Afghanistan Jatuh ke Tangan Taliban
Merdeka.com - Mata dunia mengarah ke Afghanistan. Kelompok militan Taliban merebut pemerintahan dan membuat Presiden Ashraf Ghani melarikan diri ke Tajikistan, 15 Agustus 2021. Dia berdalih, kepergiannya untuk menghindari pertumpahan darah di Afghanistan.
Kondisi Afghanistan hari ini seperti kota mati. Suasana mencekam. Rakyat hidup dalam ketakutan. Banyak beredar video dan foto di media sosial. Memperlihatkan kekacauan di Kabul. Penduduk mengemas barang-barang mereka dan menarik uang. Mereka berbondong-bondong mencoba meninggalkan negaranya. Mengikuti jejak Presiden Ashraf yang sudah lebih dulu meninggalkan negara.
Seorang guru bernama Mostafa hanya bisa bersembunyi. Dia menceritakan kondisi ibu kota Kabul. Tidak ada pemerintahan, tidak ada aturan, tidak ada polisi, tentara, tidak ada siapapun. Situasinya menakutkan, panik, dan penuh dengan ketidakpastian.
Taliban bisa saja lepas kontrol. Bisa terjadi pembunuhan atau kejahatan lainnya. Karena tidak ada sistem yang bisa menangkap mereka. Warga tidak tahu lagi meminta perlindungan pada siapa. Amerika Serikat sudah menyatakan kalah dalam perang melawan Taliban.
Kondisi Afghanistan hari ini seolah puncak dari 20 tahun perang panjang di negara tersebut. Taliban memerintah Afghanistan dari 1996 sampai intervensi militer AS pada 2001. Pasukan AS masuk ke Afghanistan setelah tragedi 11 September.
Sepanjang periode 2011-2020, terjadi setidaknya lima kali perundingan. Kebanyakan gagal membuahkan kesepakatan. Pada Februari 2020, AS dan Taliban menandatangani kesepakatan untuk penarikan pasukan Amerika.
Setelah tentara AS meninggalkan negara itu pada Mei dan Juni 2021, Taliban mulai melakukan serangan dan kembali meraih kontrol di beberapa distrik di sejumlah provinsi. Hingga akhirnya menguasai istana Presiden.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya