jauh lebih buruk. Mereka sakit parah dan perlu pertolongan segera. keduanya sudah sepuluh tahun tidak mendapat perawatan kesehatan.
Maha dan Hala saban beberapa bulan menghubungi ibunya. Kejiwaan mereka tertekan. "Mereka tidak omong apa-apa kecuali, 'Saya ingin mati.' Itu saja saya dengar dari mereka: tangisan minta tolong," kata Alanud.
Mulanya Maha dan Hala ditawan di masing-masing vila sekompleks dengan istana tempat Sahar dan Jawahir disekap. Namun keduanya kemudian dipindahkan dari sana setelah Sahar dan Jawahir berusaha membebaskan mereka. Alanud mengaku tidak tahu di mana lokasi mereka.
Menurut Alanud, kesehatan Maha dan Hala terus memburuk lantaran makanan dan minuman keduanya dicampur obat Epidrin. Efek obat ini bisa menyebabkan orang marah-marah tak terkendali dan bersikap aneh. Sahar dan Jawahir juga mengalami nasib serupa.
Mereka berhasil menyadari hal itu dan mulai mengurangi makan makanan dari istana. Bukti kian kuat setelah pelayan seraya menangis mengakui mereka dipaksa untuk menaruh oabt dalam makanan buat empat anak perempuan Raja Abdullah itu.
Malang benar nasib keempat puteri itu. Untung saja aib dari dalam istana itu terkuak. Raja Abdullah begitu harum lantaran ramah menerima dan melayani tetamu Allah, kini tercoreng nista sebab memasung darah dagingnya sendiri.
(mdk/fas)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya